Jakarta, Di kampung tempat saya tinggal ternak kerbau bagian kegiatan masyarakat di masa tua, dengan mengisi kekosongan waktu atau meluangkan waktu untuk berteman bersama hewan peliharaan. Yang mana pemeliharaan ternak kerbau ini harus bertanggung jawab memiliki tempat atau kandang kerbau, "tidak dilepas bebas" namun tetap dalam pengawasan oleh pemilik kerbau tersebut.

Sistem kepemilikan ternak kerbau ini bisa menjadi milik pribadi dan kerja sama dengan memelihara ternak kerbau milik orang lain kemudian hasil bagi dua, setelah kerbau tersebut berkembang biak. Biasanya kecepatan ternak kerbau berkembang biak bila di pasangkan antara kerbau "jantan dan kerbau betina" dengan penjadwalan pemeliharaan pagi hari dilepas dari kandangnya sedangkan sore hari memastikan kerbau tersebut pulang ke kadang.  

Di tengah pandemi Covid-19 yang dihadapi oleh masyarakat kampung, ternak kerbau bagian kegiatan "membangkitkan imun tubuh agar tidak terdampak atau terkena penularan virus Covid-19". Dengan berjalan kaki mencari hewan ternak di pinggiran hutan yang ada dikampung merupakan aktivitas olahraga ringan, budaya masyarakat kampung ternak kerbau ini bisa digunakan juga untuk tabungan biaya umroh, haji, atau biaya keperluan darurat lainnya.
*** 
Selain itu, ternak kerbau menjadi kebanggaan masyarakat juga yang bisa digunakan atau diperjual belikan pada saat lebaran "Idul fitri dan Idul adha" baik dijual perekor maupun dijual dengan kondisi kerbau tersebut dalam keadaan sudah terpotong. Keperluan lainnya akan bermanfaat juga atau difungsikan untuk "acara khitanan, persedakahan, perkawinan" sahabat, keluarga, sanak saudara masyarakat dikampung lainnya.

Terkadang masyarakat menganggap ternak kerbau "bagian dari hoby" karena di masa tua tidak ada aktivitas yang signifikan atau tidak ada kegiatan yang berarti. Atau memang ternak kerbau tersebut sebagai harta warisan dari kedua orang tuanya, sehingga diteruskan kepada anak-anaknya. Hal ini sebagai investasi masa tua dengan aktivitas melihara ternak kerbau dan sebenarnya "pemilik ternak kerbau ini tidak harus mempunyai harta yang banyak atau menjadi kaya raya" dikampung tersebut.

"Tantangan pemilik ternak kerbau" atau masyarakat yang melihara hewan ternak kerbau seperti buang air besar ditengah jalan kampung atau buang air pinggir rumah warga masyarakat kampung. Sering juga ternak kerbau tersebut masuk ke ladang dan sawah masyarakat atau lahan pertanian seperti kebun buah-buahan, sawit dan lain sebagainya. Ini menjadi tantangan bagi pemilik masyarakat pemilik ternak kerbau.
*** 
"Tentunya ini menjadi "ocehan atau omongan masyarakat kampung" seolah-olah pemilik ternak kerbau tidak melihara ternaknya dengan baik, oleh karenanya kerbau tersebut buang air sembarang tempat atau masuk lahan pertanian masyarakat lainnya". Ini perlu ditanggapi serius juga, karena pemilik ternak kerbau tidak bersama 24 jam dan perlu disadari juga, namanya juga hewan pasti ada aja yang "aneh dan nyaleneh".  
*** 
"Yang lebih ekstrim lagi pemilik ternak kerbau perlu mengambil resiko yang besar" bahwa ternak kerbau tersebut sering dicuri atau diambil oleh masyarakat lainnya baik malam hari maupun siang hari. Pernah juga kesempatan ini di manfaatkan oleh "pelaku kriminal malam hari" dengan melakukan pemotongan kerbau didalam kandang bahkan ternak kerbau tersebut "pernah diberikan racun dan di siram dengan air keras juga".

"Ternak Kerbau Hubungan Dengan Pengemudi Jalan Raya atau Jalan Lintas Sumatera" :

Kejadian lalu lintas menjadi fenomena yang sangat luar biasa sehingga menyebabkan kecelakaan kendaraan yang melintas di kawasan atau wilayah "Kabupaten Musi Rawas Utara - Sumatera Selatan". Kecelakaan lalu lintas, dikarenakan ternak kerbau berada di "jalan lintas sumatera baik sedang menyeberang jalan atau hanya melintasi di pinggir jalan lintas tersebut", ini lah faktor utama penyebab kecelakaan jalan lintas sumatera tersebut.
*** 
Namun dari hal lain bisa saja pengemudi mengalami kondisi "ngantuk berat dengan kecepatan tinggi atau kesalahan lainnya". Tingkat kecelakaan boleh dikatakan sering terjadi yang mengakibatkan "korban di larikan kerumah sakit dan/atau sampai meninggal dunia dalam kondisi kendaraan rusak yang cukup parah". Ini lah yang menyebabkan kekhawatiran pemilik ternak kerbau, bisa bertanggung jawab atas kecelakaan atau kejadian tersebut.

Walaupun rambu-rambu pinggir jalan lintas sumatera sudah "terpasang" sebagai imbauan dan peringatan untuk pengemudi kendaran agar lebih berhati-hati dengan memperhatikan adanya ternak kerbau, di pinggir jalan lintas sumatera baik yang sedang melintas maupun yang tidak terlihat. Sehingga ini menjadi serius untuk ditindak lanjuti oleh pemerintah daerah dan menjadi perbincangan yang hangat dari warga masyarakat sekitar.
*** 
Dengan demikian, beberapa komentar dari masyarakat melalui media sosial seperti "menyampaikan pemilik kerbau tidak melihara ternaknya dengan baik, memberikan saran kepada pemerintah terkait ternak kerbau yang membuat kecelakaan di jalan lintas sumatera dan lain sebagainya". Dan pada intinya tetap pemilik kerbau yang salah, karena ternak kerbau tersebut membuat pengemudi kecelakaan di jalan lintas sumatera.

Imbauan Pememerintah Daerah Tentang Penertiban Hewan Berkaki Empat "Kerbau" :

"Berdasarkan surat edaran : nomor 106/04/Sat-Pol PP/ 2021 dan menindaklanjuti peraturan daerah No 11 tahun 2017 tentang peraturan penertiban hewan berkaki empat". Dalam hal ini yang dimaksud adalah "Kerbau" namun termasuk hewan yang lainnya juga seperti Sapi, Kambing, Domba dan sejenisnya.  
*** 
"Adapun isi surat edaran dan peraturan daerah tersebut adalah : Bahwa dalam rangka menjaga ketertiban umum dan pemeliharaan hewan ternak di Kabupaten Musi Rawas Utara di pandang perlu diadakan penertiban dan pengawasan terhadap hewan ternak tersebut.
*** 
Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a maka perlu penetapan peraturan daerah tentang penertiban pemeliharaan hewan berkaki empat dalam Kabupaten Musi Rawas Utata.
*** 
Pada pasal 14 ayat 1 huruf a dan ayat 2 huruf a dan b, ternak yang diterbitkan dan/atau diamankan oleh petugas diambil oleh pemiliknya setelah dikenakan sanksi administrasi berupa denda serta biaya pemeliharaan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan denda tersebut merupakan penerimaan negara.
*** 
Pada pasal 1 ayat 2, setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana yang dimaksud, maka akan dipidana dengan kurungan paling lama 3 (tiga) bulan kurungan atau denda paling banyak Rp.50.000.000 (lima puluh juta rupiah).

Dari imbaun pemerintah daerah "khususnya Kabupaten Musi Rawas Utara" semoga memberikan solusi bagi masyarakat kampung "walaupun sudah di peringatkan secara tegas pemerintah menyampaikan melalui surat edaran dan aturan pemerintah daerah". Agar setiap pemilik ternak kerbau wajib mengikuti imbauan dari pemerintah tersebut, belum tau juga kerbau tersebut mau di apakan yang jelas saat ini belum ada solusi yang terbaik untuk masyarakat Musi Rawas Utara khususnya pemilik ternak kerbau.

Karena masyarakat masih membutuhkan kegiatan atau aktivitas memelihara ternak kerbau tersebut, walaupun akhirnya ditertibkan oleh pemerintah. Setidaknya seluruh pemilik ternak kerbau Musi Rawas Utara diberikam sosialisikan secara persuasif dan solusi yang menguntung bagi pihak yang mempunyai ternak kerbau.

Penulis : Noto Susanto