Researcher
1 tahun lalu · 366 view · 5 min baca menit baca · Politik 35440_51840.jpg
Foto: CNN Indonesia

Tergerusnya Kearifan Lokal Pribumi

Pribumi dan Privilege Bagian I

Saya tidak mau lagi membahas political correctness istilah ‘pribumi’ karena orang-orang kompeten seperti Suryo Prabowo, Tengku Zulkarnain, Eggi Sudjana, Fadli Zon, dan Fahri Hamzah sudah menjelaskannya tanpa bisa disalahkan. Tetapi, maraknya kembali isu ‘Pribumi’ (vs ‘Non-Pribumi’) dengan berbagai klaim yang dilontarkan para netizen sampai pejabat negara tersebut, ternyata bukan tanpa dasar.

‘Pribumi’ ternyata lebih dari sekadar identitas agama yang super Esa (wajib disamakan dengan ‘Eka’ sesuai konteks akademis Eggi Sudjana) dan etnis yang tidak berkulit pucat. Pribumi adalah nilai-nilai luhur – kearifan lokal – yang mulai tergerus oleh generasi millenial. Tanpa malu,kids jaman now ini melancarkan kritikan pedas pada berbagai bentuk kearifan lokal pribumi yang sudah diterima sebagai norma di masyarakat.

Maka, menurut hemat saya, dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda ini, ada baiknya kita mengingat nilai-nilai pribumi yang mulai tergerus dan terancam oleh perlawanan para millennials. Seperti apa contohnya?

Misalnya saja, pertama, soal meminta oleh-oleh pada keluarga atau teman yang jalan-jalan, terutama ke luar negeri. Ada banyak anak muda yang rupanya mulai mengikuti budaya asing backpacker yang berarti minim oleh-oleh. Maka mereka mengritik budaya pribumi yang minta oleh-oleh  berlebihan, mulai dari coklat, iPhone X sampai tas Hermes; sehingga si traveller kerepotan membawanya.

Bahkan, ada yang berdalih budaya ini menyuburkan praktik korupsi. Sungguh kurang ajar sikap anak muda ini pada orang-orang kaya dan pejabat.

Tetapi, rupanya para millennials ini didukung oleh kebijakan pemerintah untuk menaikkan bea masuk bagi barang-barang belanjaan yang mahal-mahal. Ternyata memang benar, rezim saat ini lebih mendukung budaya asing yang cenderung travelling light daripada budaya pribumi yang memamerkan kekayaan bangsa di luar negeri. Bagaimana mungkin kita membuat orang-orang kafir asing itu melongo?

Yang kedua, kedengaran sepele, tapi cukup serius: meminta traktiran pada yang ulang tahun. Lagi-lagi, mereka mendengarkan pendapat bule kafir! “Di negara kami, teman-temanlah yang mentraktir yang ulang tahun,” katanya.

Jadi, pengeluaran per orang malah lebih ringan. Ini gila! Bahkan hal-hal sepele saja mereka mau mencontoh orang bule. Sudah tahu perayaan ulang tahun itu warisan agama kafir, masih mau dimodifikasi dengan budaya kafir asing pula.

Lalu ketiga, soal pendidikan. Ini lagi mereka mau meniru Finlandia! Anak-anaknya tidak stress, tidak dibebani PR, tidak dijejali les dan tidak terlalu dikejar nilai. Bagaimana pribumi mau bersaing dengan komunis China yang anak-anaknya dikurung di kamp persiapan ujian?

Ya, dengan belajar calistung, bahasa Inggris-Mandarin-Arab-Slovenia-Swahili-Quechua, dan dijejali les ini-itu sejak PAUD. Mana ada anak Finlandia menang olimpiade sains? Tas orang dewasa mereka saja kalah berat dengan tas anak TK kita!

Tetapi, ada satu bentuk perlawanan budaya asing dari para mamah muda pribumi. Mereka mengunggah nilai ujian anak-anaknya yang dapat A+ atau A++. Atau kalaupun si anak belum sekolah, mereka bercerita betapa cepat perkembangan sang anak yang dibiayai kelancaran finansial sang ayah.

Uang memang tidak bisa bohong: dengan memberi asupan gizi dari quinoa, butternut squash dan Ipomea batatas; anak akan lebih cepat berjalan, bicara, membaca dan main piano.

Pameran prestasi anak di media sosial ini memacu semangat kompetisi antar para tiger mom, sehingga ayah akan bekerja lebih keras sampai lembur dan anak belajar lebih giat sampai pulang sekolah larut malam. Demikianlah budaya membebani pendidikan anak akan dilestarikan.

(Oh ya, buat yang anaknya ‘ketinggalan’ karena bodoh atau punya sindrom apa yang namanya lucu-lucu itu, jangan baper ya: iri itu dosa. Ini jaman medsos, bunda. Terserah kami mau mengunggah apa, yang bereaksi negatif itu yang salah.)

Keempat, lagi-lagi ini alarm untuk para ibu pribumi: menawar belanjaan! Ya, millenials mulai lebih suka belanja online yang harganya pas. Jadi mereka berniat menghilangkan budaya tawar-menawar karena kafir asing bodoh junjungannya tidak bisa menawar! Lalu, mereka menggunakan foto pedagang miskin yang berjualan sekedar menyambung hidup untuk mengetuk hati para ibu itu supaya membayar lebih mahal! Enak saja! Tawar-menawar itu harga mati!

Kelima, ke(tidak)tertiban di jalan. Belum lama ini ada seorang Italia yang mengambil video pengendara Indonesia yang ugal-ugalan dan berpindah jalur seenaknya. Berani-beraninya orang dari negara pusat agama kafir mengritik budaya mengemudi pribumi yang adiluhung!

Apalagi the power of emak-emak yang mengendarai motor bonceng tiga sampai lima tanpa helm. Sungguh lebih berani daripada teman senegaranya, si Valentino Rossi itu! Itu karena pribumi punya iman, maka apalah artinya peraturan duniawi ciptaan rezim kafir antek asing.

Keenam, angkutan umum konvensional. Yang namanya konvensional itu adalah kearifan lokal pribumi, jadi yang online harus dilawan. Angkot itu melambangkan ciri masyarakat pribumi yang guyub, suka berkumpul dan bersosialisasi. Itu sebabnya ngetem – dan juga kemacetan sebagai akibatnya – adalah simbol guyubnya pribumi yang tidak boleh punah.

Cara mengemudi angkutan umum konvensional juga mendekatkan kita kepada Tuhan. Jika kita naik transportasi yang aman dan nyaman, maka tidak diperlukan doa sebelum perjalanan. Bahaya ateisme!

Ketujuh, membereskan sisa makanan di restoran. Ini sungguh acaman serius. Budaya pribumi adalah budaya hirarkis yang dengan jelas menentukan posisi atasan dan bawahan, tuan dan majikan. Kita sudah membayar untuk menikmati makanan dan fasilitas restoran, kok masih mau membereskan bekas tumpahan minuman dan muntahan anak-anak kita?

Coba bayangkan jika budaya egaliter ini dibiarkan, maka akan merambat ke hancurnya tatanan sosial yang meletakkan setiap kelompok pada posisi seharusnya: mayoritas-minoritas, pribumi-asing, beragama-kafir.

Kedelapan, menanyakan kapan nikah dan punya anak. Ini adalah medan pertarungan pribumi vs asing yang sesungguhnya! Pernikahan bukanlah pembentukan keluarga, melainkan perlawanan terhadap gaya hidup buffalo gathering yang menjijikkan itu!

Banyak anak muda yang mulai berpikir menunda pernikahan dan punya anak, tetapi syukurlah keluarga – dan beberapa teman seusia – rajin mem-bully mereka. Mengejar-ngejar pernikahan generasi muda kita adalah cara untuk memastikan bahwa hubungan seks mereka sudah distempel Tuhan, dan sebaiknya segera mempunyai anak-anak: calon pribumi anti asing di masa depan.

Masih banyak lagi budaya pribumi yang patut kita lestarikan karena ancaman-ancaman budaya asing, aseng, oseng, amsiong, dan sebagainya. Maka, kita patut bersyukur dengan munculnya spanduk kebangkitan pribumi di berbagai tempat, atau ramainya tagar #SayaPribumi, dan bahkan kaus-kaus #SayaPribumi. Ini adalah identitas yang patut ditonjolkan segenap kaum pribumi yang beriman di NKRI tercinta ini.

Dan penonjolan identitas ini memudahkan kita untuk membedakan mana yang pribumi asli, mana yang kafir asing. Mudah: jika tidak setuju pada #SayaPribumi – betapapun coklat kulitnya dan rajin ibadahnya – dipastikan dia antek asing. Seperti halnya yang tidak percaya pada kebangkitan PKI, otomatis dia adalah PKI. Tidak perlu tabayun, karena mereka bukan kelompok kita.

Lalu saya? Saya ini jawa tulen lho, masih ada darah keraton Kesultanan Mataram. Eh... tapi... tapi... kok mbah canggah (kakeknya kakek) saya bisa murtad, sampai seluruh keluarga saya sekarang ini, termasuk saya?

Bahkan, saya melanggar seluruh budaya pribumi di atas. Saya jarang beli oleh-oleh, jarang minta traktiran, mendisiplinkan anak tetapi tidak memaksanya bersaing, ogah menawar, tertib di jalan, langganan ojek online, membereskan makanan sendiri, menikah menjelang umur 30 dan baru punya satu anak dua tahun kemudian!

Celaka!!! Ini pasti salah kecebong dan bani taplak!!!

Artikel Terkait