Saat ini dunia maya ramai diperbincangkan pro kontra mengenai privilege yang mengema dan banyak perdebatan mengenai perlukah privilege sebagai jalan menuju kesuksesan seseorang.

Privilege adalah hak istimewa yang dimiliki oleh setiap orang yang melekat pada dirinya sejak lahir dan hak istimewa tersebut tidak dimiliki oleh orang lain. 

Bisa dari keluarganya yang cukup mapan atau dari keluarga yang memiliki pengaruh yang besar pada lingkunganya karna hak istimewa yang didapatnya dia memiliki peluang meraih kesuksesan dengan mudah.

Karena itulah stigma dalam masyarakat tumbuh dan berkembang  bahwa mereka yang terlahir dari keluarga kaya raya akan mudah meraih kesuksesan ketimbang orang lain yang lahir dari keluarga pas pasan.

Namun privilege tidak hanya tentang aspek material yang dimililinya tapi suatu jalan atau pilihan yang dikehendaki tanpa ada paksaan dari orang lain.

Contohnya, anak dapat menentukan dimana dia bersekolah dan jurusan apa yang diminati tanpa harus menuruti kehendak orang tuanya itu juga sebuah privilege, namun orang atau sekelompok masyarakat tidak menyadarinya.

Sekelompok masyarakat hanya menyadari bahwa privilege seseorang yang memiliki materi yang lebih dari cukup pasti dapat dengan mudah mengapai kesuksesan dan itu pasti.

Bahwa setiap seseorang memiliki privilege masing masing tidak hanya terpaku pada materi dan jabatanya.

Tapi juga bisa suatu rasa yang cukup karna haknya terpenuhi atau pilihan yang bila ia lakukan tidak merasa terbebani dan mendapatkan rasa bahagia dari dalam jiwanya.

Seperti mendapatkan pola asuh yang lengkap dari kedua orang tuanya yang itu juga tidak selalu didapatkan dari mereka yang memiliki materi yang berlimpah dan mendapatkan kebebasan dalam menetukan segala pilihan yang dia jalani di kehidupanya.

Itu semua juga privilege yang sangat penting namun tidak dipahami oleh seseorang bahkan sebagian dari masyarakat kita.

Tapi, bagaimana stigama privilege ini terus berlanjut dan menjadi labeling ke setiap individu seseorang bahwa yang memiliki materi yang berlimpah menjamamin kesuksesanya.

Hal itu tidak bisa dipisahkan dari sistem ditengah birokrasi kita yang menguatkan stigama masyarakat tentang privilege ini.

Contohnya, anak seorang pejabat akan akan secara mudah masuk kedalam sistem pemerintahan yang dipegang oleh pejabat terkait bahkah sanak saudaranya pun akan di prioritaskan untuk dipilihnya sebagai bagian sistem pemerintah  yang diaturnya.

Tapi hal itu jelas dilarang oleh negara karna hal itu perbuatan nepotisme namun itu nyata dan banyak kasus seperti itu kita sering lihat di banyak media berita saat ini.

Hal itu menjelaskan bagaimana seorang pejabat bagian dari pemerintah memeliki perana yang sangat kuat dan karna itulah masyarakat memahami bahwa materi dan orang yang berada pada lingkup sang pejabat tersebut dapat meraih kesuksesan.

Sehinga kita berfikir bagaimana memutus stigma seseorang yang memiliki privilege dalam hal materi dan kekuasaan dapat meraih kesuksesanya secara instan.

Lalu bagaimana memutus stigma ini?

Arie Sujito menuturkan, ketika negara memiliki sistem yang bisa melindungi warga negaranya, mulai dari pendidikan, kesehatan dan pekerjaan. maka warga negara akan mendapat hak yang sama untuk memperoleh kesuksesan.

Sebenarnya sistem dari pemerintahan kita ini terus melekat kepada masyarakat bahwa privilege bedasarkan kekayaan dan kekuasaan yang pasti meraih kesuksesan.

Inilah yang harus dibenahi oleh pemerintah bagaimana terciptanya pemerataan pada semua lini layanan masyarkat dapat dirasakan oleh setiap warga negara secara adil.

Karena hal itu kewajiban dari pancasila sila kelima yaitu "keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia". karna itulah pemerintah wajib melaksanakan amanatnya secara merata.

Dalam aspek pendidikan contohnya seorang palajar dari keluarga yang kurang mampu terbebani masalah finansial dan harus putus sekolah demi membiayai keluarganya dirumah.

Disisi lain ada seorang anak tanpa terbebani masalah finansial dan tetap bisa melanjutkan pendidikanya karna lahir dari keluarga yang memiliki kekayaan lebih.

Itu ketimpangan yang begitu nyata ditengah masyarakat kita dengan stigma yang terus berlanjut dan tertanam dan menjadi indikator dalam menilai keberhasilan seseorang.

Apalagi kondisi Pandemi saat ini yang memperdalam jurang ketimpangan didalam masyarakat dan peran pemerintah diperlukan utuk memberi pemerataan kepada seluruh warga negara.

Seperti memberi biaya gratis atau subsidi biaya pendidikan kepada mereka yang benar benar kurang mampu, agar pemerataan di sektor pendidikan dapat terlaksana secara adil bagi warga negara indonesia ini.

Jika hal itu terlaksana dengan baik maka masyarakat akan memahami bahwa privilege bedasarkan materi dan kekuasaan bukanlah kunci keberhasilan dalam mengapai impianya.

Namun, masyarakat sadar bahwa setiap individu memiliki privilege masing masing tergantung bagaimana seorang tersebut memanfaatkan peluang yang ada hingga dapat meraih kesuksesanya.

Bahwasanya kunci dalam mengapai kesuksan seorang ialah melalui kerja kerasnya dan apabila seseorang yang berkerja keras dalam mengapai keinginananya mungkin itu bisa dikatakan kunci kesuksesanya.

Tapi, itu terhambat oleh sistem dalam birokrasi kita mondorong permasalahan itu terus berlanjut dan dipakai oleh sebagian masyarakat kita dalam menilai tentang privilege tadi.

Menurut opini pribadi saya, bahwasanya setiap individu pasti mempunyai privilege yang unik yang akan menjadi peluang seseorang menuju setiap tahap kesuksesanya.

Dan bahwa pemahaman privilege itu perlu pemaknaan ulang agar masyarakat memahami secara betul tentang privilege yang melekat pada setiap individu.