Mahasiswa
1 bulan lalu · 271 view · 3 menit baca · Cerpen 36183_37267.jpg
Instagram.com

Terjebak Rindu

Jarak merupakan suatu hal yang tidak dapat dimungkiri berapa jauhnya, waktu tidak dapat dihitungkan lamanya. Ketika dua manusia berpisah dikarenakan jarak dan waktu, itu merupakan hal yang sewajarnya.

Mengapa banyak yang mengungkapkan rindu, tanpa mengerti makna di dalamnya? Memang rindu tidak bisa dijelaskan dengan pasti, namun dapat dirasakan oleh setiap manusia yang sedang merindukan seorang kasih.

Gadis cantik yang bernama Ananda Nabila Ahmad, biasa dipanggil Anna, dia adalah putri dari seorang kiai yang memiliki pondok pesantren Tahfidzul Qur'an putra putri, beliau adalah kiai Ahmad, keluarga beliau sangat dihormati dan terpandang oleh masyarakat.

Anna sangat patuh terhadap perintah larangan dari ayahnya (kiai Ahmad). Anna diberi pendidikan agama sejak dini, sampai dia telah menghatamkan Alquran 30 juz terlampaui. Banyak santri yang mengagumi, namun tidak ada yang berani untuk datang menemui Anna dan kiai Ahmad.

Di sudut jendela kamar, Anna merenungkan hatinya yang belum mempunyai calon idaman hati, padahal umurnya sudah terbilang dewasa. Dia berpikir bahwa dirinya belum ditakdirkan untuk menemukan cintanya. "Mungkin ini yang dimamakan penantian" (berkata dalam hatinya).

Di sepertiga malam, dia beranjak bangun dari mimpinya di malam hari. Dia membasahi wajahnya dengan air wudu, untuk menunaikan sebuah salat di sepertiga malam, yaitu salat Tahajud yang diwariskan kepada kaum Rosulullah SAW, semenjak Beliau melaksanakannya.

Empat rakaat terselesaikan, Anna berdoa dan becerita kepada Sang pemilik alam semesta Allah SWT. Dia menangis kepada Allah SWT, dan menyesali kesalahan yang telah dia perbuat.

"Ya Allah, siapapun jodohku nanti jagalah dia dari maksiat dunia yang membayangi setiap saatnya, dan mudahkan ibadahnya dalam setiap langkah yang menjadi tujuannya. Serta tingkatkan iman dan ketakwaan kepadaMu Sang pemilik hati ini" (air mata Anna terjatuh dengan perlahan di sepertiga malam itu).

Tidak ada yang salah jika seseorang merindukan sesuatu yang diharapkan, namun pada hakikatnya yang diharapkan ialah rindu Tuhannya.

Rahman dan Ali, mereka santri yang taat terhadap kiai. Di emperan masjid pondok, mereka memperbincangkan putri kiai Ahmad. Rahman sebenarnya memendam hati kepada Anna, namun dia sungkan untuk menemui kiai. "Al, aku ingin menemui kiai Ahmad untuk mengungkapkan isi hatiku ini yang mengagumi Anna, tapi aku tidak berani untuk mengatakannya" (curhatan Rahman kepada sahabatnya itu). "Ayo aku antarkan dirimu menemui kiai Ahmad" (jawab Ali dengan semangat). Sebab mereka berdua adalah santri kepercayaan kiai Ahmad, jadi berani untuk datang ke rumah.

"Tapi Al, Aku tidak berani untuk menemui kiai Ahmad" (ucap Rahman kembali dengan rasa rendah), "Sudahlah Man, kamu yakin saja dengan apa yang telah kamu yakini. Lagi pula kiai Ahmad sudah tahu, soal kamu anak kiai Agus, pengasuh pondok Tahfidzul Qur'an di kota". (semakin meyakinkan keadaan diri Rahman).

Senja hari Anna melihat jendela rumah, terlihat Ali sedang berjalan menuju masjid pondok. Anna merasa ada yang tidak benar pada dirinya.

Malam hari tiba, Rahman dan Ali mendatangi rumah kiai Ahmad, untuk mengungkapkan isi hati Rahman yang mencintai putri beliau. "Maaf sebelumnya kiai Ahmad, kedatangan kami di sini untuk mengungkapkan rasa hati Rahman teman saya ini yang memendam hati kepada Anna putri Bapak Kiai." Ali mencoba sedikit berbicara dengan kiai Ahmad dan Rahman berada di sampingnya. 

"Oh, ini yang namanya Rahman putra kiai Agus dari kota. Jadi Man, Pak kiai tidak bisa memutuskan masalah ini, biarkan Anna saja yang menjawabnya," jawab kiai Ahmad dengan halus.

"Anna, bagaimana keputusanmu? Apakah kamu bersedia dengan Rahman putra dari kiai Agus ini?" Pertanyaan kiai Ahmad ditujukan kepada putrinya.

Rahman yang cemas dan gugup mendengarkan jawaban Anna, sedangkan Ali sibuk makan cemilan yang telah disediakan kepada mereka. "Anna, memilih Ali." Ungkapan Anna yang mengagetkan semua orang yang ada di rumah tersebut.

Ali langsung kaget dengan jawaban sang putri kiai itu, sedangkan Rahman hanya diam tak berdaya. "Ann, yang mengungkapkan rasa kepadamu itu Rahman, bukan Ali," tanya kiai Ahmad kepada putrinya.

"Tapi Anna telanjur jatuh hati kepada Ali, bukan Rahman," jawaban Anna diperjelas lagi.

Sebenarnya Ali pun memendam rasa kepada Anna sejak lama, namun dia tahu bahwa sahabatnya Rahman juga mencintai Anna. Serta Ali menghormati Rahman sebagai anak kiainya dahulu sebelum mondok di tempat kiai Ahmad. Sehingga apa yang terjadi dengan mereka, 

Ali mengatakan dengan sejujurnya tentang rindu yang telah dipendam selama ini. Dan Rahman menerima dengan ikhlas jika Ali yang lebih pantas mendapatkan Anna, dia menyadari bahwa cinta bukan salah alamat, hanya saja terhalang oleh waktu. Kiai Ahmad pun merestui Anna dan Ali untuk melanjutkan dalam ikatan pernikahan yang sah.