2 tahun lalu · 145 view · 8 menit baca · Cerpen aa.png
Foto: lgrc.us

Ternyata Cinta yang Menyembuhkan

Hai, namaku Vino. Usiaku sekarang 28 tahun. Usia yang sudah cukup matang untuk berkeluarga. Tapi bagaimana aku bisa berkeluarga kalau sampai saat ini aku belum pernah berpacaran. Dulu saat aku masih menjadi mahasiswa banyak perempuan yang berusaha mencuri perhatianku, bahkan di kantor aku sangat populer di kalangan wanita.

Aku cukup percaya diri bahwa setiap wanita yang melihatku akan jatuh hati karena ketampananku. Hanya saja aku punya alasan yang membuatku terus tertahan untuk hidup sendiri. Alasan yang aku sembunyikan dari semua orang. Aku adalah anak tertua dari dua bersaudara. Aku mempunyai adik yang sangat cantik. kami hanya berbeda tiga tahun dan kau tahu aku benar-benar menyayanginya karena hanya dia saudara yang aku miliki.

Orangtua kami bekerja mengurus perusahaan di luar negeri. kami hanya bertemu satu tahun sekali, itu juga karena ada urusan kerja di Jakarta. Aku dan adikku tidak pernah merasakan kasih sayang dari mereka. Itulah yang membuat kami sangat iri dengan keluarga lainnya.

Secara jasmani kami bisa mendapatkan apapun yang kami mau, berapa pun uang yang kami butuhkan, tetapi secara rohani kami hanya anak-anak yang ditelantarkan karena kesibukan orangtua kami sehingga kami tidak merasakan arti keluarga dan kasih sayang yang tulus.

Raya

***

Pranggg.....

Aku melempar botol ke arah kaca riasku hingga pecah berkeping-keping. Aku menangis sesegukan, hatiku begitu hancur menerima kekalahanku dalam mempertahankan hubunganku dengan Ran. Ran pergi meninggalkanku hanya demi Vero sahabat Raya. Kau tahu betapa sakit yang kurasakan karena dua orang yang aku sayang mengkhianatiku?

Aku benar-benar di luar kendali. Aku merasa sangat kecewa akan semua pengkhianatan yang aku terima. Aku begitu mencitai ran. Bagaimana bisa hubungan yang sudah terjalin selama empat tahun hancur karena perselingkuhannya dengan sahahabatku. Aku duduk di sebelah pecahan kaca, rasanya lututku tak sanggup menahan beban tubuhku.

“Raya!” bang Vino mengetuk pintu kamarku, dan memanggil namaku berulang kali.

“Raya, kamu kenapa?” tanyanya lagi. Jujur saja aku ingin membuka pintu dan memeluknya tapi aku belum sanggup untuk berdiri. Mungkin bang Vino khawatir karena aku tidak menjawab panggilannya sehingga dia memutuskan untuk mendobrak paksa pintu kamarku. Melihatku menangis di antara pecahan kaca bang Vino segera memelukku.

“Mana yang luka? Ada yang sakit?” tanyanya. aku menggeleng-gelengkan kepalaku, setelah itu aku menunjuk ke dada dan berkata “Sakit di sini bang. Sakit banget.” Lalu aku menangis lagi. Setelah tenang aku menceritakan ke bang Vino atas segala penghianatan yang aku terima.

Bang Vino hanya diam, mendengarkan ceritaku, kemudian dia memelukku lagi  “udah Ray... kamu itu cantik. Kamu bisa mendapatkan cowok mana aja yang kamu mau. Asal kamu kuat dan mau melihat kehidupan yang jauh lebih nyata kamu akan mendapatkan kebahagian. Lupain Ran! kamu harus lanjutin hidup kamu lagi!”

Entah kenapa mendengar omongan bang Vino membuat sakitku bertambah dan tangisku semakin histeris. Saat itu bang Vino hanya terdiam dan kemudian dia memelukku dengan sangat erat.

Vino

***

Pagi itu aku bersiap untuk pergi kerja. Tetapi aku terhenti karena mendengar suara pecahan kaca dari kamar Raya. Tanpa banyak pikir aku langsung menuju kamar raya, mengetuk pintunya dan memanggil namanya tetapi tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara isak tangis yang begitu keras. Aku begitu khawatir hingga akhirnya aku mengambil keputusan untuk mendobrak pintu kamarnya.

Aku melihat raya duduk di sebelah pecahan kaca aku memeluknya dan menenangkanya. Aku bertanya apa ada yang sakit? Dan dia menunjuk dadanya dan mengatakan bahwa rasanya begitu sakit. Kau tahu betapa sakitnya melihat adik yang begitu aku sayangi menangis kesakitan karena hal yang tidak seharusnya?

Apa pun akan aku lakukan demi kebahagiaan raya. Aku terus berusaha menyadarkan raya untuk menerima kenyataannya. Tetapi hal itu hanya membuat tangisannya bertambah histeris. Aku yang bingung berusaha untuk menguatkanya lewat pelukan. Aku berharap raya bisa menjadi perempuan yang lebih kuat.

Raya

***

Aku tidak percaya akan apa yang aku alami. Baru kemarin pagi aku menangis karena penghianatan Ran pacarku dan sekarang aku tidak bisa berhenti tersenyum. Tadi malam Ran meneleponku. Dia meminta maaf atas segala perlakuan dan penghianatan yang dia lakukan. Dia berjanji tidak akan pernah menyakitiku lagi. Dia berjanji bahwa dia akan selalu setia dan mencintaiku sepenuhnya.

Kedengarannya memang bodoh tapi aku masih sangat mencintainya. Dan aku memaafkannya. Begitupun Vero tadi malam dia mengirimiku pesan yang panjang. Isinya adalah bahwa dia sangat menyesal dan merasa bersalah. Jujur aku masih merasa sakit tapi aku memutuskan untuk memaafkannya karena bagaimana pun aku sangat menyayanginya. Karena kami sudah bersahabat sejak umur enam tahun.

Aku mau membagi kebahagiaanku ini dengan Vino, abangku tercinta. Tapi anehnya, melihat kebahagiaanku dia hanya tersenyum tapi aku tahu itu adalah senyuman terpaksa. Senyuman yang menyakitkan. Ini membuatku merasa aneh. Seharusnya dia ikut bahagia dan memberiku selamat, tapi sebaliknya dia malah mengambil kunci mobil lalu pergi meninggalkanku.

Vino

***

Hari ini aku putuskan untuk cuti dan menjaga Raya. jujur rasanya bahagia melihat raya yang baru keluar dari kamarnya tersenyum bahagia. Dia menghampiriku dan bertanya “bang, tahu gak kenapa aku lagi ngerasa bahagia banget?”. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan bertanya “kenapa?”

“Aku balikan dong sama Ran, dia udah minta maaf ke aku. Oh iya aku juga udah maafin Vero.” jawabnya sambil tersipu malu. Aku terdiam mendengarkan cerita raya. Aku memaksakan agar diriku bisa tersenyum lalu aku mengambil kunci mobil ,pamitan dan pergi.

Aku kemudikan mobilku dengan kecepatan penuh. Di dalam mobil aku menangis dan berteriak kencang. Aku mau Raya melupakan Ran dan Vero. Aku mau Raya menjalani hidupnya seperti dulu lagi. Kini aku terlihat seperti pengemudi gila. Aku berhenti tepat di depan sebuah rumah praktik. Awalnya aku ragu apakah aku benar-benar siap melakukannya. Sampai aku meyakinkan diriku dan akhirnya aku masuk.

Aku meminta jadwal konsultasi dengan psikiater. Tak berapa lama namaku dipanggil aku masuk ke dalam ruangan. “Ada yang bisa saya bantu? ” tanya wanita cantik yang ternyata adalah seorang psikiater. Umurnya mungkin satu atau dua tahun di bawahku. Aku menangis lalu memegang tangan psikiater itu erat-erat “tolong saya... saya mohon sembuhkan adik saya.”

“Apa kamu sudah merasa lebih tenang?”tanya psikiater itu. Aku menganggukan kepalaku. “Sekarang ceritakan apa keluhanmu. Pertolongan apa yang harus saya berikan?”. Aku kembali terdiam. Aku menatap langit-langit lalu mulai bercerita. Kisah ini dimulai empat tahun yang lalu. Waktu itu tepat hari ulang tahun Raya yang ke-20 tahun. untuk merayakannya Ran dan Vero sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Raya.

Mereka sudah mempersiapkan tempat di vila milik Ran. Semua teman-temannya sudah menunggu di vila kawasan lembang. Ran dan Vero menjemput Raya. dan ketika mereka bertiga menuju vila kecelakaan itupun terjadi. Mobil yang mereka kendarai masuk ke dalam jurang. Beruntung Raya bisa selamat karena dia terpental dari dalam mobil tapi Ran dan Vero terjebak di dalam mobil.

Orang- orang yang lewat segera memanggil bantuan karena melihat ledakan yang besar. Saat itu Raya pingsan dengan luka di sekujur tubuhnya. Ledakan itu menyebabkan pacar dan sahabatnya meninggal. Sejak saat itu Raya tak pernah sekalipun mau bersosialisasi dengan siapa pun. Dia terus menjauhi keramaian. Raya menjadi sangat tertutup dan...” aku terdiam ,tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

“dan...?” ulang psikiater menantikan terusan ceritaku.

Aku menarik nafas panjang dan akhirnya melanjutkan ceritaku “dan dia seperti punya dunia hayalan. Dunia yang tercipta sesuai keinginanya”.

“semacam skizofrenia mungkin” kataku lagi.

psikolog mengerutkan dahinya “sudah pernah diperiksakan untuk lebih jelasnya?”. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Lalu sang psikiater memberiku beberapa saran.

Di dalam mobil aku mengutuki diriku sendiri. Psikiater itu benar. Seharusnya sehabis kecelakaan itu aku membawa Raya untuk konsultasi bukan menyembunyikan semua ini dari orang-orang sampai empat tahun lamanya sehingga semakin lama sakitnya bertambah parah. Saat-saat seperti ini tidak bisa lagi di selesaikan sendiri aku menekan tombol di handphonku

“halo papa. Ada yang perlu aku omongin. Ini tentang Raya.” kataku sambil memandang keluar mobil dan lagi lagi aku menangis.

***

Keesokan harinya papa dan mama tiba di indonesia. Aku sudah menceritakan semuanya dan terlihat ada raut wajah penyesalan dari mama dan papa. Bahkan mata mama terlihat sembab. “Ayo masuk pah, ma. Raya ada di dalam”. Mama dan papa langsung menuju ruang tamu. Dilihatnya Raya yang sedang tersenyum dan tertawa bahagia.

“Eh, papa sama mama  kok udah pulang?” tanya raya yang kaget karena melihat kedua orangtuanya yang sudah berdiri di depannya. “Oh iya. Pah, ma kenalin ini ran pacar aku. Katanya dia mau ngajak aku tunangan tapi karena belum pernah ketemu papa sama mama jadinya dia masih ragu” jelas Raya. mendengar perkataan raya membuat papa dan mama terkejut. Tidak ada seorang pun yang ada di ruangan itu. Dari tadi Raya hanya tertawa dan berbicara sendiri.

Mama menangis sampai tidak kuat untuk berdiri lagi, bahkan papa sampai harus menopang dan memeluk mama berharap agar mama bisa lebih kuat. Dan aku hanya terdiam menyaksikan keluargaku yang kini terlihat benar-benar menyedihkan. Aku akhirnya menarik tangan raya. meski dia menolak aku tidak peduli. Mama dan papa mengikutiku dari belakang. Mungkin mereka mau bertanya kemana aku akan membawa raya tetapi rasa penasaran itu ditahannya.

Aku melajukan mobilku dengan kencang dan berhenti di sebuah pemakaman umum di daerah pondok ungu. Aku menarik tangan Raya hingga berhenti di sebuah batu nisan bertuliskan nama ran hasudungan dan di sebelahnya ada batu nisan bertuliskan Vero rembulan. Raya terdiam menatap nama yang tertulis di batu nisan itu.

“Kamu harus sadar Ray! Ran dan Vero udah meninggal empat tahun yang lalu dan kamu harus melanjutkan hidup kamu. Buang jauh-jauh dunia hayalan yang udah kamu ciptakan. Ini untuk masa depan kamu!” teriakku pada Raya akhirnya. Raya terus saja menggeleng-gelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak percaya akan apa yang sedang dilihatnya.

Dia menangis histeris. Papa dan mama memeluk Raya sambil menangis. “Maafin kami yah nak, selama ini kami terlalu sibuk hingga tak menyadari bahwa permata hati kami sedang terluka”ucap papa. “maafkan kami nak,maafkan kami!” ulang mama sampai berkali kali dengan berurai air mata.

Sejak saat itu mama memutuskan untuk berhenti bekerja, papa mengambil cuti panjang dan akhirnya memilih untuk mengurus perusahaan di jakarta. Sebanyak mungkin waktu yang kami punya hanya untuk Raya. Konsultasi terus dilakukan, obat-obatan yang diberikan terus diminum. Untungnya Raya memiliki keinginan untuk sembuh. Seringkali Raya bingung untuk menentukan mana yang nyata atau tidak tapi kami semua selalu ada disini menemaninya.

Sekarang tidak ada lagi yang menghalangiku untuk memikirkan niat untuk  berkeluarga. Mengurus Raya membuatku semakin dekat dengan Dea. Kau tahu dea? Psikiater yang selama ini menjadi tempatku dan Raya untuk berkonsultasi. Orang yang memberiku saran terbaiknya sampai akhirnya aku menemukan arti tentang cinta, kasih sayang dan betapa pentingnya keluarga untuk kehidupan.

Artikel Terkait