“Udah, mungkin ini memang ujian buat kamu. Mikir positif aja, yang sabar aja ya…. Kan setiap orang yang mau naik kelas harus ujian dulu. Ini ujian biar kamu naik kelas. Biar jadi orang yang lebih baik.” 

Akrab dengan ucapan di atas? Ya, ini respon formalitas yang katanya penganut pikiran positif. Apa iya, semua kondisi orang harus diselesaikan dengan langsung mikir positif?

Saya ingat betul kejadian 5 tahun lalu saat keponakan saya, Tesla, gagal masuk PTN pilihannya. Tesla begitu terpukul. Ia mengurung diri di kamar sampai berhari-hari. Ia menjadi pendiam, menjawab seperlunya. Hingga hari kelima dalam pengurungandirinya itu, ia menolak untuk diajak bicara.

Masih di tahun yang sama, kejadian lain menimpa Mbak Linda, tetangga dua rumah dari rumah saya. Bukan persoalan gagal tes, ini lebih berat. Gagal nikah. Pernikahannya batal karena ternyata calonnya sudah punya istri di kampung lain. Sudah tidak dielakkan, mbak Linda depresi.

Kejadian lain terjadi saat lomba 17-an kemarin. Namanya lomba pasti ada yang menang, ada pula yang kalah. Kekalahan lomba mewarnai dialami oleh Nayla, anak tetangga, masih kelas 1 SD. Sampai dua hari setelah dinyatakan tidak juara, Nayla ngambek

Dari tiga kejadian tadi, berbeda kondisi dan pelakunya. Tapi yang membuat saya heran adalah respon orang di sekitar pelaku. Orang di rumah saya, keluarga mbak Linda, dan orang tua Nayla, kompak merespon dengan kalimat yang sama dengan kalimat penganut pikiran positif di atas.

Dari mulai sabar, mikir positif, keberhasilan yang tertunda, besok masih ada kebahagiaan menanti, dan sejenis kalimat lain yang terdengar menenangkan dan sangat-sangat positif.

Sudah beda tahun, tapi kok ya responnya masih sama saja. Sepertinya mereka tidak paham kalau kalimat yang mereka ucapkan itu tidak membuat Tesla keluar kamar, mbak Linda terbebas dari depresinya dan Nayla ceria kembali. 

Mereka hanya tahu soal waktu. Ya, hanya waktu dan Tuhan yang membuat ketiga orang tadi kembali menjadi seperti sedia kala sebelum kejadian. Hingga detik ini, saya masih belum bisa setuju dengan respon mikir positif itu.

***

“Om boleh curhat ndak? Aku kok gak selesai-selesai ya kuliahnya. Ini sudah semester sembilan lho…, capek aku om gini terus. Apa memang aku tuh bodoh ya om?” Ucap Tesla pada saya suatu sore.

Tunggu. Alih-alih kaget, saya malah tertawa kecil mendengar ucapan Tesla. Bukan karena lucu tapi tidak biasanya Tesla curhat ke saya sore itu. Semenjak pandemi, kami sering nongkrong berdua di teras sembari menikmati kopi dan senja. Dari suasana ini, ternyata ada kedekatan dan curhat yang akhirnya keluar.

Selain suasana, ternyata Tesla merasa nyaman curhat ke saya dibanding orang lain, bahkan orangtuanya sendiri. Ia mengatakan jika orangtuanya gak asik. Gak bisa diajak ngobrol. Rumusan diagnosisnya ya cuma kurang ibadah. Sarannya ya hanya sabar, mikir positif. 

Tesla ingin dimengerti sebagai manusia yang punya lelah, marah, kesal dan beragam emosi. Dia mendapatkan itu dari obrolan bersama saya.

Bukan. Saya bukan psikolog atau psikiater ya. Tapi memang saya mendapatkan cara merespon emosi orang itu dari Nago Tejena dan Jiemi Ardian. Merekalah yang mengenalkan istilah toxic positifity pada saya. 

Istilah toxic positivity berarti bahwa setiap kalimat positif yang kita berikan pada orang lain, belum tentu membuat orang nyaman, bahkan malah sebaliknya. Persis yang dialami Tesla dari curhat bersama orangtuanya.

Dari penjelasan mengenai toxic positifity ini, saya bahagia sekali. Merasa akhirnya ada yang bisa menjelaskan ketidaksetujuan saya terhadap apa yang selama ini dilakukan orang-orang di sekitar saya untuk merespon kegagalan atau kesedihan orang. Sedikit-sedikit sabar, sedikit-sedikit mikir positif.

Memang yang saya tahu, mikir positif itu maksudnya agar kita tidak suudzon. Tidak berprasangka yang buruk. Karena konon katanya, prasangka buruk itu hal negatif dan hanya akan membuat kita mikir negatif. Jadi penyelesaian masalahnya nanti ya negatif alias tidak selesai dengan baik. 

Tapi, apa iya sih kalau ada orang lagi sebel, kesel, sedih, gagal, lalu dia menceritakan hal tersebut pada kita akan selesai dengan “mikir positif aja….” ?. Buktinya: Tesla, Mbak Linda dan Nayla. Bagaimana dengan kita?

Bayangkan. Kita sedang marah dan kesal akan suatu hal. Lalu menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Cerita kita langsung direspon mikir positif seperti di atas. Apa yang kita rasakan? Saya yakin tidak akan nyaman. Malah makin marah, ya kan

Jika marah dan emosi yang lain kita anggap sebagai sebuah energi, ucapan mikir positif yang diucapkan untuk menghilangkan energi itu apa ya bisa? Ya, nggak lah!

Dulu, guru SD saya pernah bilang kalau yang namanya energi, ya cuma bisa diubah bentuknya. Tidak bisa dihilangkan. Oleh sebab itu, saya sangat-sangat tidak setuju jika anjuran mikir positif itu digunakan sebagai respon pertama pada orang yang lagi marah, kesal, jengkel, atau sedih karena gagal. 

Bukan mengubah energi, malah nge-block dan membalikkan ke sumber energinya. Hasilnya ya bentrok. Gak nyaman. Toxic.

Cara terbaik untuk mengubah energi dari emosi, langkahnya dua. Diam menyimak, lalu merefleksikan apa yang dirasakan orang yang sedang bercerita kepada kita. Seperti yang saya lakukan pada Tesla. Dengan melakukan hal ini, orang akan merasa didengar, dirasakan, dan diberikan pendampingan. 

Gampangnya ya merasa benar-benar ditemani. Bukan malah diadili dengan kurang ibadah, harus bersabar ini ujian, mikir positif dan sejenisnya. Ini kesimpulan yang juga saya dapatkan setelah tahu penjelasan toxic positifity.

Seandainya lima tahun lalu keluarga saya dan keluarga mbak Linda tahu akan hal ini, mungkin Tesla dan mbak Linda tidak perlu mengurung diri sampai depresi. Begitu juga dengan Nayla. Kita bisa menjadi tempat yang nyaman, setidaknya untuk orang-orang terdekat kita. Seandainya.