Awal tahun adalah penantian sejuta umat manusia. Banyak harapan dan resolusi yang mereka pinta. Tradisi yang selalu dilakukan adalah hura-hura sambil diiringi suara kembang api dan terompet sebagai tanda kemeriahan bergantinya tahun. 

Mereka pun bersorak ria dan larut dalam kesenangan semata menyambut datangnya awal tahun 2020, seolah lupa bahwa makna tahun baru bukanlah hanya sekadar ritual hura-hura serta membuat resolusi baru tanpa perbaikan diri dan berdoa kepada Yang Mahakuasa. 

Baru memasuki awal tahun 2020, dunia diguncang oleh bencana serta fenomena buruk secara bergilir. Dimulai dari banjir di kota Jakarta, kebarakan hutan (wildfire) di Australia, erupsi Gunung Taal Filipina dan konflik Natuna hingga isu World War 3. 

Seusai itu, mungkin masih banyak bencana dan kejadian buruk yang melanda bumi yang tidak diliput oleh media, hingga muncul kejadian buruk luar biasa yang mencengangkan seluruh dunia, wabah virus Corona. 

Semua orang telah mengetahui bahwa epidemi ini berasal dari kota Wuhan, China yang sudah terjadi sekitar akhir tahun 2019. Lalu, berhasil menembus batas wilayah negaranya hingga menjalar ke seluruh dunia di awal tahun 2020 ini. 

Semua media informasi baik elektronik maupun non-elektronik gempar menghebohkan Covid-19 yang saat ini sudah menjadi pandemi global. Dunia seakan mencekam dan sangat mengerikan. Virus ini berhasil mengepung dunia secara serempak ke berbagai negara dengan penularannya yang begitu cepat. 

Indonesia pun juga tak dapat mengelak ekspansi makhluk milimikron ini yang menginterupsi semua kenyamanan hingga yang tersisa sekarang hanyalah sebuah kekhawatiran. Setiap sendi kehidupan manusia terganggu, kehadirannya memporak-porandakan seluruh tatanan yang telah tercipta. 

Senjata biologis ini berkerja secara sempurna melemahkan semua aspek, baik dari ekonomi, kesehatan, sosial maupun politik. Kesibukan manusia yang sangat pelik itu, kini dihentikan sejenak oleh makhluk renik tak kasat mata.

Politisasi yang begitu kuatnya sudah terkalahkan dengan fenomena ini. Media sosial yang saling berseteru akibat perbedaan cara pandang dan politik nampaknya sudah bungkam. Bahkan, hingga isu World War 3 seolah menghilang dan lenyap dikalahkan oleh Covid-19. 

Banyak pertanyaan yang patut direnungkan. Filsafat menghadirkan ruang yang dimulai dengan tanya dan diakhiri pula dengan tanya. Dialektika dinamis tiada henti. Sampai sini, tak cukupkah cara Tuhan untuk menyadarkan manusia agar refleksi diri atas segala tingkah laku yang mereka perbuat? 

Lalu, apakah ini waktu terbaik untuk manusia mengenal diri serta menoleh ke belakang atas semua yang sudah diperbuat? Inikah jawaban atas kelalaian manusia? Ataukah ini senjata yang Tuhan berikan sebagai pengingat di penghujung zaman? 

Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita 
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa 
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita 
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang 

(Ebiet G. Ade)

Potongan lirik lagu dari Ebiet G. Ade di atas, kiranya dapat merefleksikan keadaan bumi dan dunia saat ini. 

Fenomena mencekam ini membuat setiap insan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat sembari terus memanjatkan doa melantunkan bait-bait pengampunan. Barangkali Tuhan merindukan makhluk-Nya bercengkrama dengan lirih dan menghayati kepada-Nya. 

Lantas yang ada di benak, kapan semua ini berlalu dan berakhir? Hingga detik ini, dengan harapan dan doa yang sama, manusia terus berupaya dan menanti kabar baik itu datang mewarnai tahun 2020 ini. Tahun 2020 masih panjang, masih ada angan untuk melewati perjalanan panjang itu dengan sukacita tanpa kabar buruk dan suasana yang mencekam. 

Bahkan pandemi ini merusak keharmonisan dan kenyamanan di bulan suci nan berkah ini. Terasa berbeda perjalanan Ramadan 2020 dengan tahun-tahun sebelumnya. 

Masjid-masjid yang biasanya ramai, kini harus ditutup. Suara teriakan anak-anak yang asyik bermain petasan dikala salat tarawih pun tidak terdengar. Bahkan jalanan sore hari dengan berbagai buruan takjil sembari ngabuburit tampak tak semeriah biasanya.

Yang tak kalah menyedihkan lagi adalah suasana Idul Fitri akan terasa hampa. Perayaan yang identik dengan berkumpul bersama keluarga dan kerabat sambil menikmati hidangan ketupat dan opor sebagai ciri khasnya akan sirna. Berkunjung dari rumah ke rumah, bersalam-salaman nampaknya tidak seistimewa biasanya. Ah! Sungguh hampa!

Lekaskanlah segala musibah ini, Tuhan. Kami masih menaruh secercah harapan atas tuntasnya wabah ini. Menjalankan aktivitas seperti biasa, mengusaikan rindu dengan temu dan bercengkrama bersama kawan serta keluarga. Mencari ilmu dan berkerja secara nyata bukan lewat tatapan gawai serta rencana-rencana lain yang masih ingin kami lakukan sebelum musibah ini datang. 

Hanya pinta dan doa manusia dengan penuh harap serta penyesalan yang dapat menuntaskan dengan segera. Meyakinkan Tuhan dengan kesungguhan untuk meningkatkan kualitas diri yang lebih baik. Cukup musibah ini sebagai jawaban serta pengingat atas kelalaian manusia yang selalu bangga dengan dosa-dosa yang diperbuat. 

Semoga segala kepanikan, kekhawatiran dan ketakutan hari ini segera usai dan tergantikan dengan kebahagiaan. 2020, kutunggu kabar baikmu dan lekas pulih semesta.