“Tubuh dan pikiran adalah infrastruktur alami dalam menyembuhkan penyakit.” Terapi model ini, umumnya, lahir, besar, dan berkembang di wilayah Timur. Wilayah Timur memang sudah lama menjadi oase terapi. Mulai dari oase terapi spiritual hingga oase terapi kesehatan, wilayah Timur ramai digebuk pengunjung. 

Wilayah-wilayah Asia Timur, seperti Jepang, Korea, Cina, juga India diperebut para pelancong self-healing dari berbagai belahan dunia. Dari Timur, terapi penyembuhan diri dan ketenangan pikiran menarik minat.

Timur Menyembuhkan

Mao Shing Ni, seorang dokter pengobatan oriental asal Cina menulis dalam bukunya berjudul Secrets of Self-Healing demikian: “Seperti bumi yang memulihkan hutan terbakar dengan menumbuhkan pohon-pohon baru, manusia memiliki kemampuan menyembuhan diri sendiri.” 

Dirimu sendirilah obat terbaik yang membuat kamu sembuh. Slogan ini, memberi penegasan bahwa sakit dan penyakit muncul karena, kita kurang seimbang memperlakukan tubuh dan pikiran kita.

Istilah diri adalah obat paling mujarab dalam proses terapi, sudah diperkenalkan para dokter Cina kuno sejak ribuan tahun yang lalu. Bagi dokter-dokter Cina kuno, tubuh mempunyai sistem terapi otomatis yang mampu melawan berbagai jenis penyakit yang menyerang. Caranya pun sangat alami, yakni tanpa interaksi langsung dengan obatan medis jebolan industri kesehatan modern.

Akan tetapi, sistem pengobatan alami ini mulai hilang ketika dokter Yunani kuno bernama Hippokrates memperkenalkan secara ilmiah penjelasan mengenai penyakit dan metode pengobatannya. Dalam artikelnya “Holistic Medicine and Western Medical Tradition,” Sneka Mantri menyebutkan bahwa Hippokrates telah mengubah proses alami metode pengobatan menjadi semakin ilmiah, matematis, dan modern.

Pada 1500-an, paham Hippokrates mulai ditinggalkan dengan munculnya praktik pembedahan tubuh manusia untuk pertama kalinya. Upaya ini dilakukan oleh dokter asal Belgia, Andreas Vesalius. Selain Vesalius, William Harvey dokter Inggris juga memublikasikan studinya tentang sistem peredaran darah pada 1628. 

Sejak saat itu, dunia kedokteran melihat tubuh manusia sebagai bentuk interaksi mekanis antarorgan. Dalam hal ini, pasien justru dikendalikan seutuhnya oleh diagnosis para dokter. Lalu, bagaimana menyatukan keduanya?

Memasuki abad ke-20, tawaran lain dalam dunia medis mulai diperkenalkan. Metode penyembuhan baru itu, tidak lain berusaha menyatukan antara ajaran (kiat-kiat terapi alamiah) dan studi ilmiah dunia kedokteran. 

Dalam hal ini, metode self-healing mulai dilirik dan dijadikan tips-tips kunci dalam mengolah kesejahteraan tubuh dan pikiran. Ilmu self-healing sendiri diperkenalkan oleh Kaisar Kuning asal Cina dan dikembangkan dalam sebuah kitab medis bertajuk The Yellow Emperor’s Classic Medicine. 

Bentuk-bentuk Terapi Timur

Metode pengobatan tradisional Cina memang terbukti mujarab. Pada umumnya, model terapi pengobatan tradisional Cina bersifat alami dan menyatukan. Apresiasi sifat alami tentunya berdampak pada ongkos dan efek berkala dari model terapi yang ada. 

Sedangkan unsur menyatukan, tidak lain adalah kombinasi holistik dari terapi yang seimbang. Beberapa jenis alternatif pengobatan tradisional Cina yang masih populer, antara lain akupuntur, akupresur, qigong, dan tai chi.

Selain Cina, India juga terhitung sebagai industri terapi paling diminati di seluruh dunia. Salah satu tradisi swaterapi yang sudah lama dikembangkan di India adalah Ayurweda (Ilmu Kehidupan). Metode self-healing dalam terapi Ayurweda ini beragam, seperti menjalani pola makan sehat, menerapkan gaya hidup, olahraga teratur, serta mengikuti program pembersihan (panchakarma). 

Menurut Vasant Lad, ahli Ayurweda dari Ayurvedic Institute di Albuquerqe, New Mexico, Amerika Serikat, dalam bukunya Ayurweda: The Science of Sefl-Healing, metode terapi ayurweda tak hanya menjadi teknik pengobatan, tetapi juga sebagai modal investasi usia.

Bentuk terapi Timur lainnya, adalah yoga. Terapi senam yoga umumnya dikenal sebagai aktivitas olah tubuh dan pikiran secara bersamaan dengan bertumpuan pada kekuatan, fleksibilitas, serta olah pernapasan. Menurut pelatih meditasi dan yoga The Art of Living di Indonesia, Niqqita Bharata, yoga, awalnya merupakan praktik kesehatan dan spiritualitas. 

Bapak Yoga sendiri Maharishi Patanjali menunjukkan setidaknya tahap yoga sutra, yakni pengendalian diri (yama), disiplin (niyama), sikap badan (asana), pengaturan napas (pranayama), penarikan indera dari obyek (pratyahara), konsentrasi (dharma), meditasi (dhyana), dan keadaan supra-sadar (samadhi).

Meditasi, setidaknya untuk saat sekarang, juga diminati banyak kalangan. Sejak awal, praktik meditasi dengan pemusatan pikiran dan perasaan bermula pada 5000 SM. Jenis-jenis meditasi sangat beragam; ada meditasi mindfulness, samantha, vipasana, zen, dan raja yoga. 

Dalam bermeditasi, seseorang diantar untuk meningkatkan konsentrasi, wawasan, dan kesadaran akan momen saat ini; mengurangi stres-depresi-cemas, menenangkan pikiran, meningkatkan kesadaran, mengurangi ketergantungan pada obat-obatan, serta mencegah penyakit kardiovaskular. Menurut dokter Andreas Prasadja, Guru Meditasi di Pranic Healing Indonesia, banyak pasien penyakit jantung, hipertensi, dan gangguan psikologi sembuh karena meditasi.

Lalu, bagaimana dengan akupuntur? Terapi dengan metode akupuntur sendiri ditemukan pada zaman Dinasti Ming di Cina (1368-1644). Metode ini diterapkan dengan cara menusukkan jarum pada titik-titik tertentu pada tubuh untuk membuka sumbatan dan menyeimbangkan aliran energi di jalur meridian tubuh. 

Manfaatnya, antara lain meredakan rasa sakit dan lelah, mengurangi efek samping kemoterapi dan terapi radiasi, mengatasi masalah pencernaan, serta menghilangkan rasa cemas dan depresi.

Jenis terapi lain yang datang dari Timur adalah qigong (chi kung). Jenis terapi qigong ini diperkenalkan oleh Liu Guizhen dari Cina pada 1949. Dalam terapi jenis qigong, tubuh menjadi sarana dan kekuatan utama dalam berinteraksi. 

Teknik terapi tubuh ini, terdiri atas dua tipe, yakni wai dan dengan melibatkan gerakan dan konsentrasi (pikiran), dan nei dan, yakni mengusahakan meditasi duduk dan visualisasi aliran energi. Manfaatnya, antara lain menjaga stamina tubuh, menyeimbangkan tubuh, melenturkan otot, memperkuat saraf, serta mempercepat pemulihan cendera pasca operasi.

Terapi lainnya, yang juga diminati publik adalah jin shin jyutsu. Jenis terapi ini lahir di Jepang dan diperkenalkan oleh Jiro Murai pada 1950-an. Sang pencetus, Jiro Murai, memperkenalkan terapi ini karena ia sendiri percaya bahwa energi dalam tubuh yang mengalami kemandekan, pada dasarnya akan menciptakan penyakit. 

Oleh karena itu, terapi jin shin jyutsu berusaha merefresh energi yang tersumbat dalam tubuh dengan menggunakan jari-jari. Dalam hal ini, jari-jari diarahkan untuk menekan titik-titik tertentu pada tubuh manusia agar keseimbangan energi diperoleh kembali. Upaya ini diyakini mampu memulihkan mental, energi positif, dan kualitas spiritual yang sehat.

Sejatinya ada begitu banyak jenis terapi yang dikelola dan dikembangkan di pusat self-healing dari wilayah Timur. Orang-orang Barat biasanya lari ke Timur untuk belajar dan memperdalam jenis terapi tersebut untuk investasi kesehatan dan usia. Masing-masing kita, boleh menerapkan salah satu dari sekian banyak terapi yang ada, demi investasi kesehatan. 

Di tengah pandemi Covid-19 ini, hemat saya, bentuk-bentuk terapi ala Timur ini, bisa dipraktikkan di rumah. Prospeknya, pandemi cemas, takut, depresi, kelelahan psikis, kemandekan spiritual, dan jenis penyakit lainnya mampu disiasati selama masa pandemi Covid-19.