Di artikel yang saya tulis di website Qureta sebelumnya, saya membahas miskonsepsi di kalangan intelektual sekuler yang menyebut bahwa ada keterkaitan yang kuat antara liberalisme dan ateisme.

Pada artikel ini, saya ingin membicarakan satu miskonsepsi lagi yang sangat populer di kalangan intelektual sekuler, yakni berkaitan dengan sebuah pandangan bahwa teori evolusi Darwin sangat dekat dengan nilai-nilai progresivitas. Pada artikel ini, saya akan jelaskan mengapa teori evolusi Darwinian justru lebih dekat dengan nilai-nilai konservatisme dan bahkan bisa menjadi fondasi yang kokoh bagi kita untuk menjadi konservatif.

Tentu saja persepsi yang populer menyatakan bahwa teori evolusi Darwin adalah pukulan telak bagi nilai-nilai konservatisme, khususnya konservatisme keagamaan. Persepsi ini sungguh valid, karena penerimaan terhadap tesis teori evolusi Darwin mengimplikasikan ketiadaan intelligent designer di dalam proses penciptaan.

Artinya, jika merunut logika teori Darwin, tidak ada divine being yang menciptakan semesta organisme biologis di dunia ini sesuai dengan desain agung yang maha rapi dan tertata sempurna. Teori evolusi Darwin secara meyakinkan menunjukkan bahwa tidak ada “kehendak” dalam proses penciptaan alam raya. Semuanya terjadi melalui proses evolusi yang impersonal dan acak.

Oleh karena implikasi “ateistik” inilah kemudian teori evolusi Darwin dipersepsikan sebagai teori orang-orang yang sekuler dan progresif. Hal ini makin diperkuat oleh kenyataan bahwa kelompok konservatisme keagamaan tampak benar-benar terganggu oleh keberadaan teori ini. Kelompok keagamaan secara aktif mencoba mendelegitimasi teori Darwin, salah satunya lewat jalan strawman fallacy (“menurut Darwin, manusia adalah keturunan monyet!”).

Jika kita hanya melihat implikasi teori Darwin terhadap tesis kreasionisme dan intelligent design, maka tidak salah untuk mengatakan bahwa teori tersebut bersifat sekuler dan progresif. Tetapi ada implikasi lain dari teori Darwin yang jauh lebih dalam daripada sekadar membantah kreasionisme. Implikasi ini berkaitan erat dengan konsep adaptability dan survivability yang menjadi salah satu konsep sentral di dalam teori evolusi Darwinian.

Sebagaimana kita tahu, teori evolusi Darwin menyatakan bahwa semua spesies biologis di dunia ini muncul dan berkembang melalui sebuah proses yang disebut seleksi alamiah. Proses seleksi alamiah ini terjadi berdasarkan variasi karakteristik individual yang meningkatkan kesempatan individu tersebut untuk beradaptasi dan bertahan hidup dari ancaman kepunahan, kemudian meneruskan karakteristik tersebut melalui proses reproduksi.

Sebagai contoh, berbagai spesies burung kutilang di Kepulauan Galapagos memiliki bentuk paruh dan ukuran tubuh yang berbeda-beda, tergantung pada sumber makanan yang berada di sekitar habitat masing-masing spesies. Burung kutilang yang tinggal di dekat sumber makanan biji-bijian memiliki paruh yang pendek dan kukuh, sedangkan burung kutilang yang tinggal di dekat sumber makanan nektar bunga memiliki paruh yang pipih dan panjang.

Sekali lagi, kesesuaian antara karakteristik biologis dengan kondisi lingkungan ini bukan berasal dari “kecerdasan” Tuhan dalam menciptakan makhluk hidup. Kita terdorong untuk berpikir seperti itu karena hanya melihat hasil akhirnya.

Padahal, kesesuaian karakteristik biologis dengan kondisi lingkungan ini memiliki proses dan sejarah yang panjang: hanya individu-individu burung yang memiliki karakteristik biologis yang paling cocok (“fit”) dengan lingkungan sekitarnyalah yang dapat bertahan hidup, sedangkan mereka yang karakteristik biologisnya kurang fit akan mati dan punah.

Seiring waktu, karakteristik biologis yang dimiliki individu-individu yang bertahan hidup tersebut akan terakumulasi dan menjadi ciri kolektif sebuah spesies di sebuah lingkungan tertentu. Dengan kata lain, spesies tersebut terseleksi secara alamiah untuk bertahan hidup dan meneruskan karakteristik biologisnya.

Inilah sebabnya konsep adaptability dan survivability merupakan dua konsep yang sentral dalam memahami logika teori evolusi Darwin. Menurut teori Darwin, semua fenomena biologis di kolong langit ini terjadi melalui proses seleksi alamiah untuk menentukan mana yang layak bertahan dan mana yang harus punah.

Dalam perkembangannya, banyak pemikir yang mencoba menerapkan logika Darwinian ini pada fenomena-fenomena di luar domain biologi, khususnya fenomena sosial dan ekonomi. Salah satunya adalah Friedrich Hayek, yang memahami bahwa seluruh fenomena sosial, khususnya ekonomi/pasar, adalah proses seleksi kelompok kultural (cultural group selection, sebagai konsep yang paralel dengan natural selection).

Jadi, bagi Hayek, proses persaingan bisnis pada dasarnya adalah sebuah proses seleksi, di mana perusahaan-perusahaan yang paling efisien bertahan hidup sedangkan perusahaan-perusahaan yang kurang efisien mengalami kebangkrutan. Jika di dalam fenomena biologi survivability ditentukan oleh alam semesta dengan segala randomness-nya, maka di dalam konteks persaingan bisnis survivability ditentukan oleh pasar dengan segala randomness-nya.

Hayek tidak berhenti sampai di situ. Bagi Hayek, institusi sosial seperti norma, tradisi, hukum, agama, dan ideologi juga berevolusi mengikuti logika adaptasi dan survivability. Mengapa agama bertahan? Mengapa hukum yang melindungi hak milik pribadi bertahan? Mengapa sebagian besar dari Sepuluh Perintah Tuhan masih terdengar relevan hingga sekarang?

Bagi Hayek, jawabannya bukan karena isi dari institusi-institusi sosial tersebut lebih superior dilihat dari sudut pandang yang metafisis atau supranatural. Jawabannya adalah karena institusi-institusi sosial tersebut berhasil survive dibandingkan institusi-institusi sosial lain yang memiliki isi yang berbeda hingga akhirnya punah.

Masyarakat, sebagai unit herediter institusi sosial, secara pasif mem-filter institusi yang menurut mereka paling fit dan dapat meningkatkan keberlangsungan hidup dan kenyamanan hidup mereka.

Dari sini, kita bisa menyimpulkan beberapa poin berikut: (1) sebagaimana entitas biologis, bagi Hayek, institusi sosial juga berevolusi menurut logika seleksi berdasarkan fitness dan survivability; (2) hanya institusi-institusi sosial yang paling fit dan berguna bagi keberlangsungan hidup masyarakat yang akan bertahan dilihat dari perspektif waktu/sejarah; (3) institusi-institusi sosial yang bertahan hidup paling lama adalah institusi sosial yang lebih superior karena telah membuktikan fitness atau kegunaan mereka bagi keberlangsungan hidup peradaban.

Poin nomor tiga di atas adalah poin paling penting dari artikel ini. Itulah alasan yang paling mendasar mengapa saya mengatakan teori evolusi Darwin bisa menjadi pijakan yang kokoh bagi kita untuk menjadi konservatif.

Adalah masuk akal bagi kita, jika kita menerima tesis evolusi selektif Darwinian, untuk lebih mendahulukan tradisi di atas progres atau kebaruan. Ini karena tradisi yang telah hidup dalam waktu yang cukup lama telah membuktikan fitness dan kegunaan mereka, sedangkan progres atau kebaruan masih harus membuktikan diri bahwa mereka tidak harmful (berbahaya) bagi kelangsungan hidup peradaban.

Di dalam bukunya Antifragile, Nassim Taleb memperkenalkan sebuah heuristik yang bernama Lindy effect. Heuristik itu berbunyi seperti ini: sesuatu yang telah berlangsung hidup selama 50 tahun memiliki kemungkinan keberlangsungan hidup 50 tahun lagi di masa depan. Sesuatu yang telah hidup 100 tahun kemungkinan akan tetap relevan 100 tahun lagi. Sesuatu yang telah berlangsung 2.000 tahun akan masih relevan 2.000 tahun lagi. Begitu seterusnya. Makin klasik suatu entitas evolusioner, maka ia makin reliable.

Heuristik inilah yang saya gunakan untuk mengambil banyak keputusan hidup sehari-hari: saya lebih memilih membaca buku yang sudah beredar ratusan tahun daripada bestseller kontemporer (kecuali Nassim Taleb!). Saya lebih memilih emas sebagai instrumen investasi daripada saham derivatif.

Saya lebih memilih mendengarkan nasihat kakek dan nenek daripada pakar kebijakan publik. Dan, tentu saja, saya lebih memilih patuh pada ajaran agama dan liberalisme klasik daripada ideologi modern-sekuler seperti Marxisme atau optimisme saintisme kontemporer.

Itu semua saya lakukan pertama-tama dan terutama karena saya menerima tesis teori evolusi Darwin dengan sepenuh hati.