Siapa pun yang mengawali hari pada Jum'at 26 Februari lalu dengan membuka Twitter, hampir bisa dipastikan tahu mengenai kehebohan yang ditimbulkan oleh mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring. Lewat akun Twitternya (@tifsembiring) beliau berkicau tentang homoseksual dengan mengutip salah satu hadis Nabi.

Kicauan beliau berbunyi, "#RenunganJumat: Nabi saw bersabda: Siapa yang kalian dapati mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual), maka bunuhlah yang berbuat dan pasangannya dan siapa yg menyetubuhi binatang maka bunuhlah dia dan binatang itu ~ HR. Ahmad".

Sebuah tweet yang tidak "istimewa" sebenarnya, karena sudah ada ribuan kicauan dengan nada yang sama sebelumnya. Akan tetapi, karena dilontarkan oleh tokoh ternama dan ditanggapi dengan suara lantang oleh beberapa orang ternama pula yang salah satunya adalah sutradara film A Copy of My Mind, Joko Anwar, serta CNN Indonesia yang melakukan voting tentang hal itu setelahnya, kicauan Tifatul jelas bukan kicauan biasa.

Semua memang akan kembali pada perspektif. Tempat Anda berdiri menentukan bagaimana Anda menilai segala sesuatunya. Namun perlu dipahami pula bahwa penafsiran setiap orang sangat mungkin berbeda. Jadi, akan sangat bijaksana apabila mereka yang punya nama di publik lebih arif dalam berkata. Sebab, banyak dari pembaca atau pendengarnya menilai sebuah pernyataan tidak secara objektif.

Dalam kasus Tifatul Sembiring, sebagian dari 900 ribu lebih follower-nya menganggap tak ada yang salah dalam kicauan beliau. Tapi, perlu digarisbawahi bahwa sebagian besar dari mereka yang mengaku pro itu bukan karena setuju dengan pernyataannya melainkan ikut menganggukkan kepala hanya dikarenakan perkataan itu keluar dari mulut Tifatul semata. Artinya, yang dibela atau dinilai bukan pernyataannya, melainkan orangnya.

Apa yang dilontarkan Tifatul Sembiring memang kontroversial, namun apa yang diutarakan salah satu novelis terkenal Indonesia, Tere Liye, di Facebook beberapa waktu lalu berada di level yang berbeda. Tere mengatakan,

Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan yang sebagian besar di antara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh-tokoh agama lain. Orang-orang religius, beragama. Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silakan cari. Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan

Membaca kalimat-kalimat itu sungguh sangat mengerikan. Namun lebih mengerikan lagi saat tahu bahwa itu dilontarkan oleh seseorang yang punya jutaan pengikut di Facebook yang mayoritas adalah anak-anak muda dan ditambah lagi statusnya itu sudah dibagikan lebih dari 300 kali hanya dalam 4 jam pertama.

Motif memang tidak bisa ditebak. Tapi apapun motifnya, yang dilakukan Tere sangat disayangkan. Terlepas bahwa Tere sudah menghapusnya, jelas itu adalah preseden yang buruk, terlebih, tidak ada penyesalan dari yang bersangkutan setelahnya.

Memang dalam pelajaran Sejarah mulai dari SD hingga SMA tak pernah disebut nama Tan Malaka. Namun beliau sangat berjasa dalam meraih kemerdekaan Indonesia, tidak seperti yang disiratkan Tere Liye dalam statusnya.

Bagi mereka yang melek sejarah, status Tere itu mungkin dianggap sampah yang tak perlu diributkan apalagi dipertanyakan soal kebenarannya. Namun, faktanya tak semua orang melek sejarah, terlebih para penikmat karya-karya Tere yang mayoritas anak muda dan sebagian besar di antara mereka lebih tahu Albus Dumbledore ketimbang Alimin Prawirodirdjo.

Ketika ketidakpedulian terhadap sejarah nasional bertemu dan bercampurpadu dengan pemahaman atau informasi yang salah, hasilnya tak lain adalah bencana nasional.

Tanpa bermaksud meremehkan golongan tertentu, harus diakui bahwa ada beberapa lapisan masyarakat terutama yang berpendidikan rendah, punya kecenderungan menelan mentah-mentah segala apa yang dilakukan idola mereka.

Kasus seperti Tere Liye tersebut bukan yang pertama dan mungkin juga akan terulang lagi. Riwayat bahwa akun Tere beberapa kali di-block oleh pihak Facebook adalah salah satu indikator akan adanya repetisi pada hal semacam itu. 

Ironis memang, ketika mereka yang berupaya meluruskan apa yang selama ini ditutup-tutupi malah dilarang keras, sedangkan di sisi lain ada seorang public figure yang malah mendegradasinya.

Keesokan hari setelah Tifatul Sembiring melontarkan tweet kontroversialnya, atau tepatnya pada Sabtu 27 Februari, harusnya ada acara bertajuk Belok Kiri.Fest di Taman Ismail Marzuki. Akan tetapi karena ada penolakan dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta, maka acaranya tidak mendapatkan izin.

Meskipun demikian acara tetap terlaksana, hanya lokasinya saja yang tidak sesuai dengan rencana awal. Namun hal itu tidak begitu membuat masalah, karena yang lebih patut dicemaskan adalah soal alasan penolakan dari HMI yang menyebut Belok Kiri.Fest adalah bentuk dari komunis gaya baru. Sebuah lawakan dari HMI yang tak hanya garing, tapi juga memalukan untuk disampaikan.

Andai terpaksa memakai perspektif HMI, penolakan yang dilakukan terhadap Belok Kiri.Fest dengan sangat jelas menggambarkan "ketakutan" mereka akan "kekuatan" kata-kata. Menurut mereka Belok Kiri.Fest akan membelokkan sejarah tentang komunisme dan menggairahkan kembali semangat komunisme di kalangan pemuda serta mahasiswa.

Secara tidak langsung mereka takut akan dampak dari peluncuran buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula yang memang diluncurkan di acara tersebut.

Lalu jika kita sedikit berpikir jernih, tak salah jika menyebut HMI salah sasaran karena yang patut dibungkam adalah mereka yang melakukan hal-hal serupa dengan yang dilakukan Tere Liye. Namun jika HMI adalah perwujudan dari apa yang disebut The Thought Police (Polisi Pikiran) dalam novel distopia George Orwell, 1984, maka apa yang mereka lakukan sudah "benar".