Sewaktu kita masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) semua guru menyuruh kita untuk berperilaku yang baik. Kita selalu disuruh untuk membuang sampah di tempatnya, rajin belajar, datang tepat waktu di sekolah, berbuat baik kepada teman-teman lainnya, dan sebagainya.

Dan sebaliknya perilaku yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, semisal mencontek, malas belajar, bolos sekolah, dan sebagainya tidak diperkenankan untuk kita lakukan. Tujuannya hanya satu, yakni agar kita bisa menjadi manusia yang berbudi pekerti dan bermanfaat kepada sekitar.

Tentu saja hal yang demikian tidak hanya berlaku di tingkat SD saja, melainkan terus berlanjut hingga ke tingkat yang lebih tinggi, yakni universitas. Dan bukan hanya di lembaga pendidikan, tapi di lingkungan masyarakat juga demikian adanya. Berperilaku baik adalah sesuatu yang sangat dijunjung tinggi.

Namun anehnya, meski kita tahu bahwa perilaku yang baik selalu lantang digalakkan di mana-mana oleh semua orang, tapi yang sering kali tampil di permukaan justru sesuatu yang dilarang, yakni perilaku menyimpang itu sendiri. 

Misalnya di TV saat kita menonton suatu berita, pembahasan utamanya selalu saja berkenaan dengan hal-hal yang menyayat hati. Isu-isu kriminal seperti pemerkosaan, pembunuhan, pencurian, korupsi, teroris, dan yang semacamnya selalu menjadi yang pertama kali muncul tatkala berita tersebut baru saja dimulai.

Mari kita ambil satu contoh kasus, misalnya korupsi. Suatu kasus yang bisa dibilang setiap tahunnya terjadi di negara ini yang disebut-sebut oleh para pejabat kita ---meski tidak sedikit di antara mereka ada juga yang doyan melakukan korupsi--- sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila.

Saking seringnya kasus tersebut terjadi, jumlahnya pun bukan main banyaknya. Dan begitupun dengan kerugian yang dihasilkannya. Kapolri Jenderal Idham Aziz mengatakan di sepanjang tahun 2020 sudah ada kurang lebih 1.412 kasus korupsi yang mereka tangani dengan kerugian negara menyentuh angka Rp.3 triliun lebih.

Jumlah kasus yang tentunya tidak terbilang sedikit. Dan itupun baru hanya satu kasus saja. Belum lagi dengan kasus-kasus menyimpang lainnya yang jumlahnya pastinya juga tidak sedikit dan tak kalah melimpah berikut dengan kerugian besar yang ditimbulkannya. Sehingga bisa dibayangkan betapa membludaknya kasus-kasus menyimpang yang terjadi berseliweran di mana-mana.

Padahal para pelaku menyimpang itu menyadari dan tahu betul bahwa apa yang mereka lakukan merugikan banyak orang, bahkan juga bagi diri mereka sendiri. Mereka yang melakukan korupsi bukan tidak tahu di luar sana ada banyak masalah sosial yang sebetulnya lebih patut untuk mereka pikirkan ketimbang memilih "memperkosa" hak-hak rakyat.

Para pelaku pemerkosaan pastinya mengetahui apa yang ia lakukan terhadap sang korban bisa mencelakai kesehatan fisik dan mentalnya. Begitupun dengan para pelaku pencurian, pembunuhan, teroris, dan para pelaku menyimpang lainnya semuanya menyadari perbuatan mereka bisa merugikan banyak orang.

Namun, ya, apa mau dikata jika kebutuhan perut dan di bawah perut lebih mendesak untuk mereka penuhi. Nilai-nilai kebaikan pun jadi tidak berarti apa-apa lagi di mata mereka.

Akan terkesan lucu memang bila kita mencoba sedikit untuk merenungi. Bisa-bisanya kita melakukan perbuatan yang jelas-jelas kita sudah ketahui kesalahannya. Padahal kita sudah tahu di depan kita ada lubang yang sangat dalam, namun tetap saja kita berjalan mendekatinya tanpa merasa takut akan terjatuh ke dalamnya.

Namun, hal yang demikian memang tidak menutup kemungkinan bisa terjadi kepada kita. Terlebih lagi jika lubang tersebut tidak menampakkan ancaman apapun karena tertutupi oleh hal-hal yang sifatnya "menarik", sehingga orang-orang pun jadi banyak yang mendekatinya. 

Maka, semakin banyak orang yang berjalan ke lubang tersebut, semakin besar pula keinginan kita untuk melakukan hal yang serupa. Dan, semakin suatu perbuatan ---sekalipun sifatnya menyimpang--- dilakukan oleh banyak orang, semakin besar pula kemungkinan bagi kita untuk ikut melakukannya.

Inilah yang disebut dalam teori kognitif sosial Bandura sebagai perilaku yang terbentuk dari faktor-faktor kognitif dan lingkungan. Albert Bandura atau yang lebih akrab disapa dengan Bandura merupakan seorang psikolog kelahiran Mundare, Kanada, 4 Desember 1925.

Dalam teori kognitif sosialnya itu Bandura menyebutkan bahwa seseorang bisa belajar dengan cara mencontoh atau meniru suatu peristiwa yang ia saksikan di sekitarnya. Suatu peristiwa yang terjadi di sekitar kita bisa kita teladani tatkala kita mengamatinya dengan saksama. Misalnya saat seorang anak melihat seseorang yang menolong temannya yang lagi kesusahan, hal yang serupa juga akan dilakukan oleh anak tersebut. 

Tak terkecuali dengan berbagai macam kasus kriminal yang banyak terjadi di sekitar kita, seperti pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, korupsi, teror bom bunuh diri, dan sebagainya juga bisa menjadi bahan bagi kita untuk kita teladani.

Terlebih lagi jika kejadiannya sangat sering kita saksikan, maka peluang bagi kita untuk ikut melakukannya juga akan jadi semakin besar. Karena menurut Bandura, semakin sering suatu peristiwa terjadi, maka semakin besar pula kemungkinan bagi seseorang untuk meneladaninya.

Seringnya suatu peristiwa terjadi juga menandakan semakin banyaknya orang yang melakukannya. Sekalipun sifatnya menyimpang, namun karena yang terlibat di dalamnya ada banyak orang membuat kita jadi semakin terdorong untuk ikut melakukan hal yang sama. 

Sehingga jangan heran mengapa semakin hari berbagai macam bentuk kasus kriminal semakin banyak terjadi di mana-mana, maka berdasarkan pada prinsip teori kognitif sosial Bandura, hal tersebut disebabkan karena semakin menjamurnya para pelakunya. 

Andai saja para pelaku kriminal itu diam dan berhenti melancarkan aksi brutalnya, bisa dipastikan perilaku menyimpang tidak akan menjalar kemana-mana. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib ra, "jika orang jahil diam, maka masyarakat tidak akan saling bertikai."