“Teruslah membaca & menulis.” 

Ungkapan itu saya pilih untuk mengawali catatan ini. “Teruslah membaca & menulis.” Merupakan ungkapan yang disampaikan oleh Nong Darol Mahmada kepada saya sebanyak 3 kali melalui akun Twitter @nongandah. Pertama pada pada 24 Januari 2017 pukul 07.59; kedua pada 24 Oktober 2017 pukul 09.13; serta ketiga pada 01 Februari 2019 pukul 12.41.

Walau cuitan mbak Nong—sapaan saya kepadanya—ditulis dengan beberapa perkataan lain, secara keseluruhan ketiganya memiliki kesamaan: sama-sama mengandung ungkapan, “Teruslah membaca & menulis.” 

Sebagai murid sekaligus penggemar Nong Darol Mahmada, ungkapan singkat tersebut terasa memberi dorongan kuat kepada saya untuk menerbitkan beberapa karya tulis—baik dalam bentuk artikel scholar maupun popular. Terlebih ungkapan itu disampaikan oleh mbak Nong sebagai tanggapan terhadap catatan saya tentangnya.

So, how I was going to feel, when I read her statements? Was I going to feel nervous? Excited? Confident? Cautious? Happy? Sad? Loved? Hated? Relieved? Scared? On one hand, it’s such a simple idea — describing, or even predicting, a feeling. It’s such a simple question. But on the other hand … it felt so unknowable. It felt like all of the emotions in the world, every single one of them.

Bila ditarik ke belakang, sebelum Mbak Nong menulis ungkapan itu, dirinya sudah beberapa kali memberikan pesan yang sama pada saya secara tersirat. Satu contoh bagus adalah melalui artikel Membangun Fikih yang Pro-Perempuan, Mbak Nong menulis, “Bangunan dan hasil pemikiran atau ijtihad para ulama klasik terhadap penafsiran Alquran dan hadis atau biasa disebut fikih menjadi landasan legal-formal umat Islam dalam beribadah dan berkehidupan sosial. 

Dalam fikih itulah semua kehidupan umat Islam diatur, dari kehidupan pribadi seperti nikah, puasa, zakat, salat, dan khitan, hingga kehidupan sosial dan politik.”

Ungkapan yang dibaca ketika masih imut-imut menggemaskan itu berhasil membuka hati saya untuk mendalami kajian keislaman (islamic studies). Saya penasaran dengan tuturan, “...Dalam fikih itulah semua kehidupan umat Islam diatur ...” yang ditulis oleh Mbak Nong. 

Beruntung, Mbak Nong menyalurkan hidayah Allah kepada saya bahwa ‘untuk mendalami kajian keislaman perlu untuk nyantri di pesantren’. Alhasil, saya pun nyantri di pesantren MUS-YQ yang diasuh oleh Kiai Muhammad Arifin Fanani, seorang pakar fikih. Kurikulum MUS-YQ yang terasa diarahkan untuk mendalami fikih membuat saya mengamini dan mengimanni tuturan Mbak Nong bahwa dalam fikih itulah semua kehidupan umat Islam diatur.

Lebih lanjut, saya berangan andai pembelajaran fikih bisa dilaksanakan dengan bagus sesuai dengan karakteristik ilmu tersebut, rasanya tahun 2019 ini tak akan muncul pertanyaan maupun pernyataan seperti, “Mbak Nong kenapa tidak berjilbab?”, “Bagaimana hukum men-sholat-i jenazah yang berbeda pilihan calon gubernur?”, maupun pertanyaan lain yang membuat derap perkembangan fikih sulit melaju.

Tentu ada banyak faktor terkait perjalanan saya selama mendalami kajian keislaman. Namun, yang jelas Mbak Nong punya kapling permanen tersendiri di antara banyak faktor itu. Kapling yang penting seiring perannya sebagai pemberi dorongan awal. Peran yang membuat dirinya pantas saya sebut sebagai Guru yang Menyapih

Satu sisi Mbak Nong saya anggap sebagai guru, karena di-gugu dan di-tiru. Di sisi lain, dirinya boleh dibilang tidak pernah mengajar saya secara instensif laiknya saya mengajari santri di pesantren dan madrasah, sehingga terasa seperti menyapih.

Guru yang Menyapih belakangan menjadi ungkapan untuk menjuduli artikel saya tentang Mbak Nong. Artikel itu sendiri berisi cuplikan kasar perjalanan personal Mbak Nong. Meski di dalamnya berkisah tentang perjalanan Mbak Nong, artikel itu tak dapat dianggap sebagai biografi, melainkan lebih tepat sebagai buah perkenalan verbal antara saya dengan Mbak Nong.

Dalam konteks perkenalan verbal tersebut, saya berusaha mencermati, menggali, dan menemukan Mbak Nong. Sebab dari konteks itu, saya bukan saja menangkap pemikiran dari Mbak Nong, juga bisa menghayati. 

Penghayatan itulah yang saya rangkai menjadi kisah tentang Mbak Nong yang disampaikan dengan cara menjadikan diri saya sebagai pencerita. Karena saya menjadikan diri saya sebagai pencerita, maka di dalam artikel itu pun sesungguhnya bercerita tentang saya meski dijuduli Guru yang Menyapih.

Beruntung pada 26 Desember 2015 silam, akhirnya bisa berjumpa, mencium tangan, serta ngobrol bertatap muka beberapa waktu. Bahkan Mbak Nong memberi kesempatan kepada saya untuk dapat berinteraksi dengannya. Sesuatu yang terasa amat istimewa.

Saya mengagumi dan menghormati Mbak Nong, sekaligus berterima kasih karena telah memberikan banyak hal kepada saya. Kesempatan berinteraksi membuat saya asyik. Asyiknya begini: banyak hal yang semula cuma saya pahami sebagai penjelasan tertulis maupun penjelasan lisan, dari interaksi semua itu menjadi penjelasan hidup yang nyata.