5 bulan lalu · 4789 view · 5 min baca · Politik 86938_59299.jpg
CNN Indonesia

Terima Kasih, Romo Magnis

Tanggapan atas Franz Magnis Suseno SJ

Tulisan Romo Franz Magnis Suseno SJ di Kompas, Selasa, 12 Maret 2019 memang sukses menuai kicauan atau trending topic di media sosial. Uniknya, trending yang muncul sangat beragam; ada yang terkejut, sepakat, sampai menghujat. Apa pasalnya?

Tulisan rohaniwan Katolik ini menyatakan bahwa orang-orang yang memutuskan menjadi golongan putih adalah orang-orang yang lemah mental, golongan stupid, karena kecewa lalu memutuskan tidak memilih.

Singkat cerita, gagasan Romo Magnis memang tidak ada kebaruan dari 5 tahun yang lalu. Rumus andalannya adalah: jika tidak memilih, maka kita membiarkan yang terburuk di antara yang buruk berkuasa. Itulah tugas Pemilu untuk mencegah hal itu terjadi dalam iklim demokrasi.

Gagasan Romo Magnis jelas sangat usang. Banyak yang mengkritik usianya yang tua telah membuat gagasan profesor filsafat ini menjadi hambar. 

Bertubi-tubi saya membaca kekecewaan terhadap Romo Magnis yang dikenal sebagai aktivis pluralisme dan kemanusiaan ini. Ada yang bahkan menyebut Romo Magnis tak jauh berbeda dari Rocky Gerung, ada pula yang mengkritik diksi-diksi Romo Magnis yang sangat tajam dan keras.

Saya justru mengambil jalan yang berbeda dalam mengilhami tulisan Romo Magnis. Saya tidak serta-merta memberikan judge atas tulisan tersebut, dan mengabaikan kekecewaan teman-teman yang golput. Sebab saya pun sempat terpikir untuk golput. Mengapa demikian?

Banyak teman-teman yang ingatannya sangat pendek terhadap sosok Romo Magnis. Maka izinkanlah saya mengingatkan kembali. 

Romo Magnis bisa disebut sebagai salah satu aktivis merangkap pengajar dan rohaniwan yang dari tahun ke tahun sangat berkomitmen menjaga iklim demokrasi di Indonesia. Dia juga satu-satunya yang saya tahu masih turut serta berjuang bersama kawan-kawan pejuang HAM saat Aksi Kamisan di depan Istana.

Saya mencatat, dari beberapa penelusuran di media sosial, misalnya saja pada 2015, setahun sesudah Presiden Joko Widodo hijrah dari Kantor Gubernur Jakarta ke Istana Negara, ia terus mengingatkan janji kampanye untuk menuntaskan korupsi dan kasus HAM.

Dilansir dari Kompas.com, melalui artikel berjudul Franz Magnis Berharap Jokowi Fokus Berantas Korupsi dan Selesaikan HAM Masa Lalu, tertera kritik dan harapan Romo Magnis agar Jokowi tak lupa pada janji-janjinya. 

Romo Magnis lalu menerima penghargaan Bintang Mahaputera dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara atas kerja dan pemikirannya selama ini dalam bidang pluralisme dan kemanusiaan di Indonesia pada Agustus 2015.

Baca Juga: Saya Golput!

Bergeser ke tahun-tahun berikutnya, 2016 sampai 2018, Romo Magnis juga rajin mengungkapkan ketakutan dia pada komitmen penyelesaian kasus HAM yang tidak dikerjakan pemerintahan Jokowi. 

Romo Magnis juga yang paling rajin mengingatkan penyelesaian kasus HAM, bukan hanya yang baru terjadi, tetapi kasus 1965 yang masih menjadi misteri dan banyaknya status masyarakat yang termarjinalkan sejak revolusi berdarah itu.

Konsistensi Romo Magnis dalam jalur perjuangan dan komitmen pengembangan ilmu filsafat di Indonesia jelas belum sebanding dengan beberapa tokoh yang ada. Sebut saja Rocky Gerung. 

Sedihnya, akibat tulisan kontroversial Romo Magnis, dia dicap telah menjelma partisan bagai Rocky Gerung. Sungguh picik pikiran seperti itu menurut hemat saya, sebab kontribusi Romo Magnis tidak bisa disamakan dengan Rocky Gerung. Seumur hidup, ia tidak pernah berpolitik praktis atau mengabdikan diri pada ritual filsafat partisan.

Dalam pandangan saya pribadi, tulisan bernada sangat emosional dari Romo Magnis tentu sekilas sangat bertolak belakang dengan aktivis HAM. Apalagi mengingat rata-rata kawan-kawan yang memutuskan golput juga adalah para aktivis yang ikut berjuang bersama Romo Magnis selama ini.

Namun ada kecatatan yang dibaca para pembaca dalam menilai tulisan Romo Magnis. Itu adalah sebuah tulisan yang diberikan secara utuh sebagai seorang rohaniwan. 

Romo Magnis yang notabene anggota Ordo Serikat Jesus atau Jesuit, satu komunitas dengan Paus Fransiskus I, mengarahkan pembaca: ayo, kuatkan mentalmu dan memilih. Itu adalah metode diskresi panggilan dalam Latihan Rohani yang diajarkan pendiri Jesuit sendiri, Ignatius Loyola.

Tertulis amanah dalam Latihan Rohani itu: YA katakan YA. TIDAK katakan TIDAK. Abu-abu atau keragu-raguan, lepas tangan, segala sesuatu di luar pilihan itu adalah sesat. Keputusan itu adalah dari setan. 

Dalam latihan rohani itu, mengapa pilihan yang ada hanya YA dan TIDAK? Sebab hanya dua pilihan itu yang bisa membuat perubahan dalam hidup seseorang.

Tulisan Romo Magnis secara gamblang adalah tulisan dari seorang rohaniwan yang sangat subjektif ketimbang seorang tulisan profesor filsafat. Sepertinya Romo Magnis sendiri sudah mengisyaratkan itu dalam identitasnya.


Tertulis ‘Rohaniwan’ dan ‘Mantan Pengajar’ di STF Driyarkara. Artinya, dia lebih ingin dikenal sebagai seorang rohaniwan saat ini. Selain itu, sepertinya dia sadar penuh bahwa landasan berpikir dan refleksi dalam tulisannya adalah nilai-nilai Jesuit.

Apakah itu salah? Tentu tidak. Seseorang dengan baju agama bisa berpendapat di alam demokrasi. Apakah Romo Magnis menjelma rohaniwan partisan yang fasis atau ekstremis kanan? Saya yakin tidak. 

Romo Magnis jelas sudah khatam betul soal perjuangan kemanusiaan yang selalu didengungkan dalam Ajaran Sosial Gereja (ASG), dari mulai Rerum Novarum sampai Laudato Si. Itu pula yang saya yakini menjadi prinsip perjuangan Romo Magnis dalam mengawal kasus-kasus HAM dan mendampingi mereka yang termarjinalkan.

Tingkat emosi Romo Magnis dalam tulisan itu juga sangat manusiawi dan sangat bisa dipahami. Biar bagaimanapun, dalih bahwa ‘tidak seharusnya Romo Magnis menulis seperti ini’ harus dibuang jauh-jauh. 

Usia beliau saat ini juga sudah sangat tua. Saya tidak akan lupa gemparnya kejadian Romo Magnis pingsan di kampus saya beberapa tahun lalu saat hendak mengisi acara. Sontak semua orang mengirimkan foto Romo Magnis melalui media sosial dalam keadaan tak berdaya. 

Ya, demikianlah perilaku kita di media sosial yang sangat bersumbu pendek, bukan? Lalu kita mau berbicara panjang lebar soal perjuangan? Mungkin lebih tepatnya kita harus belajar menghargai baru berjuang agar tak lemah mental di tengah pertarungan.

Melihat dinamika di media sosial, saya malah membatin sendiri, apakah saya juga tergolong manusia yang lemah mental dalam menghadapi kejahatan demi kejahatan di negara ini? 

Berangkat dari refleksi itu saya tahu, ide usang dari Romo Magnis adalah penanda, kita tidak tumbuh dengan cepat sebagai bangsa. Kita tumbuh tapi sangat lambat. 

Apalagi, saya juga tersadarkan, ide usang Romo Magnis, berbanding lurus dengan ide golongan putih yang usang soal perjuangan membongkar sistem oligarki dan menuntaskan elite.

Sejatinya, keterpaksaan dan emosi Romo Magnis mengajak orang memilih adalah hitungan matematis meminimalisasi kegagalan dalam perjuangan dan mengurangi penambahan masalah. Itu pun jika hitungan Romo Magnis tepat, sebab politik tidak sepasti ilmu matematika.


Akhir kata, keusangan ide Romo Magnis, dan minimnya kaum intelektual yang setara Romo Magnis atau almarhum Gus Dur saat ini menjadi penanda, kita perlu lebih banyak menambah kapasitas berpikir dan kapasitas berbesar hati. Berlapang dada dan pantang menyerah. Berjuang tanpa menuntut imbalan. 

Sejatinya, pernyataan lemah mental bukan sekadar sindiran kepada kaum golongan putih, tetapi juga alarm dari Romo Magnis: kita perlu memikirkan masa depan, siapa yang akan menggantikan para tokoh perjuangan HAM di masa depan. 

Lemah mental ini juga sebuah kata kunci pembangunan bangsa ketimbang diksi nyinyir, sebab tidak boleh ada yang lemah mental dalam perjuangan. Perjuangan HAM itu tidak mengenal zaman dan tidak akan pernah selesai.

Ingatlah pembaca sekalian, tidak selamanya kita hanya mengandalkan Romo Magnis, apalagi mengharapkan dia menulis sesuatu sesuai harapan kita. Lepaskan candu yang membuat kita lemah mental. 

Candu itulah yang juga saya sadar membuat hoaks dan penyebaran informasi palsu mudah terjadi. Kita apatis dan cenderung mau menerima dan membaca apa yang sesuai dengan selera dan logika kita saja.

Terima kasih, Romo Magnis, atas opininya soal golput. Saya jadi paham, Anda jauh lebih ‘Jesuit’ ketimbang seorang filsuf. Saya mendoakan, Romo Magnis sehat selalu.

Artikel Terkait