Matahari pun terbit di ufuk timur, Aku lelaki kurang ajar pada umumnya, tapi aku sadar hal itu. Perkiraan ku jam 07:30 pancaran sinar matahari mulai menelisik sela-sela jendela kost ku, Aku pun terbangun dan bergegas menuju kamar mandi. 

Usai mandi dan berpakaian rapih, aku bergegas menuju tempat belajar ku, beberapa menit saya tiba di kampus, sesuatu yang sebelumnya saya pikirkan pun terjadi, pakaian rapi tipe saya tak habis-habisnya dibuahi berbagai komentar dari kalangan orang.

"Kalau ke kampus pakaian yang rapi, apa susahnya itu kah," ucap salah seorang yang ternyata memperhatikan saya.

Baru beberapa kemudian saya melangkah, kritik pun dari salah seorang saya harus terima dengan senang hati, toh nyatanya Soe Hok Gie pernah bilang "Orang yang tak tahan kritik, lebih baik masuk ke keranjang sampah,". Sebuah statement yang logis bagi saya.

"Jadi Mahasiswa harus taat sama peraturan dong, jangan membangkang sama dosen, itu rambut mu sudah menyalahi peraturan kampus," demikianlah kritik dari seseorang yang ada benarnya.

Saya pun melewati komentar orang tersebut hingga saya masuk ke ruangan kelas, lagi dan lagi presentasi materi kuliah dipaparkan oleh teman satu ruangan saya.

"Ahh, siapa yang salah sebenarnya, metode pembelajar di Pertiwi ini yang diterapkan secara arak-arakan, atau mahasiswa," dalam hati berucap demikian, pasalnya diskusi yang tak sesuai ekspektasi saya, diskusi yang tak ada bedanya dengan anak SMA pada umumnya, tak ada pertarungan pemikiran.

Mungkin karena orang-orang berdiskusi tanpa referensi, padahal sekelas mahasiswa harusnya berpikir secara komprehensif, ahh itu hanya pikiran belaka yang kebenarannya belum pasti.

Tak terasa, terik sinar matahari mulai menghindar dari omong kosong belaka, senja yang lelah menampakkan keindahannya di hadapan penguasa, pun ditelan malam, haruskah tabah menunggu senja yang indah untuk berpaling dari rasa bosan, sepertinya begitu.

"Lelaki yang menuangkan karyanya tak sesuai dengan kemauan penguasa di cap kurang ajar," begitulah keadaan yang aku nikmati sekarang. "Konsekuensinya harus tabah hehehe aku tak heran dengan itu," ucapku.

Seperti kelakuan pemuda sekarang, main handphone hingga lupa diri berinteraksi sesamanya, Aku membuka 'WhatsApp' di handphone ku, ku berpikir untuk menanyakan salah satu kabar teman ku.

"Apa kabar kawan,?" tanya ku pada Wina.

"Baik, kalau kamu bagaimana?" tanya dia pada ku.

"Alhamdulillah baik," jawab ku.

Tiba-tiba Aku bertanya pada dia, persoalan yang baru-baru saja polemik di kalangan mahasiswa/i, bukan karena karya seorang mahasiswa sehingga polemik diperbincangkan, melainkan peristiwa yang baru-baru saja terjadi di salah satu tempat, tentang pelecehan terhadap perempuan.

Wina pun merespon baik pertanyaan saya, hingga diskusi pun berlanjut sampai larut malam, walau hanya melalui "WhatsApp' tapi tidak terlalu menjadi masalah.

"Kamu asyik juga yaa diajak diskusi Wina," 

"Kebetulan saya juga tau, jadi saya jawab," kata Wina pada ku.

Perempuan memang sering kali jadi objek sasaran lelaki. Apa ada yang salah dengan perempuan,? Sepertinya begitu, teringat dengan peraturan tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Namun masih ada beberapa kampus yang belum menerapkan secara senang hati peraturan tersebut.

"Banyak yang aneh di perguruan tinggi," pikir ku.

Mungkin jika diterapkan secara penuh, justru membahayakan bagi dia (pelaku). Mirisnya, di beberapa kampus oknum yang melakukan tersebut, ternyata memiliki profesi, yang tak harusnya melakukan hal demikian.

"Dasar manusia," kata ku.

Benar-benar brengsek. Pernah dikatakan kepada saya, "Tugas kamu belajar baik-baik," betul, manusia itu harus belajar, tapi ada apa ketika kami mempelajari, tentang peraturan yang bertentangan dengan masyarakat, lalu menyuarakannya, di cap tidak tepat.

"Tak asyik jika tak ada dinamikanya," pikir ku dikala itu.

Manusia jika tak mengenal "Cinta dan lelah" saya katakan Nonsens, apalagi kalau memikirkan hal-hal yang tak berarti.

Aku pun beristirahat, kaki memang sering mematahkan ranting pepohonan apabila diinjak secara kurang ajar, namun itu bukanlah perumpamaan yang tepat jika bahas patah hati karena sebab.

Banyak sebab orang patah hati, bisa karena cinta, tapi yang paling menyakitkan adalah karena cinta kata anak-anak remaja atau lebih umum manusia, tapi sebenarnya jika saya diperhadapkan dengan dua pilihan, Jawab sesuatu yang menyakitkan menurut mu.

Maka saya jawab selain rasa sakit karena cinta, yang lebih menyakitkan menurut ku adalah, kekalahan rakyat kecil di hadapan penguasa yang kaya raya, Atas perkara hingga membuatnya ke sana-sini mencari penegakan keadilan yang membantunya. 

"Haruskah kita mendiamkan ketidakpastian terhadap keadilan," tanya ku pada diri sendiri, sembari memikirkan pelacur di sudut kota.

Ia terlalu sering memakai mukenah di pinggiran tempat beribadah, namun di tempat lain pun ia pandai melepas pakaiannya, betul-betul cerdas menyesuaikan diri.

Apakah hal demikian perlu diapresiasi sebesar-besarnya, hingga melupakan warna senja.

Yang pastinya berjuang adalah ketulusan hati, melawan adalah yang pasti, tetap di garis perjuangan.