Jika ditanya tentang masalah apa yang perlu dibereskan di Indonesia, maka jawabannya adalah Buanyak pak dhe. Saking banyaknya masalah, anak milenial memiliki hobi baru, yaitu sambat. Saking populernya sambat, mereka pun berlomba-lomba membanggakan sambatannya. Mulai dari hal remeh, sampai remehh sekali. Mungkin nantinya, sambat bisa menjadi alternatif dalam pemersatu bangsa.

Tak mau kalah dengan kaula muda, emak-emak milenial pun mulai “mengepakkan sayapnya”. Semua permasalahan pun mereka komentari, semua kejadian pun mereka sambati. Salah satu pemasalahan yang sering disambati emak-emak milenial adalah tentang pendidikan. Lebih tepatnya tentang sekolah. Mulai dari zonasi, sistem sekolah, sampai satpam unyu-unyu.

Dalam percakapan dan sambatan yang berhasil saya rekam dengan metode menguping ini, beberapa masalah yang sering menghantui dan menjadi ironi bagi pendidikan misalnya: si Joko sangat rajin di sekolahnya, dia mengikuti semua aturan sekolah, namun ketika dia lulus, dia tidak menjadi apa-apa. Berbeda nasib dengan Jeki yang dianggap nakal oleh sekolah karena tidak mentaati peraturan, namun ketika lulus, jeki bisa membangun bisnis dan kaya raya.

Nah, fenomena ini memancing hasrat sambat emak-emak, apa sebenarnya peran sekolah dalam kehidupan? Apakah untuk mencerdaskan saja? Apakah hanya untuk mendapat ranking yang dinamakan prestasi? Jika demikian, maka di masa depan, bisa jadi sekolah tidak diminati lagi karena tidak mengantarkan anak pada kesuksesan dan kekayaan.

Kenapa ini bisa terjadi? Mungkin karena kita memang cenderung fokus pada kekayaan, fokus pada kesuksesan berprofesi. Kita tidak sadar bahwa ujung tombak segala sesuatu adalah pendidikan. Bagiamana bisa kita melakukan kalau kita tidak tahu? Dan proses mencari tahu adalah pendidikan, yang mana tidak hanya sekedar tahu, tapi juga paham dan mengasah karakter.

Selain itu, dalam sekolah, kita juga selalu diajarkan punya mimpi besar. Ketika masih masa kecil, kita di ajari mempunyai mimpi seperti menjadi dokter, pilot dan lainnya. Namun ketika dewasa, saat di tanya ingin menjadi apa? Maka jawabannya adalah “yang penting dapat kerja”. Ini merupakan ironi pendidikan yang sangat menyakitkan.

Belum lagi ahir-ahir ini sambatan emak-emak menyasar pada zonasi. Bahkan menurut keterangan teman saya, di daerah Pasuruan, ada beberapa warga yang berniat memalsukan kartu keluarga agar bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang dianggap favorit.

Zonasi menjadi kata yang “gatal” ditelinga emak-emak zaman sekarang. Bagi yang belum paham, zonasi secara singkat adalah sistem penerimaan murid untuk masuk ke jenjang SMP dan SMA Negeri, di mana sistem tersebut lebih mengutamakan zona atau jarak rumah dari sekolah. Jarak tersebut menjadi penilaian utama lolosnya murid tersebut, jadi 90% kuota ditentukan dari jarak bukan prestasi atau nilai raport.

Nah, sebelum berkomentar, ada baiknya kita ketahui dulu bahwa alasan adanya zonasi adalah menghilangkan anggapan adanya sekolah favorit, sekolah berstandar nasional, standar internasional, sekolah tersedikit subscribe Atta Halilintar. Canda Halilintar.

Inti dari tujuan zonasi adalah pemerataan dalam dunia pendidikan, sehingga murid yang berkualitas pun menyebar di semua sekolah. Tidak hanya menumpuk di satu sekolah unggulan saja. Karena sekolah harusnya mendidik orang yang tidak bisa menjadi bisa, bukan mengumpulkan murid-murid yang sudah pintar, lalu menyatakan sebagai sekolah unggulan yang berhasil mencetak generasi emas.

Meski demikian, banyak sekali yang kurang setuju dalam kebijakan zonasi tersebut, dengan berpendapat bahwa setiap sekolah memiliki kualitas yang berbeda, kalau semua sekolah punya kualitas yang sama, kebijakan ini bisa menjadi solusi. Kurang lebih seperti itu pendapat dari golongan yang kontra akan zonasi.

Saya sangat menghargai pendapat tersebut, namun saya kok agaknya kurang sependapat, logikanya kalau semua sekolah memiliki kualitas yang sama, maka tidak perlu sistem zonasi pun pasti akan bersekolah di dekat rumahnya dengan sendirinya. Tujuan adanya zonasi kan memang untuk meratakan kualitas sekolah. Kalau untuk meratakan ya berarti belum rata dong, Bambang. kalau sudah rata, maka tidak perlu lagi diadakan zonasi.

Mari kita lihat dari sudut pandang yang lain. Mari bayangkan jika sekolah favorit hanya diisi oleh anak-anak pintar? Apa yang akan terjadi? Maka yang pintar akan semakin pintar dan yang bodoh tidak akan pernah belajar dari anak-anak yang pintar.

Memang banyak yang menyayangkan anak yang pintar tidak bisa sekolah di sekolah favorit karena sistem zonasi. Namun tidak ada yang menyayangkan anak yang kurang pintar tapi punya kemauan belajar yang tinggi. Bukankah anak seperti itu juga butuh dukungan dari anak-anak yang pintar?

Sistem zonasi ini adalah proyek jangka panjang, sehingga efeknya tidak akan kita rasakan sekarang. Karena itu, tidak bisa dipungkiri bahwa anak jaman sekarang akan menjadi “tumbal” untuk sebuah perubahan. Bukankah untuk mencapai sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu?

Mari sudahi perdebatan ini. Dari pada sibuk memikirkan zonasi, mending ayo emak-emak, jadikan rumah menjadi sekolah unggulan buat anak-anak kalian. Cobalah mulai memahami apa yang diinginkan anak kalian, bukan apa yang kalian inginkan untuk anak-anak kalian.