Kembali ke rumah dan tinggal di dalam rumah. Makan, minum, dan bekerjalah dari rumah. Inilah anjuran disampaikan Presiden RI Joko Widodo mulai pertengahan Maret 2020 kemarin. Entah sampai kapan, sebagai warga negara, kita tetap mematuhi instruksi ini demi kebaikan bersama.

Ajakan untuk berada di rumah dan bekerja dari rumah mempunyai banyak dampak. Setelah sekian minggu berada di rumah, mulai ada satu dua orang yang tiba-tiba viral, dengan memperlihatkan potensinya, memperlihatkan keterampilan, dan kreativitasnya. 

Akan tetapi, tak jarang kita melihat atau mendengar juga raungan soal sisi buruk dari kelamaan berada di rumah. Jadi mager, gabut, stres, bosan, capek, mengalami kesendirian, dan bad mood. Ini sangat manusiawi.

Berada di rumah bagi sebagian orang, mungkin menjadi kesempatan terbaik untuk mengenal keluarga batih lebih dalam. Ketika dipaksa untuk stay at home, orang pertama-tama merasa jenuh dan selalu punya kemaun untuk hang out. Ya hang out ke mana, wong semua tempat pada ditutup. 

Coba diambil sisi positif dari kebiasaan ada di rumah ini, dari sisi makan bersama. Saya justru pingin mengupasnya dari kebiasaan untuk 'ada bersama' dalam keluarga melalui media meja makan.

Krisis 'ada bersama' di era digital sekarang merupakan bencana kemanusiaan. Krisis ini dibarengi dengan munculnya tren hidup yang suka meninggratkan individualisme. Kanselir Jerman, Angela Merkel pernah mengatakan bahwa "Lawan dari cinta di zaman sekarang adalah ketidakpedulian" (konteks ketika banjir pengungsi melanda Eropa khususnya Jerman). 

Orang zaman sekarang mau hidup sendiri-sendiri, tidak mau diganggu, dan bahkan membentengi diri dengan tembok, satpam, anjing galak, kawat berduri, CCTV, dan beragam macam alat pelindung diri (APD). Alhasil, ujung dari semua ini adalah retaknya hidup bersama. Waktu untuk makan bersama pun, hampir tidak ada.

Lalu pertanyaan yang perlu direfleksikan bersama adalah "Mungkinkah ada bersama menciptakan ke-hidup-an, sehingga harus dibicarakan?" Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditemukan dalam kisah Injil Lukas. Yesus menampakkan diri kepada semua murid (Luk 24:35-48), justru karena para murid tengah merindukan kebersamaan. 

Kerinduan ini tidak hanya bersifat maya, tetapi real tertuang dalam kegiatan makan bersama, tegur-sapa, duduk bersama, sharing, dll. Ada bersama, dengan kata lain, membutuhkan ruang sekaligus waktu. Akan tetapi, kedua fasilitas ini kadang menjadi kendala untuk sekadar ada bersama.

Orang kadang sibuk, dan mengatakan "Sorry, saya gak punya waktu!" atau "Sorry, tempat yang baik di mana, ya?" Untuk masalah ini, Yesus justru secara tidak langsung mengatakan "Tak usah ribet memikirkan waktu dan tempat." Meja makan sudah cukup untuk menghidupkan kembali kebersamaan akibat banyaknya kesibukan. 

Dua kata ini (meja dan makan) sudah mewakili dua fasilitas yang kita takuti tadi, yakni berkaitan dengan waktu dan tempat. Waktu yang tepat dimana orang tidak bisa mengelak ketika diajak untuk ada bersama adalah waktu makan. Dan, tempatnya sudah pasti, yakni di meja makan. Maka, teologi meja makan, agaknya menjadi salah satu alternatif bagaimana krisis ada bersama dipulihkan.

Kini, dengan anjuran untuk berada di rumah, makan, dan minum di rumah, ruang untuk berinteraksi dengan semua anggota keluarga batih menjadi semakin lebar dan intens. Kita lagi memikirkan waktu atau tempat, karena meja makan menyediakan semuanya untuk betah berinteraksi dan saling mengoreksi.

Jika kita bersafari sebentar ke dalam realitas hidup kelurga sekarang, kita mungkin bisa menghitung jumlah keluarga yang mempunyai time table yang jelas. Di Amerika Serikat, hampir 90 persen keluarga, jarang punya waktu 'tuk makan bersama. Padahal dalam makan bersama, kita sebetulnya tengah mengisi (recharge) "power bank" kehidupan kita khususnya sense of being togather. 

Kisah dua murid yang berjumpa dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35) sejatinya merupakan contoh baik bagaimana teologi meja makan menghidupkan aspek lahir-batin seseorang. "Waktu Ia duduk makan dengan mereka, ketika itu, terbukalah mata mereka, dan mereka pun mengenal Dia" (Luk 24:30-31).

Makan bersama adalah awal dari keterbukaan kita untuk menerima yang lain. Karena dalam makan bersama - mungkin di sana ada cerita seputar identitas, kepenatan saat kerja, kekerabatan, kekurangan, kelebihan - toh mengantar seseorang pada sebuah pengenalan (konteks dua murid ke Emaus dimana mereka akhirnya mengenal Yesus saat makan bersama). 

Di sini, kita dapat memahami bahwa persaudaraan, hidup bersama, dan kehidupan itu sendiri menjadi lebih bermakna dan perhatian penuh ketika kita hadir di meja makan. Yesus bahkan menghentak krisis iman para murid pasca kebangkitan dengan ilustrasi makan. 

"Adakah padamu makanan di sini?" (Luk 24:41b). Maka, makan bersama atau teologi meja makan menjadi sumber persekutuan Gereja hingga sekarang. 

Melalui Ekaristi (pengenangan Misteri Paskah Kristus), umat Kristiani ditarik ke meja yang sama untuk "ngerumpi" soal Yesus yang bangkit. Prospeknya, apa yang kita bicarakan dalam makan bersama atau Ekaristi membuat kita semakin mengenal orang lain (dan Yesus), memperkuat iman, dan membantu kita membuka pintu mata hati 'tuk menerima yang lain.

Jadi, teologi meja makan, seyogiyanya menjadi sumber inspirasi bagi kita untuk terus membangun kebersamaan-persekutuan. Yesus menitip wejangan ini di tengah pandemi ini, karena Ia tahu bahwa kita sedang menghindari meja makan karena sibuk atau mungkin karena tengah bertikai

Maka, sebaiknya kembalilah ke meja makan dan bicaralah di sana! Yesus juga tahu, bahwa lalulintas online kadang membuat orang lupa makan, lupa diri, dan lupa Tuhan.