Saya tidak setuju dengan teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Robert Darwin kalo manusia berasal dari kera. Tapi kalo misalnya teori evolusi itu mengatakan bahwa kera berasal dari manusia, nah itu bisa jadi.

Dari hasil olah-olahan pemikiran, bisa jadi beberapa puluh tahun ke depan akan terjadi evolusi yang hebat, yakni adanya perubahan manusia menjadi seekor kera.

Begini, seekor kera yang sudah menggenggam makanan di tangan tidak akan peduli dengan kera-kera lainnya yang juga butuh makanan. Si kera asik sendiri sambil menikmati makanannya, tanpa ada niat untuk berbagi.

Nah, makanya ayahnya Marshanda jadi turun ke jalan seperti itu. (Eh?)

Tabiat kera yang demikian persis juga dengan manusia zaman sekarang, yang kalo sudah menggenggam gadget di tangan, ia pun tidak akan peduli dengan manusia-manusia lain. Sekalipun dalam situasi nongkrong bareng teman-teman.

Saya teringat kata orang-orang tua dulu yang mengistilahkan seseorang yang begitu ‘autis’ dengan barang yang ia miliki dengan menyebutnya ‘Bagai kera punya permainan baru’.

Mereka begitu terhipnotis dengan barang-barang elektronik yang dimiliki. Pergi ke sini, jepret. Mau makan, jepret. Lagi ini, lagi itu, jepret! Saking narsisnya sampe lupa kalo sudah nginjak bunga-bunga di taman. (eh?)

Kera adalah binatang yang tak mau diam dan teramat usil. Kera acap kali beraksi sebagai biang kerok yang pandai memancing keributan dan menambah permasalahan baru, bicara ceplas-ceplos dan tak tentu arah. Hasilnya, terjadi keributan antar sesama mereka.

Gambaran ini sepertinya juga sudah terlihat di zaman modern. Banyak yang tak paham permasalahan tapi ingin terlihat hebat. Ujung-ujungnya share tautan berita bobrok yang tiada berisi, pancing-pancing emosi, dan akhirnya terpanggang dalam aksi pertarungan ego dan gengsi.

Kera itu juga rakus dan serakah lho. Tangan, kaki hingga mulut akan penuh dengan makanan ketika stok melimpah. Kera tak mau memikirkan hari esok, selagi ada sekarang, semuanya ditelan habis. Memang secara filosofis, sikap rakus ini tak ubahnya dengan para pencuri harta negeri. Hutan dibakar, ditebang dan dijual seenak perutnya. Mereka lupa kalau besok-besok akan ada generasi penerusnya yang juga butuh alam untuk berkehidupan.

Selain itu kera itu suka melanggar. Ironisnya ada sejumlah manusia yang memang hobi melanggar ketentuan. Setelah melakukan pelanggaran, mereka justru tidak merasa bersalah, malah membanggakan kesalahan yang telah dilakukan sambil senyam senyum ke kamera.

Dari penjabaran sifat kera di atas, saya pun mulai risau. Apakah benar kera berasal dari manusia? Apakah nanti kehidupan juga akan serasa berada di zaman batu? Soalnya hampir semua kawasan mulai dibentuk menjadi susunan-susunan bangunan bertingkat yang berasal dari bebatuan.

Ah, sepertinya saya juga sudah mulai berevolusi menjadi kera. Sial!