Saat ini video Ustaz Somad yang memberi ceramah tentang salib sedang beredar luas di media sosial, dalam potongan video itu, terdengar jelas bahwa ustaz kondang ini menyingung tentang salib dan katanya terdapat jin yang menjadi kekuatan dari salib itu.

Kemunculan video ini memunculkan banyak respons di kalangan netizen. Ada yang tersinggung dan berbalik menyerang Ustaz Somad. Sebaliknya, ada yang menanggapi dengan tenang-tenang saja.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan hendak menanggapi video “yang menurut saya masuk dalam kategori pelecehan agama” dengan makian atau balas menghina Ustaz Somad, seperti banyak tulisan di media sosial sebagai respons atas video yang sudah ditonton ribuan orang ini.

Lewat tulisan ini, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ustaz Somad. Karena berkat ceramahnya tentang Salib yang membuat heboh ini, kami kemudian terjaga dan sadar serta lebih peduli dengan iman kami yang sering kali dangkal. Ustaz membuat kami untuk mulai buka Google dan buku-buku teologi tentang salib serta kitab suci untuk merefleksikan ajaran teologi tentang salib.

Saya menyadari fakta bahwa sering kali saya belajar mendalami agama, mendekati diri saya pada Tuhan melalui teori-teori tentang-Nya, hanya ketika agama saya dipertanyakan, dilecehkan, dihina, ketika ada faktor eksternal yang membuat saya harus mempertahanka iman saya. 

Padahal belajar agama dan pendalaman iman adalah kerja setiap hati. Ia adalah pertanggungjawaban kepada Tuhan yang dilakukan seumur hidup. 

Belajar agama adalah kewajiban, yang dijalankan saat baik atau tidak waktunya. Belajar agama adalah belajar kehidupan itu sendiri. Belajar dan tahu hakikat iman adalah jalan untuk makin rendah hati terhadap sesama sebagai makhluk fana dan terbatas.

Ustaz Somad, engkau memang banyak disanjung oleh umatmu, karena cara ceramahmu yang memunculkan inspirasi, guyonanmu yang kontekstual dan segar, membuat beragama itu menarik dan enak dijalani. Dan karaktemu itu juga memang sempat membuat saya jatuh hati dengan cara ceramahmu.

Di video terbaru ceramahmu, saya mendengarkan ceramahmu yang jauh dari biasanya. Katanya, engkau menjelekkan salib, tanpa mengetahui ajaran teologis di balik salib itu sendiri. Banyak yang kecewa, marah, dan sedih. 

Tapi toh saya tetap menghormatimu sebagai salah satu penceramah atau ustaz yang hebat. Alasannya, karena dirimu mampu memberikan pencerahan atau pesan yang sering tak terkira, pesan dari pengalaman-pengalaman negatif yang walau menyakitkan tetapi menarik untuk ditelisik, direfleksikan lebih jauh.

Ustaz membantu saya untuk berpikiran positif, sabar, dan tidak asal-asalan memberikan respons. Ustaz membantu saya untuk menyadari realitas, kembali ke belakang, bahwa banyak kali, saya dan juga mungkin orang lain yang agamanya menyembah salib, tidak kurang melecehkan agama lain dengan kata atau perbuatan yang tidak mengenakkan. Sangat tidak enak kalau saya membela agama saya, justru dengan cara pun tindakan yang juga sama melecehkan.

Karena itu, setelah menonton ceramahmu, khususnya yang lagi heboh itu, bagi saya, ini adalah jalan untuk saya belajar menilai sesuatu dengan adil, bereaksi dengan hati-hati sekaligus tetap tenang, tidak membalas sesuatu dengan ceroboh. Saya tidak mau merasa beban atau merasa dilecehkan, toh pelecehan itu tidak pernah menggangu kualitas keimanan saya serta merendahkan salib itu secara maknanya yang susbtansial dalam agama saya. 

Salib itu tetap salib, ia memang tanda hina. Tuhan saya memang sudah sejak awal mula mau jadi hina-dina. Ia memang hina, tapi ia mengingatkan saya, walau hina dan dihina, penting untuk saya agar tidak membalas hal yang buruk dengan yang buruk, balas dengan yang baik saja, bahkan doa agar yang buruk jadi baik.

Hal yang lain dari ceramah Ustaz juga mengantar pemahaman dan kesadaran saya pada satu nilai bahwa selalu ada pelajaran berharga yang bisa dijadikan bahan untuk memahami secara lebih dalam apa yang belum sepenuhnya saya pahami.

Santo Agustinus pernah mengatakan, aku percaya untuk mengerti dan aku mengerti supaya aku percaya lebih baik. Saya beriman bukan untuk bekal dapat hidup bahagia di akhirat nanti, saya beriman untuk memahami hidup yang sekarang, sebagai jalan persiapan yang baik untuk mendapatkan kebahagian di akhirat. Dan Ustaz membantu saya untuk memahami maksud Santo Agustinus secara baik. 

Karena itu, saya selanjutnya disadarkan untuk tidak perlu bereaksi yang berlebihan ketika agama saya itu dilecehkan oleh dirimu, atau siapa saja, karena reaksi hanya akan menimbulkan aksi dan reaksi yang tidak berkesudahan yang juga akan menimbulkan keributan dan persoalan besar dalam kehidupan bersama.  

Iman bukan untuk dipersoalkan. Iman itu dihayati, ya supaya saya percaya dan mengaplikasikan kepercayaan itu dalam kehidupan bersama secara lebih baik dan bertanggung jawab. Iman itu, kalau mau dipersoalkan, boleh. Tetapi yang penting, tahan emosi dan jangan cepat baku hantam saja.

Secara pribadi, saya seorang Katolik yang jujur belum sepenuhnya mendalami apalagi memahami konsep Salib. Karena itu, ceramah Ustaz Somad menjadi seperti motivasi bagi saya untuk mencoba kembali kepada inti terdalam ajaran iman, bukan untuk menjadi seorang yang mau bela ajaran agama saya atau membela Tuhan.

Ya, seperti kebanyakan pemandangan yang terjadi selama ini. Jika agama-agama kita dilecehkan sedikit saja, langsung marah-marah. Saya justru kembali untuk mendalami yang masih kurang, lalu percaya untuk mengerti sepenuhnya.

Ustaz Somad, saya tidak tahu nanti nasibmu. Karena berdasarkan pengalaman masa lalu, di negara ini, oknum yang melecehkan kepercayaan agama lain akan dikenakan sanksi hukum. Mungkin dirimu akan kena sanksi atau mungkin juga tidak, saya tidak mau lebih jauh bahas tentang itu. 

Tapi terlepas dari sanksi itu, saya mau ucapkan terima kasih untuk video ceramahmu yang walau bagi sebagian orang menjengkelkan, tetapi juga mengandung pesan-pesan terselubung yang kaya inspirasi dan membuka ruang bagi saya untuk mendalami iman saya secara lebih baik dan benar.