Beberapa waktu yang lalu Menteri Agama Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin mengeluarkan beberapa poin seruan tentang tata cara berceramah. Berikut isi seruan yang dibacakan Menteri Agama di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Jumat (28/4/2017):

  1. Disampaikan oleh penceramah yang memiliki pemahaman dan komitmen pada tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi martabat kemanusiaan serta menjaga kelangsungan hidup dan perdamaian umat manusia.
  2. Disampaikan berdasarkan pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama.
  3. Disampaikan dalam kalimat yang baik dan santun dalam ukuran kepatutan dan kepantasan, terbebas dari umpatan, makian, maupun ujaran kebencian yang dilarang oleh agama mana pun.
  4. Bernuansa mendidik dan berisi materi pencerahan yang meliputi pencerahan spriritual, intelektual, emosional dan multikultural. Materi diutamakan berupa nasehat, motivasi dan pengetahuan yang mengarah kepada kebaikan, peningkatan kualitas ibadah, pelestarian lingkungan, persatuan bangsa serta kesejahteraan dan keadilan sosial.
  5. Materi yang disampaikan tidak bertentangan dengan empat konsensus bangsa Indonesia, yaitu; Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.
  6. Materi yang disampaikan tidak mempertentangkan unsur SARA (suku, agama, ras, antargolongan) yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu kerukunan ataupun merusak ikatan bangsa.
  7. Materi yang disampaikan tidak bermuatan penghinaan, penodaan dan atau pelecehan terhadap pandangan, keyakinan dan praktik ibadah antar atau dalam umat beragama, serta tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, intimidatif, anarkis dan destruktif.
  8. Materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis dan atau promosi bisnis.
  9. Tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku terkait dengan penyiaran keagamaan dan penggunaan rumah ibadah.

Sembilan poin di atas sangat bagus ya untuk mengingatkan kita apa tujuan sebenarnya Agama karena zaman sekarang banyak orang yang lupa arti “Beragama” yang sesungguhnya. Akan tetapi, kenapa seruan itu dikeluarkan saat ini dan bukannya dari dulu?

Kita lihat dari poin 1-7, di sana dikatakan kalau pemuka agama dalam menyampaikan ceramahnya dengan pemahaman yang baik akan isi dari ajaran agamanya, sopan, mendidik, tidak berunsur SARA, diskriminatif, intimidatif, anarkis, dan lain sebagainya.

Selama ini yang sering aku lihat pemuka agama banyak yang pendalaman agamanya masih kurang, tetapi sok merasa paling tahu segalanya seakan-akan dia itu Tuhan. Dia juga berani menyalah-nyalahkan agama lain ketika berceramah. Hahaha, aku sangat ingin tertawa jika melihat ada orang seperti ini.

Dia yang bahkan tidak tahu apakah dia masuk surga atau tidak nantinya, berani-berani nya menyalahkan agama lain dan mengatakan kalau ajarannya saja yang paling benar. Okelah, Agama yang kamu anut itu menjanjikan surga, tetapi bagaimana dengan perbuatanmu selama di dunia, masih yakin bisa masuk ke tempat itu? Apa lagi dengan menyerang kepercayaan orang lain?

Pemuka agama saja suka mengajarkan kebencian, apalagi dengan penganutnya yang awalnya  tidak seperti itu. Akan tetapi, karena “Hasutan” dari si pemuka agama mereka jadi “Ikut-ikutan” menebarkan kebencian tersebut ke orang lain.

Terbukti dengan banyaknya rumah-rumah ibadah yang dibakar, disegel, dilarang pembangunannya hanya karena hal-hal sepeleh. Misalnya beberapa vihara dan kelenteng di Tanjung Balai yang dibakar hanya karena seseorang meminta kepada pihak pengurus mesjid untuk mengecilkan volume suaranya.

Di Papua juga karena masalah volume suara rekaman mesjid, sebuah rumah ibadah juga dibakar. Namun, di sini Mesjid nya lah yang dibakar. Kenapa hal ini harus terjadi? Seharusnya bisa dibicarakan dengan baik-baik dan bukannya dengan cara seperti ini.

Salah satu masalahnya adalah suara rekaman sebelum adzan yang terlalu kuat. Gus Dur, Boediono, dan Jusuf Kalla (JK) Wapres yang juga ketua Dewan Mesjid Indonesia pernah mengkritik tentang hal ini agar tidak terjadi polusi udara. Sebenarnya kalau suara rekamannya tidak terlalu kuat, tetapi masih terdengar masyarakat ya bagus. Namun, kalau terlalu kuat ya begitulah.

Terus menyangkut poin ke-8 yang sebenarnya masih berkaitan dengan poin-poin sebelumnya, yaitu dari no 5-7. Kita selalu melihat orang-orang yang “Menjual” agamanya hanya agar bisa menempati kursi di pemerintahan. Entah itu di posisi kepala daerah atau di tempat para koruptor bersarang, kalian tahulah ya.

Banyak yang dilakukan pemuka agama yang mau-maunya disuruh atau memang dirinya sendiri mau menyerang dan menjatuhkan lawan politik pilihannya dengan dasar agama. Entah itu menyerang yang berbeda agama dengannya atau yang berbeda aliran dengannya walau masih satu agama.

Salah satu contohnya adalah yang terjadi baru-baru ini di Jakarta, ada spanduk di depan rumah ibadah yang tidak mau menyolatkan jenazah yang mendukung calon pemimpin yang berbeda dengan yang diajarkan rumah ibadah tersebut.

Walaupun aku bukan orang sana, tetapi miris melihatnya ya. Sampai-sampai mayat pun dimusuhi dan dijadikan tumbal hanya untuk memenangkan pilihannya. Banyak black campaign yang dilakukan pendukung untuk memenangkan pilihannya, tetapi menurutku yang satu ini yang paling mengerikan.

Karena pemilihan di daerah itu sudah selesai, semoga hal ini tidak terjadi lagi di sana sewaktu pemilihan selanjutnya dan juga pemilihan tempat lain yang akan berlangsung. Sebenci-bencinya kalian dengan orang lain dan mendukung pilihan kalian, jangan sampailah menjadikan mayat sebagai tumbalnya dan biarkan mereka beristirahat dengan tenang

Anehnya, warga yang awalnya mendukung dan mengeluh-eluhkan pilihannya tadi, biasanya pada akhirnya akan menyesal dan berdemo serta menuntut janji-janji yang tak terealisasi. Banyak dari mereka yang menyanyikan lagu dari Yank Mulia,

Teringat janji manismu
Yang kau ucap kepada diriku
Mengapa engkau pergi meninggalkan aku
Di manakah janji manismu

Ku salah menilai dirimu
Tak pernah terpikir akan seperti ini
Hanyalah kepedihan yang tinggal di hatiku
Di manakah janji manismu

Lirik selanjutnya boleh agan ganti dah untuk menyindir para koruptor dan pemimpin yang kerjanya tidak sepenuh hati.

Ingat Agama adalah jembatan antara manusia dengan Tuhan. Jadi, jangan pernah menyalahgunakan arti dari agama. Apalagi untuk menyerang orang atau agama lain dan menebarkan kebencian di Rumah Suci. Sebab semua agama mengajarkan Kasih dan Damai serta menjauhkan kita dari perbuatan jahat apa pun bentuknya.

Walaupun Menteri Agama terlambat mengeluarkan seruan nya, semoga dari saat ini sampai seterusnya tidak ada lagi yang mempermainkan agama dan atau menjual agama demi kepentingan pribadi atau sekelompok masyarakat.