Mahasiswa
2 bulan lalu · 123 view · 4 menit baca · Cerpen 58799_25307.jpg

Terjebak Asa

Aku sendiri gemar bermimpi, karena manusia sejatinya diberi kemampuan oleh Tuhan untuk berharap dan berharap. Hal itu baik untuk sama-sama kita syukuri.

Sebenarnya, aku sedikit ragu, sekaligus malu untuk menulis kisah yang sebentar lagi akan habis kamu baca ini. Atau mungkin, kamu tidak tertarik sama sekali. Karena pada dasarnya, ini adalah kisah tentang bagaimana aku memulai harapan, memilihnya menjadi cita-cita, lalu siap untuk ku realisasikan. Sederhananya, bisa diistilahkan perjalanan menghidupkan mimpi. Begitu.

Jadi, tidak ada yang spesial. Karena bagaimanapun, sudah banyak para pemimpi terdahulu yang telah menuangkan kisah yang serupa lewat tulisan-tulisan mereka yang sangat menginspirasi. Dan bahkan, jejak-jejak mereka banyak diikuti oleh generasi masa kini, termasuk aku sendiri. Jadi, sekali lagi, kisahku ini barangkali akan terkesan biasa-biasa saja.

Proyek merealisasikan mimpi ini mulai serius ku garap ketika aku memasuki semester dua perkuliahan. Kala  itu, orang pertama yang membuatku termotivasi untuk memulai menjadi “sang pemimpi” adalah Kak Zainul Yasni, kakak alumni yang pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Aliyah dan Perkuliahan yang sama denganku.

Hampir setiap hari- sepulang kuliah - aku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke warnet depan kampus itu untuk sekedar membuka facebook dan ngepoin akun dia yang follower-nya melebihi jumlah hutang segara saat ini, umpamanya.

Banyak cerita motivasi yang dia posting dari pengalaman pribadinya: dari mulai mencoba menjadi scholarship hunters, menjadi awardee beasiswa LPDP, hingga saat dia berpose di London Bridge, dan beberapa icon Negara Inggris lainnya. Aduh, semakin terenyuh rasanya untuk bisa seperti dia.

Sudah beberapa minggu ini aku sering menghabiskan waktuku di warnet. Sebagian temanku bahkan mengira aku kini punya pekerjaan sampingan sebagai penjaga warnet. Sial! Bukan tanpa alasan, ini adalah salah satu caraku untuk menambah bahan bakar semangat agar terus termotivasi, bermimpi, dan belajar  lagi.

Hingga pada akhirnya, aku melihat salah satu postingan dia yang membuatku menurunkan semangat ke gigi dua. Dia menceritakan bahwa salah satu pertimbangan besar menjadi seorang awardee beasiswa adalah dengan berbekal pengalaman berorganisasi yang banyak.

Aku tahu dia adalah mantan ketua BEM di kampusku dulu, mantan ketua HIMMAH, dan beberapa mantan-mantan lainnya. Niat ingin menyangkal fakta, aku - dengan yakinnya - mencoba membuka beberapa situs penyedia beasiswa termasuk LPDP.

Dan ternyata benar adanya. Setiap penyedia beasiswa mengharuskan calon awardee-nya untuk memiliki pengalaman berorganisasi yang mempuni. Aku, lagi-lagi, terenyuh. Ingin rasanya ku banting komputer yang seolah menatapku tertawa. Juru parkir kampusku pun tahu, kalau aku adalah mahasiswa dengan selera berorganisasi yang rendah kalori.

Aku hanya datang ke kampus jika ada kuliah, atau pertemuan dengan PA (Pembimbing Akademik). Atau kalau nggak, ya, nongkrong di kantin kampus, lalu pulang. Semenjak itu, aku kehabisan bahan bakar untuk bermimpi. Aku lupakan Kak Yasni. Aku lupa namanya LPDP. Dan akupun lupa jalan menuju warnet yang masih berlokasi di depan kampusku itu.

Tapi di paragraf ini, Tuhan sepertinya kembali menyuruhku melanjutkan proyek merealisasikan mimpi itu. Setelah beberapa bulan move on dari Kak Yasni, aku mendapati selebaran tawaran beasiswa Fulbright untuk mereka yang ingin lanjut kuliah S2 ke Inggris.

Saat itu - kalau tidak salah - aku masih duduk di semester 6, tapi aku tetap tertarik untuk membacanya. Karena ada salah satu cerita awardee-nya yang ingin kutelusuri lebih lanjut. 

Namanya mas Budi Waluyo. Bagi sebagian besar pemburu beasiswa, nama ini sudah tak asing lagi sepertinya. Dia adalah salah satu awardee beasiswa Fulbright yang kini sedang menempuh S3-nya di Amerika.

Baginya, bolak-balik Eropa Amerika merupakan hal yang sudah lumrah ia lakoni. Dari kisah Budi Waluyo - yang habis ku baca bersamaan dengan serutan terakhir kopi di beranda rumahku - aku mendapati secarcik harapan baru. Ternyata, aku dan Budi memiliki kisah yang hampir serupa, tetapi tak sama.

Dari paparan yang ia sajikan lewat kisah inspiratifnya, ia dulunya juga hanyalah butiran debu di kampusnya. Ia sama sekali tak memiliki pengalaman berorganisasi, dan bahkan IPK-nya pernah anjlok drastis. 2.50 kalau tidak salah.

Saat itu, aku berfikir bahwa aku akan menjadi the next Waluyo. Hari itu juga, aku kembali menjadi pelanggan setia warnet depan kampus yang dulu komputernya ingin ku banting. Aku mulai searching tentang sosok Budi Waluyo lebih dalam. Namun, lagi-lagi, aku harus gigit jari dibuatnya.

Di salah satu segmen hidupnya, ia memaparkan bahwa sejak kecil ia sudah di tinggal mati oleh ayahnya; hanya dihidupi oleh ibunya yang berperan sebagai single-parent. Dalam perjalanannya meraih beasiswa S2, Budi juga harus puluhan kali menjumpai kegagalan, hingga akhirnya ia bisa menjadi awardee Fulbright.

Aku kembali ngedown, tak ada yang bisa diharapkan. Perjalanan hidupku dengan si Budi rupanya kontras, tapi untungnya aku masih dinaungi oleh orang tua yang harmonis yang selalu ku syukuri. Tak ada yang bisa ku kasihani dari hidupku, karena aku memang tidak memiliki kisah sedih yang bisa menjadi nilai plus untuk ukuran calon peraih beasiswa.

Well, tak apalah. Setidaknya aku  masih memiliki orang-orang baik yang harus selalu ku syukuri,” pikirku sesaat sebelum memutuskan untuk mengklik timer stop di komputerku. lalu aku bergegas pulang.

Dari kedua cerita indah para awardee tersebut, aku mendapati simpulan. Bahwa persyaratan tambahan untuk menjadi seorang peraih beasiswa, ternyata tidak hanya matang dalam berorganisasi, tetapi juga memiliki kisah sedih yang menjadi pemicu semangat untuk tetap maju. Begitu!

Mindset ini selalu terngiang sampai aku lulus kuliah. Aku tidak lagi berfikir untuk menjadi peraih beasiswa. Slogan “sang pemimpi”pun ku kubur hidup-hidup, dalam-dalam. Sepertinya, ini bukanlah ending yang bagus untuk mengakhiri cerita ini. Jadi, akan ku lanjutkan lagi nanti, setelah aku tidak lagi lapar.

Artikel Terkait