Kira-kira satu bulan yang lalu di laman Twitter saya sempat melihat percakapan tentang seorang perempuan yang wajahnya penuh dengan jerawat. Kakak cantik ini kabarnya ditinggalkan oleh si pacar karena keadaan kulit wajahnya yang penuh dengan jerawat. Ya, diputuskan hanya karena jerawat. 

Untunglah banyak warganet yang terlihat memberi dukungan pada kakak ini. Mereka bilang bahwa bagaimanapun diri kita sangatlah berharga.

Di tengah maraknya pencanangan konsep 'Love Your Self' yang sering kita dengar dan lihat akhir-akhir ini, seharusnya kita memang saling support apalagi sebagai sesama perempuan. Hal ini lalu mengingatkan saya pada apa yang saya alami sejak masih kecil.

Saya terlahir dengan tanda lahir di dagu. Yang seringnya disebut dengan Toh atau Tompel. Orang tua saya katanya sih biasa saja saat tahu ada tanda lahir di dagu saya. Itu memang hal yang wajar, kan? Hal yang tidak biasa justru terjadi saat saya masuk ke masa kanak-kanak dan lingkungan sekolah.

Saat itu belum ada yang membuat gerakan 'Love Your Self' seperti sekarang, dan mengolok-olok tentang fisik masih jadi bahan bercandaan yang sangat umum di masyarakat. Sebagai yang punya 'hal unik' di badan, tentulah saya kenyang diperolok.

Di antara teman-teman saya, memang cuma saya yang punya tanda lahir di wajah. Ada teman yang punya tahi lalat biasa di wajah tapi tanggapan dari orang-orang biasa saja. Saat masuk TK, saya sudah di-bully habis-habisan. Bukan hanya dari teman-teman seumuran, banyak juga orang tua lain yang melakukan itu ke saya.

Saya manusia biasa, dan masih anak-anak saat itu. Tentu saja saya sedih dan menangis. Sempat tidak mau masuk sekolah malah.

Di tingkat sekolah dasar, hal itu makin menjadi-jadi. Julukan-julukan sejenis saya terima terus-menerus. Tidak mudah. Mengadu ke guru pun tidak ada hasilnya. Seringnya guru-guru hanya tertawa bila saya mengadukan teman-teman yang memperolok saya. Mungkin bagi mereka saya ini lebay atau hiperbolis, dikatain begitu saja kok nangis.

Saat akhirnya sudah mulai terbiasa dan mencoba menguatkan hati, cobaan baru datang. Saya harus pindah sekolah. Yang berarti lingkungan dan teman-teman baru. Yang juga berarti saya harus beradaptasi lagi, bersiap diri untuk menerima olok-olok jenis lain. Benar saja, itu terjadi lagi. Predikat saya berubah jadi 'Anak baru dengan tanda lahir aneh di dagu.'

Apa saja ucapan yang biasa mereka ucapkan pada saya?

Tompel

Ini jelas sekali. Padahal saya juga tidak melihat apa kekurangannya. Tapi tidak tahu kenapa bagi beberapa orang sepertinya punya tanda lahir di muka ini aib sekali. 

Mungkin bagi mereka saya dan orang-orang lain yang punya tanda lahir di muka ini pantas disebut si buruk rupa. Saya tidak percaya sih, saya beberapa kali bertemu orang dengan tanda lahir di muka yang cakep-cakep. Kata pasangan saya, saya juga manis. Hahaha.

Kalau habis makan, dibersihkan; belepotan tuh!

Yang ini sudah benar-benar kenyang saya rasakan. Bahkan sampai di usia sekarang ini pun masih saja ada teman lama atau malah keluarga yang bicara begitu bila bertemu saya.

Iya, manusia paling berengsek yang mematahkan kepercayaan diri memang lebih seringnya datang justru dari orang terdekat.

Di mukamu ada kotoran

Kotoran yang dimaksud di sini tentulah bukan sekadar kotoran biasa ya, tapi merujuk ke kotoran sisa pembuangan hewan atau bahkan manusia. Sejahat itu? Iya. Dan mereka bisa mengucapkan hal semacam itu dengan santai sekali sambil tertawa-tawa, padahal di dalam hati saya rasanya ingin nangis saja.

Kalau hilang, gampang ditemuin nih

Saat masih kecil, ucapan ini mungkin ada lucunya. Ya kalau anak kecil hilang jadi lebih mudah ditemukan karena ada ciri khususnya. Tapi saat sudah dewasa, ya ngapain juga, kan? Yang ada malah kadang saya ingin menghilang tanpa jejak, nggak ingin ditemukan, nggak ingin dicari. Apalagi dari mas mantan.

Lalu bagaimana saya menyikapinya?

Seperti yang saya bilang di awal tadi, dulunya saya sering menangis. Sering merasa kesal dan menyesal kenapa dilahirkan dengan kondisi seperti ini. Tapi toh tidak ada yang bisa saya perbuat. Mau operasi menghilangkan tanda lahir? Ya, kalau saya keturunan Bakrie sih mungkin.

Opsi itu tidak ada dalam hidup saya. Yang ada cuma bertahan, menguatkan diri. Memblokade rapat telinga dan hati dari omongan-omongan yang sejenis. Saya menanamkan prinsip bahwa saya ini cinta dengan diri saya sendiri apa pun keadaannya.

Kalau orang bisa cinta juga dengan kondisi saya, ya terima kasih. Bila tidak, itu urusan mereka. Saya tidak hidup hanya untuk menyenangkan orang lain. Saya fokus mengerjakan hal-hal yang saya mampu. Biarkan orang-orang melihat dan menilai prestasi saya, bukan hanya melakukan penilaian fisik.

Makanya, teman-teman, menumbuhkan rasa cinta pada diri sendiri itu tidak gampang. Jangan asal njeplak kalau lihat kondisi orang lain yang berbeda dengan kondisimu. Kamu tidak pernah tahu seberat apa rasanya jadi mereka.

Belajarlah menanamkan hal ini juga pada anak-anak kita agar nantinya mereka lebih memahami bahwa punya tanda lahir di wajah atau bagian mana pun dari tubuh itu bukan aib melainkan sebuah keunikan tersendiri dari Tuhan.