“Jangan Lupa Bahagia”. Frasa tersebut cukup dominan berseliweran mampir di media sosial yang saya ikuti, Facebook dan WhatsApp Group

Awalnya saya merasa itu hal yang lumrah, karena siapa sih yang tidak ingin bahagia? Saya baru merasakan keganjilan anjuran tersebut saat secara objektif kondisi saya tidak memungkinkan untuk bahagia. Misalnya, saat menunggu Ibu yang sakit parah di Rumah Sakit hingga beliau meninggal, kata-kata jangan lupa bahagia itu kok malah jadi menyakitkan.

Saat seorang teman yang saya tahu pasti sedang dilanda gundah gulana karena problem pernikahannya menulis status yang diakhiri dengan mantra jangan lupa bahagia dindingFacebook-nya, saya makin bertanya-tanya, haruskah kita selalu bahagia?

Kebahagiaan memang menyenangkan, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai melimpahnya emosi positif, seperti tenang, nyaman, puas, lega, bangga, dan perasaan cukup. Sebaliknya, ketidakbahagiaan ditandai oleh saldo emosi negatif yang melampaui emosi positif seperti takut, marah, kecewa, sedih, dan cemas.

Tapi dalam realitasnya, kehidupan manusia memang tidak melulu berisi emosi positif. Sedih, marah, takut, menyesal, dan  kecewa adalah keniscayaan yang dialami manusia saat mengalami peristiwa yang tidak sesuai harapan seperti kehilangan orang yang dicintai, ditolak, sakit, bangkrut, dan gagal ujian. Jadi anjuran untuk selalu bahagia menurut saya sebenarnya mengandung “jebakan” yang justru berbahaya bagi kesehatan mental manusia.

Jika kebahagiaan dijadikan standar emosi yang lebih “benar” atau yang dapat diterima, orang akan mengingkari hadirnya emosi negatif. Misalnya, saat kecewa ditolak olah orang yang dicintai, keengganan terhadap emosi tersebut akan menimbulkan penyangkalan, dengan mengembangkan jurus ngeles seperti sebenarnya aku juga tidak terlalu mencintainya, dia memang tidak pantas dicintai, dan Tuhan akan mempertemukan dengan yang lebih baik. 

Penyangkalan emosi negatif ini juga dapat melahirkan meta emosi, emosi kedua yang muncul sebagai ikutan dari emosi pertama. Misalnya, perempuan bekerja marah pada dirinya sendiri karena merasa bersalah sering meninggalkan anaknya yang masih balita untuk bertugas ke luar kota. Padahal perasaan bersalah itu lumrah dan bukan suatu kesalahan.

Pada akhirnya, upaya menyangkal emosi negatif ini akan menumpulkan kemampuan untuk jujur pada diri sendiri, sekaligus kehilangan kesempatan untuk belajar mengelola atau mengatasi emosi negatif tersebut. Padahal mengenali emosi, mengakui dan mengelola cara mengekspresikannya dengan tepat adalah keterampilan-keterampilan yang menunjukan kecerdasan emosi.

Selain itu, emosi negatif sebenarnya juga memiliki manfaat bagi manusia, jika dirasakan dalam intensitas dan durasi yang sesuai dengan peristiwa yang dialami. Misalnya, takut sebenarnya memberikan alarm bagi sesorang akan adanya bahaya. Ia memberikan informasi pada otak agar dapat mengambil tindakan yang tepat.

Manfaat emosi negatif takut ini sangat gamblang ditunjukkan dari bagaimana orang merespons wabah Covid-19 saat ini. Orang yang takut terinfeksi akan mengambil tindakan hati-hati, lebih patuh pada protokol pencegahan penularan Covid-19 dibandingkan yang tidak takut. Menjadi berbahaya jika realitasnya secara objektif memang menimbulkan ancaman, namun orang tidak merasa takut, karena hal tersebut menunjukkan ketidaksinkronan antara stimulus dengan respons.

Salah satu emosi negatif yang juga telah diteliti manfaatnya adalah pesimistik. Martin Seligman dalam bukunya Authentic Happiness menyampaikan hasil riset pada pengacara-pengacara sukses di Amerika Serikat, dan menemukan persamaan karakteristik di antara mereka, yaitu kepribadian yang pesimistik. 

Ternyata, orang yang pesimistik dalam kadar yang “tepat” akan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi di pengadilan, sehingga mereka mencari bukti secara lebih gigih, mempersiapkan dan melatih argumen berulang kali hingga merasa cukup siap untuk menghadapi persidangan. Sebaliknya, orang yang terlalu optimistik memiliki kemungkinan bias, karena beranggapan semuanya akan baik-baik saja.

Dalam Psikologi evolusi juga dibahas bahwa emosi dasar manusia yang bersifat instingtif, yaitu takut dan marah, sebenarnya menjalankan fungsi survival pada manusia, yaitu tindakan menghindar atau menyerang ancaman yang membahayakan hidup manusia. 

Emosi marah secara sederhana akan memicu tindakan menyerang, dan emosi takut mendorong orang menghindar. Kita dapat melihat pada bayi yang menangis takut jika bertemu dengan orang asing, dan menangis marah jika ada yang mendekat pada ibu atau ayahnya. Pengasuhan pada akhirnya akan memperluas pilihan respons berdasarkan kompleksitas situasi, value yang dianut, dan prediksi terhadap akibat tindakan.

Pada akhirnya, kebijaksanaan tua bahwa segala yang berlebihan dapat mengacaukan keseimbangan tampaknya juga berlaku dalam isu psikologis manusia. Sebagaimana harga diri dan kepercayaan diri yang terlalu tinggi akan memicu superioritas yang mengganggu dalam relasi dengan orang lain, kebahagiaan yang merupakan emosi positif pun akan menjadi negatif jika terlalu tinggi.

Benar belaka jika orang Jawa merangkumnya dalam kata yang singkat namun bermakna dalam, bahwa segala sesuatu itu sebaiknya sak madya. Maka kita perlu memperlakukan kebahagiaan dengan cara yang sama. 

Tidak perlu panik untuk selalu mengejar rasa bahagia dan terbirit-birit mengusir ketidakbahagiaan yang terasa. Terima dan nikmati saja, atau justru memanfaatkannya untuk menghasilkan karya seni sebagaimana Didi Kempot mengolah patah hati menjadi lagu indah yang membius jutaan pendengarnya.