Hanya Tentangmu

Malam menampilkan pesonanya, semisal seorang ibu yang menimang anaknya

Pada pekat dirinya engkau lelap terbuai.

Lalu pada suatu ketika yang hening.

Keasingan kita bertemu.

Sebuah tatapan pertama;

Cikal bakal kisah kita.

Adalah aku yang pertama kali menemukan separuh degupku pada matamu kala itu.

Semisal musim semi;

Senyum di wajahmu membawa kabar baik. Tentang asa dan rasa di hatiku.

Malam menampilkan pesonanya;

Bersolek ia bagai seorang kekasih yang datang untuk

menemui kekasihnya;

Lalu pada pelukannya sang kekasih dibiarkan jatuh dan terlena.

Lalu pada suatu ketika;

Degup jantungku pernah terhenti, demi menatapmu yang indah itu.

Kau berjalan pada taman bunga, pesonamu kian kentara.

Bunga-bunga pada sisimu layu, terlalu malu untuk sejajar di dekatmu.

Semisal itu malam dan engkau;

Memesona, tempat pulang hatiku dari segala duka lara.

 

Melodi

Dalam senyap yang padanya kutuangkan setiap rasa. Apabila malam terus memaksaku tetap menapaki jejak pada sebuah nama. Dari semua rangkaian pernak-perniknya yang fana. Sosokmu abadi mengakar ke dalam rapuhnya relung kelemahan.

Tak pelak dirimu bukan sekadar apa yang dinantikan. Jika memiliki tak lebih baik dibanding kesungguhan. Aku lebih baik tidak memiliki Seperti atap menjadi tempat pernaungan. Kita sama-sama menatap arah serupa. Meski kita masih mencari tahu segala kemungkinan dalam belantara kehidupan. Kelak, kita akan temukan goresan yang masih bersemayam.

Seumpama udara, menitipkan nyawa kepada jiwamu. Segala hal yang memampukanku untuk tenggelam. Adalah mercusuar beriring hasrat yang tak dapat kujabarkan. Dengan bait-bait inilah, yang terus memaksaku agar mengail setiap isi dari kepala.

Pada tiap kehadiranmu yang mewarnai luas lautan. Aku terbawa arus gelombang. Mengalahkan badai yang sigap untuk setiap saat membelah gelombang kemarahan. Berlabuh adalah satu hal yang paling kudambakan usai panas nan terik. Bersimpuh kala dingin nan gulita.

Barangkali ibarat melodi piano menenggelamkan ruang tersisa. Pancaran kasihmu memainkan tangga not terindah; mengusir ketidakberdayaan.

Memulai Awalan

Seperti benam berganti terbit. Kisah ini sudah dimulai. Aku pupuk perasaan ini. Perbincangan itu menjadi pembuka untuk setiap kemungkinan memoar sejarah yang sedang menanti.

Aku bersedia untuk menjadi rumah, aku ada untuk menjadi teman minum; selain kopi yang tak kau sukai, aku akan menjadi teman keliling Jakarta jelang senja, aku selalu menjadi tempatmu datang kala hari-harimu yang panjang.

Laila, aku mau bab dari setiap kisah kita menjadi episode yang selalu menarik. Menabur harapan pada tiap-tiap yang berjiwa untuk tak lelah dalam kasih. Mengantar lelapnya gemintang kepada puncak yang baru. Sampai kurasa lemah kaki kanan dan kiriku.

Jarak dan waktu tak akan pernah menghalangi tujuan kita untuk saling menggenapkan. Bersama merangkai kemuliaan pada bagian akhir apabila waktunya telah tiba. Sampai jemari tak mampu menuliskan kalimat per kalimat, sampai kita mengajarkan abjad yang tereja kepada jiwa lain yang baru tumbuh, sampai terekam sempurna satu hari dimana namamu kusebut dengan lantang.

Menantikan Waktu

Kemelut imajinasi beriring nostalgia.

Hening berparu dengan sosokmu puan yang tak terus menyatu dalam sukma.

Andai mata itu senantiasa teguh mengabadikan jejak kepada setiap langit yang setia membentang.

Entah bagaimana aku mampu melepas kehendak yang terlipat dalam bisu.

Setiap hari, pada setiap detik yang merambat.

rindu yang tak pernah bisa kusampaikan adalah warna terindah yang pernah kau tempatkan

Aku kini adalah pegemis waktu yang tak lelah mengejar menit-menit yang lalu untuk berpadu dengan senyummu.

Aku kini juga adalah pengembara asing yang gemar menghimpun puing cerita pada episode kehadiranmu.

Semoga

Ini sebuah surat, aku tulis untukmu.

Kelak, jika kau berkenan, maka bacalah.

Aku menyayangimu dari jarak ini.

Ingin juga kuceritakan tentang sebuah rindu yang tak pernah kumengerti sebab kemunculannya.

Menjadi samar-samar, benarkah aku dirindukan apa aku yang sering merindukan.

Wangi tubuhmu senantiasa segar dalam penciumanku.

Bahkan, jalan-jalan yang biasa kau lewati, tiada jemu aku susuri demi membunuh rindu.

Di setiap titik temu yang pernah datangi berdua, wajahmu masih berbinar di kepalaku.

Jika pada hari kemarin adalah taman duka lara yang kujaja;

Semoga tidak dengan hari ini.

Perihal begitu meluasnya segala bentuk buaian yang membumbung ke angkasa.

Menyerahkan amunisi kepada sang pembawa takdir.

Jika pada hari ini adalah samudera cita dan cinta yang kuarungi;

Semoga juga terjadi dengan esok.

Derasnya misteri-misteri yang terselubung pada setiap masa.

Meletakkan ingin hanya pada satu harap.

Jika

Jika aku tak berhenti memainkan biola ini,

ingatkan aku bahwa lonceng telah menandai.

Atau, jika engkau turut menikmati.

Menarilah dan hadiahkan senyummu.

Andai aku tahu sejak awal,

bahwa memilihmu, sama artinya memeluk semesta.

Aku pasti bisa merayakan kecewa dengan lebih tenang.

Aku kini berada di tempat yang paling tiada.

Indah melebihi bumi dan seisinya.

Tetapi, jika aku terlalu jauh; hilang dan tenggelam,

bantu aku menyembuhkan diri darimu.

Ajari aku caramu berpamitan; yang tak pernah akan kusesalkan.

Selesaikan tugasmu. Hingga dunia berkabung mengabadikan indahnya namamu.