Belum hilang dari ingatan kita bersama, di awal 2021 ini musibah jatuhnya pesawat terbang Sriwijaya Air SJ 182 di perairan kepulauan Seribu, lalu yang terbaru ada banjir dan longsor di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Bahkan musibah-musibah yang lainnya juga, dan itu terjadi di tengah pandemi COVID-19 melanda seluruh dunia.

Pelbagai musibah telah memakan korban; ratusan rumah dan ladang jadi rusak, tak sedikit nyawa pun melayang. Hingga kini, kita masih terus dihantui anomali cuaca yang tak bisa diprediksi. Bertubi-tubi musibah datang silih berganti seolah tak mengenal tempat dan waktu. 

Ada ungkapan menarik yang tentunya telah kita mafhum yaitu, ad-dunya daar al-imtihan, dunia adalah arena ujian. Iman sejati, kata seorang bijak, justeru ada dalam cobaan. Lantas mendidik nurani kita berbisik bagai sajak Rendra “hari ini dan esok, langit di luar langit di dalam, bencana dan keberutungan sama saja”. 

Pesan moral dari sajak tersebut semestinya yang hadir dalam diri kita adalah kepasrahan yang tulus. Sebab boleh jadi di balik gelap berupa musibah yang datang barangkali dapat memberi pijar yang lebih terang dalam hidup kita.

Musibah hendaknya ditengarai sebagai jembatan yang mendatangkan keridhaan Allah. Hal ini sebagaimana diisayaratkan dalam sabda Rasulullah Saw;

bahwasannya pahala itu tergantung pada besarnya ujian bala, dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, maka kaum itu diujinya terlebih dahulu, maka barang siapa yang ridha mendapat ujian itu, maka mendapatkan keridhaan Allah, dan barang siapa yang benci maka kemurkaan Allah baginya" (H.R. Turmudzi).

Terapi Menghadapi Musibah

Menurut catatan Quraish Shihab (2007:394), kata mushibah paling tidak ditemukan 10 kali di dalam Alquran, di samping kata lain yang seakar dengannya, yang keseluruhannya berjumlah 76 kali. Ia pada mulanya berarti mengenai atau menimpa. 

Kata mushibah di dalam Alquran merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia. Seorang yang dirundung musibah pada umumnya, jiwa dan mental hidupnya menjadi rapuh. Oleh karena itu, maka tidak ada jalan lain bagi seorang muslim selain mengembalikan semua peristiwa kepada Allah sebagai sebuah taqdir dari-Nya. 

Sebagaimana ungkapan populer kita sering serukan, yakni innalillahi wa innailaihi rajiun. Secara eksplisit Allah juga memberikan terapi khusus bagi mukmin saat diterpa musibah, sebagaimana terangkum dalam firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah beserta orangorang yang sabar (Q.s. Al-Baqarah: 153).

Dari ayat suci di atas tersirat terapi manakala seseorang mendapat musibah; sabar dan shalat. Pengertian sabar dalam ayat tersebut setidaknya dapat kita maknai sebagai kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan secara arif. 

Seorang mukmin sejatinya menyadari bahwa hidup ini dan segalanya adalah hak mutlak Allah. Apa yang dimiliki, baik harta benda atau materi apapun hanyalah hak sekedar meminjam dari-Nya. Dan itu semua pada saatnya harus dikembalikan kepada-Nya. Bila semua yang kita miliki bukan milik kita, mengapa kita harus menangisi dan meratapi ketika semuanya lenyap dan hilang dari sisi kehidupan kita.

Sabar merupakan poros dan asas segala kemuliaan akhlak. Muhamad bin Abdul Aziz Al Khudairi mengungkapkan bahwa saat kita menaiki menara kebaikan dan keutamaan, kita akan menemukan bahwa sabar selalu menjadi fondasinya. 

Zuhud misalnya, merupakan bentuk sabar untuk tidak hidup berfoyafoya meskipun disaat yang sama hidupnya bergelimang materi dan kekayaan. Qanaah atau merasa cukup dengan yang ada merupakan bentuk sabar dari segala keterbatasan yang ada, walaupun disaat yang sama musibah menerpanya.

Di samping sabar, Allah juga memberikan jalan keluar dari segala musibah yang menimpa dengan melakukan salat, yang secara generik artinya tidak lain adalah berdoa. 

Tipologi seorang mukmin sejati ia tidak pernah melepaskan segenap usahanya dengan berdoa yang terangkum indah dalam rangkaian shalat. Melepaskan diri dari belenggu musibah akan terasa indah manakala seorang memasrahkan segala kehidupannya dalam untaian doa.

Salat adalah serangkaian doa yang dimulai dari takbir dan diakhiri dengan salam. Salat juga merupakan representasi seorang mukmin yang sedang mi’raj kepada Allah SWT. Salat adalah dialog istimewa seorang hamba dengan sang Khaliq. 

Melalui salat seorang mukmin dapat mencurahkan segala keluh kesahnya kepada sang pemilik kehidupan dan memohon pertolongan-Nya. Tidak kurang lapal ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in dibaca 17 dalam sehari semalam dalam ritus salat. Hanya Allah SWT satu-satunya yang berhak disembah dan sebaik-baik penolong dalam kehidupan.

Salat tak hanya dipandang sebagai ungkapan rasa syukur saa mendapat rezeki yang berlimpah. Salat juga merupakan sarana memperingan penderitaan manakala beban hidup semakin berat. Disaat manusia dibelnggu oleh rasa cemas, maka salatlah yang membebaskannya. Pun disaat manusia diterpa musibah, maka salat menjadi sumber tenaga, energi yang akan menguatkan diri dan imannya.

 Orang yang dapat mengambil hikmah atas semua musibah, maka sejatinya dia adalah manusia yang tercerahkan. Hal ini senada dengan analogi kalimat bijak "enlightenment is like the reflection of the moon in the water. The moon doesn’t get wet, the water is not separated". Pencerahan seperti bayangan bulan di air. Bulannya tidak basah karena air. Airnya tidak terpecah karena bulan. 

Dengan kata lain, seorang mukmin yang tercerahkan tidak akan ternoda oleh sesuatu yang membuatnya terpuruk meskipun ditimpa hal yang sama sekali tidak mengenakan. Orang mukmin adalah mereka yang tidak emosional saat mendapatkan musibah, pun tidak sombong tatkala mendapat anugerah. Tidak melekat pada kebahagiaan, tidak juga menolak kesedihan. Persis seperti bunga Padma, di air tidak basah, di lumpur tidak kotor. Wallahu’alam bishawab