Walaupun beberapa waktu belakangan ini saya menganjurkan semua pihak untuk mengurangi penggunaan kertas (paperless) karena biaya produksinya yang terus-menerus menanjak, harus diakui bahwa sebenarnya saya adalah generasi kertas, khususnya buku. 

Di masa sekolah dasar, saya berlangganan Majalah Hidayah. Ketertarikan saya kepada Islam mungkin awalnya berkat pengaruh majalah ini.

Belakangan, banyak orang yang nyinyir karena cover majalah terlalu divisualisasi secara berlebihan, seperti liang kubur berbau menyengat ketika jenazah hendak dikubur, hingga munculnya aneka binatang dari tubuh si jenazah. 

Tapi yang perlu diketahui bahwa kisah tersebut hanya satu dari sekian chapter yang ada. Saya sendiri lebih suka bagian sejarah Islam.

Selain Majalah Hidayah, saya juga berlangganan Bobo dan Komik Manga, mulai dari Crayon Shincan, Doraemon, Yu Gi Oh!, hingga yang paling lengkap Detective Conan

Pengalaman ini perlu saya ceritakan sebagai pengantar bahwa hubungan saya dengan buku bukan datang secara tiba-tiba, melainkan seperti telah di-setting dan difasilitasi oleh orang tua. Salah satu jasa yang sangat saya syukuri hingga hari ini.

Pengalaman bersama buku terus berlanjut dan menemukan titik klimaksnya ketika saya berada di bangku perkuliahan, di mana setiap hari senantiasa saya agendakan untuk membaca minimal seratus halaman. Dan puji Tuhan, kecintaan saya pada buku ini telah berbuah, meski tidak selalu banyak.

Kuliah merupakan sebuah masa di mana saya mulai dibukakan sebuah pintu gerbang kehidupan. Tidak seperti kehidupan sebelumnya yang dijalankan dengan mengikuti arus, fase perkuliahan sangat membantu saya untuk mulai membentuk sebuah pandangan hidup. 

Beberapa pandangan dan keyakinan yang diterima secara taken for granted mulai dipertanyakan kembali. Pertanyaan-pertanyaan kompleks dan filosofis bermunculan dan dicoba untuk dikonstruksi, meskipun sampai hari jawabannya masihlah bersifat tentatif, berkemungkinan untuk senantiasa direvisi.

Bahkan dalam segmen-segmen tertentu, saya mencapai suatu momen di mana ruang kelas tidak lagi menjadi sebagai sebuah tempat memperoleh informasi, melainkan sekadar tempat untuk mengonfirmasi hasil bacaan. Ketika dosen memberi tahu a, b, atau c, saya sudah mengetahuinya dalam buku, bahkan dalam hal tertentu bisa lebih kritis daripada mereka. 

Ini wajar. Karena di satu sisi, mungkin mereka sudah memiliki kewajiban-kewajiban lain, sedangkan saya saat itu posisinya hanya sebagai pelajar. Tidak perlu memikirkan uang, suami/istri, anak, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang pencinta buku, saya mengamati bahwa orang yang berpemikiran luas, kritis, dan terbuka tidak melulu berbanding lurus dengan status/akreditasi kampus. Bisa jadi dia kuliah di kampus favorit, tetapi tidak banyak hal yang didapatkannya dari kampus tersebut.

Sebaliknya, ada orang yang kuliah di kampus yang dianggap biasa-biasa saja, tetapi memiliki pandangan yang luas, kritis, dan terbuka. Mengapa demikian? Karena tidak semua kampus dapat memberikan suasana akademis yang baik.

Di luar itu semua, sebenarnya semua kembali ke pribadinya masing-masing. Ketika kita tidak mau mencoba membentangkan sayap, mencari pengalaman lain di luar kelas atau melakukan self-education, maka bersiaplah, setelah lulus, kita tidak akan menjadi orang pada umumnya, sebuah status yang sangat tidak saya inginkan. 

Mungkin kita akan mendapatkan pekerjaan pasca wisuda. Tetapi, lagi-lagi, saya tekankan, kehidupan dan cara pandang hidup kita tetap berjalan di tempat, stagnan.

Tetapi ingat, membaca buku pun harus dengan mempraktikkan semacam kode “etik”, yaitu tidak mudah percaya seratus persen dari apa yang dipaparkan dalam buku. Karena tidak ada manusia yang sempurna, maka kita berhak untuk sanksi dan meragukan isi buku beserta analisis penulisnya. Selain itu, supaya terhindar dari jurang kefanatikan, wajib membaca beragam sudut pandang.

Terakhir, daya serap kita atas buku tersebut diuji kembali dengan berdiskusi. Di sinilah urgensi bergabung dengan sebuah komunitas. Selain bermanfaat untuk menguji dan mendialogkan hasil bacaan, komunitas juga bermanfaat bagi kita untuk menerima informasi baru. 

Waktu yang kita investasikan untuk membaca suatu buku tertentu telah membuat kita terhalang, di dalam waktu yang sama, membaca buku yang lain, yang mungkin juga sangat bermanfaat. Oleh karena itu, diskusi atau pertukaran informasi yang berbeda di dalam suatu komunitas merupakan suatu kebiasaan yang perlu dipelihara.

Secara personal, saya tidak menyarankan untuk mengambil informasi penting dan kompleks dari sebuah website atau blog. Karena kemungkinan besar sifat informasinya dangkal.