1 tahun lalu · 1092 view · 3 menit baca · Budaya 28195tere liye2.jpg.jpg
sumber: Kompas.com

Tere Liye, Pajak Penulis dan Tujuan Menulis

Sekali lagi, jagad kepenulisan Indonesia dibikin ribut oleh Tere Liye. Pasalnya, penulis novel yang jadi idola para remaja itu, baru saja mengeluarkan pengumuman melalui fanpage Facebooknya. Ia hendak menarik semua karyanya dari toko buku dan enggan mencetak ulang karya itu lagi. Sikap itu merupakan bentuk protes terhadap tarif pajak penulis yang dinilai terlalu tinggi.

Menurut Tere Liye, pajak untuk profesi penulis 24 kali lebih besar ketimbang pajak pengusaha UMKM dan dua kali lebih besar dibanding profesi pekerjaan bebas lainnya.

Kali ini, para penulis banyak menaruh simpati dan dukungan pada sikap heroik Tere Liye. Karena ia, secara tak langsung menjadi corong perlawanan bagi para penulis lain yang bernasib sama. Berbeda dengan tingkahnya yang dulu membuat klaim sembarangan soal sejarah Indonesia. Dulu, Tere Liye pernah bicara bahwa kaum sosialis dan komunis tak punya peran atas kemerdekaan Indonesia.

Atas klaim itu, Tere Liye sampai menjadi bulan-bulanan para penulis. Tere Liye disebut sebagai kaum tuna sejarah yang punya mental bigot dan dimaki dengan sebutan kasar lainnya.

Perundungan pada Tere Liye itu kembali berulang setelah diketahui bahwa ia mematok tarif mahal jika ingin mengundangnya dalam sebuah forum. Tarif Tere Liye bisa mencapai Rp. 25 juta untuk durasi satu jam saja. Informasi ini terbongkar setelah panitia ASEAN Literary Festival Jakarta bermaksud mengundangnya. Sontak, Tere Liye mendapat cap sebagai penulis kapitalis bertarif mahal. Perundungan kepadanya kembali berulang.

Namun, kali ini lain ceritanya. Tere Liye telah menjadi wakil para penulis lain yang merasa dizalimi oleh tarif pajak profesi penulis yang tinggi itu. Terbukti, ultimatum Tere Liye langsung mendapatkan respon dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Sang Menteri langsung memberikan instruksi kepada Ditjen Pajak untuk bicara dengan Tere Liye.

Bila aksi protes Tere Liye itu berhasil membuat pemerintah menurunkan tarif pajak penulis, maka para penulis Indonesia berhutang budi padanya. Pada Tere Liye, yang sering mereka rundung itu.

Namun, tentu tetap ada saja beberapa penulis yang memandang sikap Tere Liye itu dengan sinisme. Sikap Tere Liye itu tampak  menggelikan bagi beberapa kawan penulis saya. “Ketika buku-bukunya itu laris manis seperti sepatu bermerk harga diskon, Tere Liye masih saja merasa beban pajak terlalu tinggi,” katanya sembari meneruskan, “nggak ngaca apa sama tarif dia kalau bicara?”.

Tanpa mengabaikan perkataan kawan saya itu, saya tetap menaruh simpati pada Tere Liye. Saya merasa bahwa kesuksesan Tere Liye itu memang sebanding dengan kerja kerasnya dalam menghasilkan karya. Lihat saja produktivitas Tere Liye dalam berkarya. Tiap semester ia bisa meneluarkan satu buah buku. Bahkan juga pernah dua buku sekaligus. Setiap semester selalu saja ada karya terbaru Tere Liye yang dipajang di etalase terdepan di semua toko buku.

Kerja Tere Liye dalam menghasilkan karya serupa cara kerja pabrik dalam menghasilkan komoditas.

Saya salut kepada Tere Liye. Meskipun karyanya sering dianggap picisan dan menye-menye, tapi produktifitasnya tak boleh diremehkan. Saya yakin, menulis itu susah sekali. Memeras ide dan menuangkannya dari ratusan kata-kata bukan kerja gampang, walau hanya untuk membuat karya picisan sekalipun. Jika Tere Liye bukan manusia pilihan, barangkali ia sudah dihajar senewen.

Saya juga mustahil bisa menolak kenyataan bahwa karya-karya Tere Liye memang banyak disukai. Khususnya oleh mereka yang berada di rentang usia remaja. Saya sering sekali menemukan karya Tere Liye dimana-mana. Bukan hanya di toko buku saja.

Misalnya, ketika menaiki angkot, saya sering melihat penumpang remaja perempuan yang menenteng novel karya Tere Liye. Pernah pula waktu menaiki kereta api dari Surabaya – Jogja, saya mengobrol dengan seorang mahasiswi yang sedang membaca buku karya Tere Liye. Bukan novel karya Eka Kurniawan, apalagi Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad. Bahkan, yang paling unik adalah ketika buku Tere Liye dibaca oleh seorang kakek di sebuah pasar di Surabaya. Tere Liye memang selalu ada dimana-mana.

Kepopuleran Tere Liye hanya bisa disaingi oleh penulis sekelas Andrea Hirata . Tapi, percayalah, nama Tere Liye sudah menjadi trademark yang sulit disangkal. Tere Liye serupa raja midas, apapun yang ia sentuh bisa berubah menjadi emas. Sehingga wajar sekali bila ia banyak dicemburui oleh para penulis Indonesia lainya.

Saya pun sebenarnya, juga sempat menggemari karya-karyanya. Saya pernah membaca buku novel dan kumpulan cerpen karya Tere Liye. Dan saya rasa, karyanya tak terlalu buruk untuk dibaca. Kalimat-kalimatnya lugas, tapi seperti mengandung nuansa puitik yang menarik. Namun, sayang selalu berakhir serupa kotbah yang sesungguhnya klise belaka.

Saya juga beberapa kali mengunjungi fanpage facebook Tere Liye. Terkadang juga tertarik dengan beberapa status yang ia tulis. Walaupun, sekali lagi, apa yang ia tulis selalu berakhir menjadi kotbah yang bungkuk karena pesan moral.

Tapi, bagi saya yang paling menarik adalah kutipan Tere Liye yang terpajang di header fanpage miliknya itu. “Menulis adalah berbagi,” begitu bunyinya. Ya, bagi Tere Liye, menulis adalah berbagi. Meskipun, di waktu lain ia memasang tarif pembicara yang selangit. Tujuan menulis Tere Liye memang paradoks.Tapi kini ia adalah juru selamat bagi para penulis Indonesia.