AHLI

KELEBIHAN Roso, sebutlah itu kelebihan, adalah pengetahuannya menyangkut banyak hal. Apa pun topiknya, ia selalu punya sesuatu untuk dibicarakan. Tak pernah habis kamus. Kalau kau bicara musik, ia bahkan bisa bermain organ. Tunggulah nanti dimainkannya dan bernyanyi, kau tak bisa tak kagum. Kalau bicara agama, ia tak pula putus cerita. Bahkan kalau kau sentuh politik, tunggu saja opininya tentang carut-marutnya perpolitikan mutakhir. Pokoknya, waktu bersamanya tak pernah kering.

Roso seorang laki-laki biasa, tak lebih. Penampilannya sederhana, tetapi rapi. Tak pernah kulihat kemeja pendeknya tak dimasukkan. Ikat pinggangnya tampak jelas, mengkilap. Kalau bicara, kau akan rasakan binaran mata dalam suaranya. Tawa kecil biasa diselipkan dalam ucapannya. Kepribadiannya memang mudah memancing simpati; bahkan dapat membuatmu merasa berarti. Karena keadaan, ia memang tak mengecap pendidikan formal memadai. Tetapi, ia ahli dalam pekerjaannya; berijazah. Juga tak kurang ahlinya dalam hal-hal lain tadi. Aku tak tahu dari mana saja ia mengambil sumber soal politik. Barangkali juga diolahnya dari modal percakapan dengan orang lain. Pastinya juga dari televisi. Ya, televisi.

Yang jelas, aku pun seorang pelanggan karena keahliannya. Selain itu, juga karena semaraknya percakapan yang dihadirkannya. Pagi Sabtu ini, setelah pertemuan dengannya, aku begitu saja merasa terbebaskan dari pegal-pegal tubuh. Ia memang ahli. Tercantum jelas pada papan nama ruang prakteknya: Ahli Pijat Tuna Netra, Berijasah.

***


JUMAT

RESTORAN PADANG itu biasa membagi-bagikan nasi bungkus sedekah Jumat, sebelum waktu shalat. Konon ada seorang dermawan yang mensponsori. Karena cukup rutin, lama-kelamaan ramai yang mengantri mengharap bagian: buru harian yang tak dapat objekan, tukang ojeg, juga ibu-ibu yang dari mana-mana. Yang pasti, yang membutuhkan.

Lastri, janda anak dua yang ditinggal mati suaminya, juga hadir buat pertama kalinya. Itu pun karena diajak-ajak tetangganya yang sudah pernah. Keadaannya memang sempit. Anak sulungnya tengah sakit pula. Ia berharap dapat bagian untuk dibawa pulang. Siapalah tahu, masakan padang dapat memancing selera anaknya. Tetapi, apa lacur, berita mengecewakan disampaikan pihak restoran yang minta maaf karena Jumat ini absen. Kecewalah semua. Apalagi Lastri. Seakan-akan karena dialah yang lain jadi sial.

Menunduk pedih berjalan pulang, ia seperti tak percaya melihat selembar uang seratus ribu terselip di rumputan tepi jalan. Setelah dilirik-lirik, dipungutnyalah lembaran merah itu hati-hati. Rezeki anaknyakah ini? Dan berbekal rezeki yang menggembirakan itu, ia segera singgah di minimart seberang jalan, hendak membeli obat dan susu untuk anaknya. Ia juga berniat akan membeli nasi bungkus di restoran padang tadi. Saat membayar, diserahkannyalah uang merahnya. Tetapi, karena sang kasir seperti merasakan sesuatu yang janggal, diujikannya dulu uang itu ke scanner. Baru kemudian, dengan santun ia meminta uangnya ditukar. Berdebarlah Lastri; tak mengerti kenapa. "Maaf, Bu, uangnya palsu."  

***


MALFUNGSI

KATA ORANG, hidup ini bagaikan bintang jatuh. Waktunya bisa singkat tak terduga. Sekiranya manusia punya barcode batas kedaluwarsa, pastilah akan lebih teliti menjalani alokasi waktunya. Semua itu pun bisa kukatakan dengan yakin sekarang hanya karena sekarang akulah yang sedang mengalaminya. Kemaren-kemaren tak pernah terpikirkan soal ajal di depan mata. Makanya hidup kujalani berlambat-lambat saja, tanpa banyak perhitungan berarti. Aku yakin, kalian pun seperti itu dan kalian harus belajar dari pengalamanku ini.

Ajal tiba-tiba yang kutemui sesaat lagi, sungguh menyesakkan dada. Betapa banyak yang kusesali, banyak yang belum sempat kulakukan. Aku belum meninggalkan tabungan yang cukup buat keluarga untuk tiba-tiba ditelantarkan. Kemaren si sulung sempat kumarahi karena jengkel. Janji belajar sepeda motor dengan si tengah belum kupenuhi. Bacaan Qur'an si bungsu belum sempat pula kuluruskan. Belum lagi kredit BTN rumah yang masih panjang. Ibu yang belum kumintai maaf. Ibadah yang angin-anginan. Isteriku yang tadi pagi menyiapkan bekal tak kukecup, padahal seminggu sudah tak kusentuh di kamar. Betapa banyaknya; segala yang begitu saja terlambat.

Aku pun dikerubuti orang-orang yang berdatangan. Suasana sekitar mendadak heboh. Yang muncul belakangan tak tahu ujung-pangkal bertanya kanan-kiri. Ada apa? Apa yang terjadi? Saksi mata detik-detik terakhirkulah yang menjawab. "Tali parasutnya putus!" Karenaku, polisi datang ke lokasi terbang layang perkebunan teh di Puncak, Bogor itu, mengusut kematianku.

***


NIKAH

ASRAF—LELAKI gagah dan mapan, idaman sempurna semua wanita. Dinda tahu betul itu. Asraf membuat hati want karir yang tinggal indekos itu terkulai asmara, serasa rela mati demi cinta. Padahal hubungan mereka belumlah lama. Bagaimana tidak? Asraf sangat perhatian. Mereka memang tak rutin bertemu, itu pun di luar, karena tempat kosnya melarang masuknya laki-laki. Tetapi via telepon dan WhatsApp, Asraf rajin mengingatkan jangan lupa makan, jaga kesehatan. "Selalu waspada ya, Sayang. Sekarang marak kasus pembunuhan wanita cantik. Aku tak mau kehilanganmu."

Benar, setahun terakhir sudah terjadi empat kasus bermodus sama. Semuanya cantik dan lajang. Polisi belum berhasil mengungkap, tetapi diduga pelakunya tunggal. Melajang jauh dari keluarga, pun cantik, bimbang juga Dinda. Makanya ia berharap cepat dipinang. Kalau sudah menikah, Asraf tentu melindunginya 24/7 tanpa waswas.

Pelan-pelan, Dinda menyelipkan harapannya dalam percakapan mereka, langsung ataupun maya. Belum direspon memang. Baru siang ini, Asraf mengajaknya pergi merayakan hubungan mereka. Berbunga-bungalah Dinda. Ternyata ia dibawa ke sebuah rumah kosong berstatus "Dijual". Apakah rumah ini buat mereka menikah nanti? Dinda tertanya-tanya. Setelah sebentar melihat-melihat, dalam kamar utama rumah dijual itu Asraf kemudian merengkuh bahunya. Tatapannya lekat. Inikah momennya? Dinda berdebar-debar. "Maafkan!" ucap Asraf.  Kok maaf? "Ternyata kalian sama saja! Aku benci perempuan yang gatal menuntut nikah." Leher wanita lajang itu tiba-tiba tersekat. Nafasnya tersendat.  

***


SPAMMER

TONI GIRANG karena mendapat pekerjaan pada sebuah unit usaha kecil yang gencar promosi. Ia direkrut sebagai tenaga khusus untuk jejaring sosial dan situs lainnya. Seperti umumnya generasi sekarang, ia jelas terbiasa dengan macam-ragam platform medsos yang populer. Sejak dipekerjakan itu, walau gajinya sistem insentif, ia bersemangat sekali mendaftarkan keanggotaan di Facebook, Twitter, Instagram, Whatpad, Youtube, entah apa lagi, termasuk situs-situs mapan seperti Detiknews dan lainnya. Ia berniat membombardir semuanya dengan iklan promosi bertubi-tubi.

Sebagai penunjang, bosnya menyediakan tiga HP berlayanan data unlimited, walaupun tetap memakai laptop sendiri. Berbekal tiga nomor HP itu, ia bisa mendaftarkan ratusan akun di sana-sini, berkat Gmail atau Yahoo. Nama-nama yang dipakai pun diberagamkan, terutama yang terkesan umum dan alim, khususnya wanita. Foto profil pun dicomot sana-sini. Tidak sulit, mengingat melimpahnya perempuan muda, bahkan tua, yang tiap detik menayangkan foto-foto diri dalam berbagai pose. Medsos memang surganya yang mabuk perhatian.

Toni jelas tak mebutuhkan banyak ilmu teknis untuk kelancaran tugasnya. Apalagi di Tanah Air, gaya koboi saja sudah cukup. Sasarannya adalah ruang komentar yang terbuka bagi anggota. Ia tak perlu basa-basi membaca konten status atau beritanya, yang penting banyak mendapat perhatian orang. Tugasnya pun sederhana, sekedar meng-copy-paste materi promosi yang tersedia. Klik, deerrr, tampil sudah. Terbaca: "Anda ingin menambah ukuran Mr. P?" Dst, dst.

***


Catatan: 

Pentigraf adalah akronim dari 'cerpen tiga paragraf', yang membatasi penggunaan teks maksimal 210 kata, dalam tiga paragraf. Digagas pertama kali oleh Dr. Tengsoe Tjahyono.

AJ Anwar bergiat di grup Riau Pentigraf Authors (RPA), dan warga Kampung Pentigraf Indonesia (KPI) yang diterjuni langsung oleh Tengsoe.