Sejak platform Terminal Mojok dirilis pada 2 Mei 2019, telah tercatat bahwa pada hari ini (22 Juli 2020), Terminal Mojok telah mencatatkan sebanyak 4.610 tulisan dari 461 halamannya. Angka ini tergolong fantastis, mengingat kolom yang dikhususkan untuk para pembaca setianya yang sekaligus mengadu peruntungan menjadi penulis indie ini baru dirilis sejak setahun yang lalu.

Jika kita buat kalkulasi secara rerata dari 4.610 tulisan yang telah di-publish itu dibagi dengan jumlah hari yang telah ia lalui setahun belakangan ini, yakni sebanyak 430 hari, maka setidaknya ada kira-kira 11 tulisan yang telah dipublikasikan oleh editor setiap hari. Hitungan ini tentunya belum ditambah dengan tulisan yang tidak masuk kualifikasi atau dikembalikan lagi pada penulisnya—yang saya sendiri pun pernah mengalaminya.

Para penulis Mojok ini rata-rata memiliki mental baja saat menulis dan mengirim tulisan. Jiwa-jiwa mereka seakan telah kebal terhadap penolakan. Dalam prinsip mereka, begitu tulisan ditolak, ya berusaha lagi. Tulisan tidak terbit, ya tinggal buat lagi yang lainnya dan kirim lagi. Tidak perlu diambil pusing dan berkecil hati sebab semuanya akan tiba masanya.

Mental baja para penulis indie Mojok ini rupanya sebanding dengan apresiasi yang telah diberikan oleh media ini pada mereka. Kita tahu sendiri bahwa Mojok termasuk media yang loyal dalam mengapresiasi karya dari para penulisnya. Setiap penulis yang karyanya telah terbit sebanyak 10 artikel di media ini, maka ia akan mendapatkan 10 poin yang setara dengan honor senilai Rp200.000. Strategi Mojok ini saya kira sangat baik demi merangsang produktivitas para penulisnya.

Penulis akan mendapatkan kompensasinya manakala telah berhasil menelurkan setidaknya 10 karya yang diterbitkan di kolom Terminal Mojok ini. Dan dengan sejumlah karya itu, ia pun berhak mengajukan klaim pencairan honor kepada ibu bendaharawan, Mbak Dina.

Jika ada penulis yang berbaik hati atau malas mengajukan klaim honor tulisan, maka meskipun ia telah menulis sebanyak 300 tulisan dan menjadi raja cabe sekalipun (((Mas Seto apa kabar?))), tidak mungkin ia akan mendapatkan honornya. Sebab, honor baru dapat dicairkan manakala sudah ada klaim dari penulisnya. Penulis yang berhak mendapatkan honor namun tidak mengajukan klaimnya ini, anggap saja ia sedang melakukan kerja sosial sehingga tidak perlu dibayar.

Dari 10 karya yang termuat di Terminal Mojok, maka media ini tidak segan-segan untuk menggelontorkan dana segar senilai Rp200 ribu. Atau jika dibuat hitungan rata-rata, nilainya sekitar Rp20 ribu per tulisan. Lumayan besar, kan?!!

Saya iseng-iseng membayangkan, jika setiap penulis yang ada di kolom ini telah diapresiasi karyanya, maka kita akan menemukan hitungan 4.610 dikalikan Rp20 ribu adalah sebanyak Rp92.200.000. Sungguh angka yang tidak main-main untuk media yang sangat mengapresiasi para pembaca dan penulis setianya itu.

Tapi, eits, tunggu dulu! Sekali lagi kita harus ingat, bahwa yang berhak mengajukan klaim honor tulisan ini adalah mereka yang setidaknya memiliki 10 karya yang telah diterbitkan di kolom ini. Dan sudah barang tentu, mereka yang akumulasi karyanya kurang dari jumlah itu, maka harus bersabar dan berusaha lebih giat lagi supaya tulisannya memenuhi jumlah klaim minimal, yakni 10 tulisan.

Dalam tulisan ini, tentu saja, saya tidak mungkin akan mengulas secara detail siapa saja yang karyanya sudah memenuhi setidaknya 10 tulisan itu, dan apalagi siapa saja telah mengajukan klaim, mengingat saya sendiri bukan seorang bendahara Mojok yang selalu mengurusi anggaran keuangan.

Namun yang menjadi titik penekanan saya dari tulisan ini adalah mengenai media ini yang benar-benar telah memberikan dedikasi yang luar biasa pada para pembaca maupun para kontributornya. Dan dedikasi ini belum lagi ditambah dengan penghargaan yang diberikan pada mereka yang mengirimkan artikel di kolom utama Mojok, yang konon besarannya bisa digunakan untuk nraktir seseorang di warung yang cukup elite itu. Tentu bertambah besarlah anggaran yang telah Mojok keluarkan.

Maka tidak mengherankan, jika hal ini kemudian berimbas pada lahirnya persaingan yang lumayan ketat bagi para kontributornya untuk dapat menembus relung hati editornya sehingga tulisan mereka dapat dimuat di media ini. Meski persaingan itu tidak seketat seleksi ujian CPNS, tentunya. Para penulis kelas cabe hijau, termasuk saya ini, yang tidak memiliki nama yang gahar dalam dunia literasi ini tentu akan sangat sulit untuk dapat lolos dari seleksi tim editor.

Saya menganggap ini adalah berkah yang teristimewa bagi Mojok dan merupakan tantangan tersendiri bagi para kontributor. Keberkahan yang harus diimbangi oleh para editornya untuk bisa bersabar saat berpenat ria membaca dan menyeleksi tulisan-tulisan yang masuk. Dan tantangan yang mengasyikkan bagi para kontributornya untuk mampu menyusun karya tulis yang khas Mojokiyyah.

Meski mungkin katanya setiap penulis boleh mewarnai media ini dengan karakter tulisannya sendiri, saya kira hal ini tidak terlalu demikian. Sebagai buktinya, beberapa tulisan yang telah saya susun dengan gaya yang agak formal, nyatanya sulit untuk dimuat. Meski dari konten dan tata bahasanya, saya menganggapnya sudah cukup baik. Sementara beberapa artikel yang saya tulis dengan gaya sedikit slengean dan agak nyentil pada akhirnya justru lebih mudah dimuat di media ini.

Ya apa pun alasannya, Mojok tetaplah Mojok. Biarkan media ini terus tumbuh dengan gaya khasnya, dengan penulis dan para pembacanya sendiri. Mungkin saja ia berkarya dengan mengadopsi sebuah pepatah dari Arab, kholif tu’rof. Berbedalah niscaya kamu akan dikenal!

Dengan gaya khasnya yang cerdas tapi sedikit nakal itu, biarlah ia tumbuh sebagai media yang mbeling tapi berwawasan. Mungkin saja, dengan berbekal sedikit kenakalan dan membludaknya akal cerdas itu, akan menjadi senjata andalan baginya untuk menghadapi kenakalan-kenakalan kelas kakap yang terus menghinggap di negeri ini.