Semua orang pasti pernah merasakan terluka hingga akhirnya trauma. Terluka cukup dalam hingga enggan untuk bangkit kembali. Merasakan pengalaman yang membuat diri membenci untuk menjalani hidup dan mengutuk diri saat ada secuil kesalahan yang diperbuat.

Bawaan ingin menangis, marah dan ingin mengungkapkan segalanya tapi harus terpaksa diurungkan. Kebencian yang cukup dalam terhadap diri sendiri dan suka membandingkan diri dengan orang lain.

Membandingkan pencapaian yang didapat dengan oranglain sehingga merasa semua yang dilakukan seakan sia-sia dan percuma. Meragukan kebisaan diri karena melihat keunggulan orang lain justru semakin membuat luka lebih dalam.

Terluka, terluka dan terluka hingga akhirnya terbuka. Katanya, terluka itu adalah proses pembiasaan diri hingga akhirnya menemukan suatu titik pencapaian rasa yang dinamakan kebahagiaan. Orang bahagia tuh, butuh proses. Proses yang dimana wajib banget ngerasain terluka.

Pernah denger katanya Tan Malaka seorang revolusioner Indonesia tentang sebuah progress yang sangat memotivasi, kata-katanya tuh seperti ini, “terbentur, terbentur, terbentur lalu terbentuk.”

Umumnya seseorang yang telah mencapai kebahagiaan pasti pernah mengalami hal ini, sebelum terbentuk jadi lebih baik maka sebelumnya ada yang namanya proses terbentur, terbentur, terbentur.

Progres terbentur hingga terbentuk sungguh menjadi motivasi awal untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Terluka pun sebelumnya adalah proses awal sebelum bahagia bukan? Kepahaman mengenai terluka disini mencakup perasaan diri yang selalu merasa salah dan tidak punya pendirian kuat dalam menjalani hidup.

 Orang yang tertutup dan tidak pernah mau memberikan penghargaan kepada diri sendiri ketika telah menggapai suatu pencapaian. Selalu merasa lemah dan dikucilkan dari lingkungan. Merasa tidak sanggup bersaing dan tidak ingin berprogress lebih lanjut.

Terluka, semua orang pernah terluka tanpa terkecuali baik aku, kamu bahkan semua orang. Terbiasalah dengan terluka dan mencobalah untuk terbuka. Setiap orang yang terluka pasti memiliki suatu masalah dalam hidupnya.

Entah itu soal pekerjaan, keluarga bahkan cinta. Oleh karena itu, mulailah untuk terbuka. Baik kepada teman, sahabat, keluarga bahkan pacar yang sangat kamu percaya untuk menerima keluh kesah lukamu.

percayalah, setiap luka yang terbuka akan ditutup oleh suatu kebahagiaan. Setiap luka yang terbiasa lambat laun akan terobati dengan sendirinya. Luka akan menjadi duka jika enggan terbuka. Luka akan menjadi trauma jika tidak dilawan. Luka akan menjadi kelemahan jika tidak ada support system yang baik.

Maka, jadikanlah luka itu teman, jadikanlah luka itu suatu proses memperbaiki diri. Jadikanlah luka itu suatu langkah untuk berjalan lebih jauh lagi. Terluka untuk terbuka, selalu ingat bahwa luka yang ada itu ada obatnya.

Kamu hanya perlu terbuka dan menyatakan apa yang kamu rasa. Ingat juga jika memendam terlalu dalam maka luka akan semakin membesar. Ada satu cerita tentang luka. Sebut saja dia cantik jelita.

Ia adalah seorang yang terluka sangat dalam hingga memutuskan untuk tampil biasa saja, ia ini sangat kuat hingga semua orang yang mengetahuinya bahkan mengenalnya tak ada yang tau luka apa yang ia dapatkan.

Ia sangat tegar hingga mampu menjadi contoh untuk wanita lainnya. Ya, ia seorang wanita. Kalian mau tahu apa luka yang ia dapatkan? Jika aku sebutkan mungkin kalian tak kuasa membacanya.

Mulai dari keluarga, cinta dan hubungannya bersama teman cukup membuatnya trauma untuk menjalin kepercayaan lagi. Kita mulai dari keluarga, hubungannya dengan keluarga cukup terlihat baik jika dipandang oleh teman dan orang di sekitarnya.

Namun, dibalik itu semua. Ternyata ia dan keluarga sedang tak baik-baik saja. Ia dituntut untuk menjadi orang yang selalu sempurna, ia harus meraih juara dan harus mendapatkan nama di setiap sekolah yang ia tempati.

Ia diharuskan mendapatkan nilai terbaik dan waktu bermain pun dibatasi. Hidupnya di rumah hanya belajar, belajar dan belajar. Di luar pun ketika sedang bermain dengan teman-temannya ia hanya bisa menanggapi dengan merespon sedikit bahkan hanya dengan senyuman singkat ketika ada temannya yang membuat lelucon.

Menurut teman-temannya itu wajar, karena meski ia bermain sambil mengerjakan tugas setidaknya ia acuh setiap kali ada yang mengajaknya bicara. Sementara dalam hubungan percintaan, ia pernah menjalin cinta dengan seorang yang sempat ia kagum sebelumnya.

Setelah menjalin hubungan semakin dekat hingga akhirnya mereka berpacaran. Ada rasa nyaman dalam dirinya sehingga setiap keluh kesah yang ia punya ia ungkapkan. Ia seakan menjadikan lelaki ini rumah untuk pulang.

Namun, sayangnya hal yang membuatnya nyaman harus berakhir cepat karena lelaki yang ia kagumi harus melanjutkan pendidikannya ke luar kota. Jujur ia sedih dengan keputusan lelaki yang ia kagumi itu, menurutnya hal itu hanya alasan si lelaki karena dari awal hubungan  mereka tanpa ada restu dari orang tua.

Ya, lagi-lagi mengenai keluarga. Rasanya semakin dewasa hidupnya semakin dikekang, ia tahu ia adalah harapan satu-satunya di keluarga. Ia tahu jika ia menolak, sama saja dengan ia menyakiti kedua orang tuanya.

Ia pun memutuskan untuk pasrah. Ia membiarkan hanya dirinya saja yang terluka. Ya, hanya dirinya. Seiring berjalannya waktu, tak ada yang tahu mengenai hubungan dan  kabar si cantik jelita.

Ada kabar bahwa ia telah bahagia. Pencapaian akhirnya telah terpenuhi dan kekangan orang tuanya telah berakhir. Ia kini menjadi gadis yang sukses. Ia percaya bahwa terluka yang ia alami ada untuk akhirnya terbuka.

Terluka untuk terbuka. Dari cerita artikel ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa adakalanya luka perlu dipendam hingga pada saatnya untuk terbuka. Ada saatnya suatu masalah datang hingga akhirnya dapat ditemui solusinya.

Baca Juga: Dialog Malam Ini