Noor Huda Ismail, salah seorang peneliti isu terorisme yang beraktivitas di Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) belum lama ini merilis film dokumenter berjudul “Jihad Selfie”. Film dokumenter tersebut mengisahkan Akbar, seorang remaja-pelajar yang masih berusia 17 tahun, yang mendapatkan beasiswa ke Turki untuk belajar di madrasah pembibitan Imam dan Khatib.

Bermula dari facebook, Akbar berkomunikasi dengan Yazid, salah seorang temannya, yang tampak maskulin ketika memegang senjata dan telah bergabung dengan ISIS. Dari sana Akbar pun banyak mengakses informasi tentang konflik Suriah dan yang terkait dengannya. Hingga akhirnya ia mengetahui bahwa Bagus, salah seorang pelajar Indonesia lain, telah bergabung pula dengan ISIS.

Kegamangan menyelimuti hari-harinya karena merasa pelajaran yang didapat tidak jauh berbeda dengan yang pernah ia dapatkan di Indonesia. Bayangan maskulinitas Yazid yang memegang senjata pun makin membuatnya kalut. Hingga ia terus mencari informasi dan mendapatkan akses untuk menuju Suriah, Negara yang berbatasan langsung dengan Turki.

Namun pada satu titik Akbar ragu dan pada akhirnya urung berangkat, karena belum mendapatkan izin dari orang tua. Sebagai seorang pelajar dengan tradisi keislaman yang mengakar kuat, ia tentu saja meyakini bahwa ridla Tuhan terletak pada ridla orang tua. Kedekatan dengan orang tua inilah yang menyebabkan Akbar urung berangkat. Ini pula yang menjadi pembeda antara Akbar dengan Yazid dan Bagus.

Kelanjutan “Mata Tertutup”

Apa yang menimpa Yazid dan Bagus, serta hampir juga Akbar, merupakan kisah berulang yang terjadi pada anak muda Indonesia. Masih jelas dalam ingatan ledakan bom JW Marriot pada 2009 lalu yang melibatkan Dani Dwi Permana sebagai pengantinnya.

Kala melakukan bom bunuh diri tersebut Dani baru saja lulus dari SMA, usia yang mungkin sama dengan Akbar. Dalam video yang ditemukan pasca ledakan bom di JW Marriot, Dani beranggapan dirinya syahid. Seperti ini pula anggapan yang menyelimuti Yazid dan Bagus. Dalam bahasa keagamaan hal seperti ini dikenal dengan isy kariman aw mut syahidan, hidup mulia atau mati syahid.

“Jihad Selfie” bagi saya mengingatkan pada “Mata Tertutup”, film yang digarap MAARIF Institute bekerjasama dengan SET FILM pada tahun 2011 yang lalu. “Mata Tertutup” sendiri menceritakan tiga kisah tentang keterlibatan anak muda (juga peran orang tua) pada gerakan terorisme.

Dalam “Mata Tertutup”, ada kisah Rima. Seorang gadis yang gundah dalam pencarian identitas diri. Dalam kegamangannya, ia terjebak dan terlibat menjadi aktivis NII. Hingga karena daya kritisnya, juga melalui diskusi dengan kedua orang tuanya, ia akhirnya mampu keluar dari organisasi tersebut.

Kisah kedua ada Jabir. Seorang remaja yang menjadi pengantin bom bunuh diri karena terdorong oleh kondisi keluarga yang tidak harmonis dan terjepit sulitnya ekonomi. Kisah Jabir ini diadaptasi dari perjalanan hidup Dani Dwi Permana meskipun tidak seutuhnya.

Ada juga kisah Ibu Asimah. Seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya, Aini yang menjadi korban hasutan gerakan terorisme ditengah proses perceraiannya dengan sang suami.

Jika dulu (dalam film “Mata Tertutup”) para anak muda yang diwakili oleh sosok Rima, Jabir dan Aini dipengaruhi lewat pertemuan langsung secara tatap muka, maka kini (dalam film “Jihad Selfie”) anak muda yang terwakili oleh Akbar, Yazid dan Bagus dipengaruhi lewat media sosial. Maka, bagi saya, “Jihad Selfie” bak lanjutan dari “Mata Tertutup” yang mengisahkan keterlibatan anak muda dalam gerakan terorisme.

Era Baru

Kelihaian ISIS memprovokasi generasi muda yang mencandui media sosial membuat perekrutan tak perlu dilakukan melalui tatap muka secara langsung. Propaganda melalui foto dan video di media sosial terbukti dapat mempengaruhi anak muda. Hal ini sekaligus memperlihatkan pola perekrutan baru, yang menegaskan kepiawaian dan kesiapan ISIS menghadapi era baru, era digital..

Dalam salah satu tulisannya terdahulu, Buya Syafii Maarif mengistilahkan orang-orang yang tak siap berkompetisi untuk hidup, sekaligus siap untuk mati pada waktu yang bersamaan, dengan Teologi Maut. Menurut Buya, Teologi Maut berpangkal pada pesimisme hidup. Sebuah doktrin yang menempatkan hidup dalam keputusasaan. Sebuah sikap hidup yang pesimistis dan cenderung picik.

Kompleksitas persoalan individu dan masyarakat, ditambah dengan keingintahuan dan kegalauan pada diri anak muda adalah ruang kosong potensial untuk dimasuki oleh paham keagamaan fundamental yang berujung pada terorisme. Pada titik ini, anak muda kian menjadi lahan empuk untuk jual beli Teologi Maut.

Jika dulu Teologi Maut dilatarbelakangi oleh pembacaan terhadap agama secara tekstual dan kesulitan ekonomi yang begitu nyata, kini terdapat sesuatu yang baru. Sisi kebaruan tersebut, setidaknya bagi anak muda laki-laki, adalah maskulinitas yang membuatnya tampak hidup.

Maskulinitas merupakan penafsiran penulis akan faktor lain yang membuat Teologi Maut kian subur. Sebagaimana pernah diungkapkan Barthes dalam manuskrip The Pleasure of the Text, bahwa penulis telah mati. Oleh karena itu, sisi kebaruan yang penulis maksud bertujuan untuk memperkaya tafsir atas karya seni itu sendiri. Termasuk “Jihad Selfie” didalamnya.

Pada akhirnya “Jihad Selfie” hendak mengingatkan, kalau tidak menegaskan, bahwa Teologi Maut tak pernah mati hingga memasuki era media sosial. Dan ini menjadi bukti bahwa terorisme merupakan sesuatu yang nyata di era baru, era sosial media, era digital. Bukan rekayasa seperti yang selama ini ditudingkan oleh beberapa orang atau pihak yang kerap menolaknya .