Saya ingin menanggapi sebuah artikel yang diunggah teman saya ke media sosial dari link berikut.

Pertama-tama, saya perlu menjelaskan bahwa saya kurang lebih sependapat dengan beliau bahwa, apapun pandangan kita (apakah Lesbian-Gay-Bisexual-Transgender/LGBT itu normal atau dosa, genetik atau penyimpangan), kaum LGBT layak untuk dikasihi. Sesungguhnya, setiap orang harus dikasihi.

LGBT hanyalah satu dari banyak macam orang yang Tuhan ijinkan untuk menjadi bahan ujian bagi kita untuk konsisten mengasihi, tetapi tetap mempertahankan integritas diri. Masih ada orang miskin, PSK, penjahat, dan ya... bahkan orang-orang seperti Daeng Azis, Saipul Jamil dan Haji Lulung, yang sebenarnya juga miskin akan kasih meskipun berlimpah harta duniawi.

Yang ingin saya tanggapi adalah konsep privilege yang dikedepankan beliau. Dengan ringkas dan jelas beliau menggambarkan prinsip privilege tersebut: Privilege is invisible to those who have it. Misalnya: orang kulit putih di AS – bahkan yang tidak rasis sekalipun – tidak merasa diistimewakan sebagai kulit putih, karena tidak merasakan tindakan rasisme yang dialami orang kulit berwarna.

Lelaki heteroseksual tidak merasa diistimewakan dalam karir, gaji, tunjangan dan pajak karena tidak pernah mengalami diskriminasi gender seperti halnya perempuan maupun LGBT. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Saya tidak mengatakan pandangan ini sepenuhnya salah. Tetapi ada baiknya kita melihat sedikit sejarah dari pandangan tersebut. Mohon maaf jika saya hanya mengutip dari Wikipedia. Bagi anda yang mempelajari sosiologi dan mempunyai sumber yang lebih baik, saya akan sangat berterima kasih.

Asal-muasal pandangan ini adalah sosiolog W.E.B. DuBois yang mengamati di awal abad 20 (40 tahun setelah berakhirnya perbudakan di AS) kaum kulit hitam mulai menyadari begitu banyaknya kemudahan yang diterima orang kulit putih AS tanpa mereka (kulit putih) sadari. Tetapi hal ini baru diejawantahkan secara akademis oleh seorang profesor feminis radikal  bernama Peggy McIntosh tahun 1988 dalam esai White Privilege and Male Privilege: A Personal Account of Coming to See Correspondences through Work in Women’s Studies.

Ringkasannya tepat seperti yang sudah saya jelaskan di atas. McIntosh lebih jauh mengatakan bahwa seluruh aspek sosial dalam kehidupan masyarakat berada dalam kerangka privilege ini. Singkatnya, privilege adalah suatu sistem atau grand scheme yang menciptakan ketidakadilan sosial.

Studi mengenai privilege ini semakin berkembang sampai pada titik di mana para ahli (dan aktivis) menganjurkan setiap orang untuk mengenali privilege yang mereka miliki. Orang yang mengingkari hal tersebut (privilege denial) dianggap telah melakukan diskriminasi dan ketidakadilan bagi mereka yang tidak memiliki privilege yang setara dengan dirinya.

Misalnya: jika saya berhasil membangun karir, itu adalah karena orang tua saya berkecukupan untuk menyekolahkan saya ke universitas sehingga bisa melamar ke perusahaan terbaik. Jika saya mengatakan itu karena saya bekerja keras dan rajin belajar, saya menghina orang miskin yang tidak punya kesempatan meraih pendidikan tinggi karena masalah finansial.

Bahkan jika saya mengatakan orang tua saya dulu juga miskin, tetapi bekerja keras supaya anak-anaknya bisa meraih masa depan yang lebih cerah, saya perlu menempatkan diri saya sebagai orang-orang yang mendapatkan angin segar tanpa perlu berusaha sekeras mereka yang tidak seberuntung saya secara finansial.

Jadi, jika mengikuti teori di atas: saya memiliki privilege yang lebih besar dari orang tua saya.

McIntosh dan para ahli yang sepandangan dengan dirinya dengan mudah menyimpulkan, bahwa konsep privilege akan menyinggung masyarakat Amerika yang berpegang pada konsep meritokrasi: saya berhasil karena saya bekerja keras. Dan terlebih lagi mereka yang tersinggung adalah, seperti yang saya sebutkan tadi, laki-laki kulit putih heteroseksual. Mereka tidak merasakan kesulitan yang dialami orang kulit hitam, perempuan dan LGBT (atau kombinasinya).

Tetapi pandangan ini berkembang menjadi ekstrem. Beberapa tahun lalu, sekelompok mahasiswa Universitas San Fransisco didukung beberapa dosen dan profesor psikologi, sosiologi dan studi perempuan menerbitkan edaran di kampus yang mengajak para akademisi untuk “memeriksa hak istimewa” mereka, yang dikenal dengan jargon Check Your Privilege! Orang-orang harus memberi tanda centang (check) di beberapa pertanyaan berikut:

Apakah anda:

  • Kulit Putih?
  • Laki-laki?
  • Kaya?
  • Kristen?
  • Cisgender?
  • Sehat dan Kuat?
  • Heteroseksual?

Menyadari privilege anda bukan untuk membuat anda terbebani atau merasa bersalah, tetapi menjadi peluang untuk belajar dan bertanggung jawab sehingga kita dapat menciptakan dunia yang lebih adil dan inklusif.

(Cisgender adalah istilah ciptaan para sosiolog dan seksolog – terutama yang mendukung hak LGBT – untuk orang-orang yang merasa gender mereka sesuai dengan jenis kelamin mereka saat lahir. Dengan kata lain, kebalikan dari Transgender.)

Kampanye Check Your Privilege ini menyebar begitu gencarnya di kalangan akademik, bahkan sampai ke perguruan tinggi lainnya di AS dan Canada. Bahkan jargon tersebut sudah menyebar ke khalayak umum, setidaknya di negara-negara Barat (yang berbahasa Inggris). Seperti yang dikatakan McIntosh dan sejawatnya, banyak yang menolak dengan alasan meritokrasi. Celakanya, mereka yang menolak langsung dihakimi di tempat.

Jargon Check Your Privilege dengan cepat berubah menjadi stigma bagi mereka yang dianggap tidak menghormati minoritas. Bahkan di lingkungan akademik, jargon ini digunakan untuk memenangkan debat.

Misalnya jika seorang mahasiswi lesbian kulit hitam mengungkapkan pendapatnya dalam forum diskusi akademik tentang suatu teori ilmiah, kemudian seorang mahasiswa kulit putih menyampaikan argumen yang berlawanan, mahasiswa itu bisa dengan mudah dibentak “Check Your Privilege!” Semua mata akan tertuju padanya dengan pandangan: Dasar laki-laki heteroseks kulit putih. Ia mau menindas perempuan lesbian kulit hitam. Nyaris tidak ada pilihan selain mengalah, betapapun sopannya ia menyampaikan argumennya.

Irshad Manji, akademisi lesbian Muslim yang kondang itu, menangkap perkembangan yang tidak sehat dari pandangan ini. Mahasiswa di AS sekarang memiliki kecenderungan yang sedang kekinian, yaitu suka dihina. Semakin mereka dihina, mereka semakin merasa keren. Jadi mereka berlomba-lomba untuk dihina.

Tetapi, seperti kata Alkitab, tidak ada yang baru di bawah matahari. Pada saat Manji masih kuliah, para aktivis beranggapan jika mereka marah artinya mereka sedang ditindas, maka mereka pasti benar dan (apapun pandangan mereka) bisa dipercaya. Konyol, katanya.

Anda lihat apa yang saya maksud pandangan ini tidak sepenuhnya salah? Memang ada benarnya. Ada orang-orang yang hidupnya seperti jalan tol (yang tidak macet!) karena pandangan umum terhadap hal-hal yang melekat pada dirinya. Contoh sederhananya, kalau anda ganteng atau cantik, pasti mudah mendapatkan pacar.

Masalahnya adalah, pertama, pandangan ini digunakan secara absolut, seringkali hanya untuk menghakimi orang lain. Padahal jika mau jujur,mungkin orang yang membentak anda untuk mengecek privilege anda mempunyai privilege yang lebih besar dari anda.

Kedua, pandangan ini digunakan untuk hal-hal yang secara politis pantas (politically correct) untuk disuarakan. Anda bisa mengatakan lelaki punya banyak privilege (gaji, pendidikan, kepemimpinan), tetapi jika anda mengatakan perempuan juga mempunyai banyak privilege (tempat duduk khusus, pekerjaan tidak berisiko, bisa dinafkahi suami, cuti lebih banyak dan lain-lain), anda akan dianggap sexist.

Jika anda membawa pandangan itu ke Indonesia, kasusnya akan lebih memusingkan lagi.

Mari kita kesampingkan sejenak soal LGBT. Di Indonesia, kita beranggapan bahwa orang beragama minoritas (seperti saya dan bung Henry Manampiring) pasti tidak mempunyai privilege sebesar yang Muslim. Saya tidak membantah bahwa (setidaknya dulu) di beberapa lembaga pemerintahan tertentu hal ini masih dijumpai.

Tetapi tahukah anda bahwa banyak kaum Muslim di Indonesia yang mengidentikkan orang Kristen seperti saya dengan orang kaya? Mereka menyamakan (‘cocokologi’) orang Kristen dengan orang Tionghoa. Saya terkejut mendengar pandangan mereka bahwa saya yang Kristen pasti karirnya aman di perusahaan yang dipegang konglomerat Tionghoa. Bahkan di lingkungan akademik universitas negeri favorit, pandangan ini sangat marak dan tidak jarang di dalam kelompok-kelompok tertentu berkembang menjadi ekstrem dan berbahaya.

Dengan kata lain, saya mempunyai privilege sebagai minoritas Kristen. Sementara kelompok-kelompok garis keras yang menganut agama mayoritas ini menganggap minoritas di Indonesia sangat dimanjakan. (Mereka umumnya juga gemar membaca atau menonton cerita tentang kaum/imigran Muslim di negara Barat yang menjadi minoritas lalu menggelembungkan kasus diskriminasi dan pelecehan Muslim di sana.)

Walaupun tidak pernah dibakukan menjadi teori seperti di AS, pandangan seperti ini marak di masyarakat kita, dan bisa menjadi kabur ketika dipraktekkan dalam penegakan hukum. Contoh yang paling sederhana: lalu lintas. Seorang pengemudi mobil yang menabrak sepeda motor yang melanggar lalu lintas tetap saja ditilang bahkan massa dapat menghakiminya dengan bebas.

Mengapa massa menghakimi? Karena si pengemudi mobil adalah orang kaya dibandingkan si pengendara motor. Jadi si pengemudi mobil punya privilege lebih daripada si pegendara motor, sehingga pengendara motor berhak melanggar lalu lintas demi memperjuangkan hak-hak yang dirampas privilege pengemudi mobil.

(Anehnya hal itu juga berlaku untuk motor besar seperti Harley Davidson, meskipun mobil yang dihadapi adalah mobil sejuta umat. Lebih aneh lagi adalah ketika pengendara motor menabrak pejalan kaki atau merampas trotoar, mereka tidak bisa disalahkan, bahkan balik menyalahkan privilege para pengendara mobil yang memenuhi badan jalan, atau malah pemerintah.)

Anda lihat, pandangan ini sama sekali tidak membawa harmoni dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, tetapi justru memperuncing perbedaan. Saya miskin, saya berhak menyalahkan kamu yang kaya karena kesusahan saya. Saya Kristen, saya berhak menyalahkan kaum Muslim yang mayoritas karena karir saya mandek.

Saya LGBT, saya berhak marah pada anda yang heteroseks cisgender. Saya heteroseks cisgender, saya berhak menyerang LGBT karena  mereka menggunakan privilege kapitalisme liberal untuk menggerus nilai-nilai agama dan budaya bangsa.

Pandangan ini tidak menghilangkan diskriminasi, tetapi semakin meninggikan tembok saya vs mereka. Ia seperti memaksa orang untuk membalik diskriminasi dengan mengatakan, saya adalah bagian dari sistem yang jahat. Saya menikmati itu tanpa saya sadari, maka saya juga jahat.

Seorang blogger anarkis mengutip kata-kata Malcolm X: “Siapa yang menyuruhmu membenci dirimu sendiri?” ketika mengritik teori privilege ini. Ia benar. Apakah dengan membenci diri sendiri saya jadi lebih mengasihi orang lain? Apakah kebencian, walaupun dibalik ke dalam, dapat mewujudkan keadilan? Aneh, sebab Tuhan berkata: “Kasihilah sesamamu manusia seperti mengasihi dirimu sendiri.”

Seharusnya itulah yang kita pandang dan perjuangkan bersama. Orang lain, betapapun berbedanya (dan betapapun jahatnya) bagaimanapun juga adalah manusia. Sesama kita. Mengasihi orang lain tidak selalu berarti menuruti semua keinginan mereka, karena itu bisa berarti melanggar kebutuhan orang lain.

Tetapi dengan mengasihi mereka yang berbeda sebagai sesama manusia, anda tidak terhalang oleh rasa benci, rasa jijik, rasa superior, rasa marah; atau sebaliknya rasa iri, rasa tersingkir, rasa minder dan rasa dendam. Anda menganggap mereka hanya sebagai sesama manusia yang perlu diperlakukan sebagaimana anda wajib diperlakukan.

Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua.