Setelah menghabiskan buku Jentera Bianglala, novel ketiga dari Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, saya sempatkan menonton serial Gunung Merapi atau yang lebih dikenal dengan Mak Lampir.

Terdapat adegan dan dialog yang cukup menarik atensi saya dalam film tersebut. Pada suatu pagi beberapa orang makan di warung dan terjadi dialog antara si pemilik warung dan beberapa orang pembeli. Kira-kira begini dialog singkatnya.

“Katanya sekarang ada si Topeng Hitam?” tanya seorang pembeli.

“Iya, si topeng hitam itu adalah pahlawan kita. Dia suka menolong wong cilik, menumpas kesewenang-wenangan dan kejahatan,” jawab pemilik warung.

“Dia tidak pamrih, makanya dia bertopeng hitam, supaya orang-orang tidak mengenalnya. Berbeda dengan si Topeng Emas. Meskipun topengnya emas, tetapi dia jahat dan suka menindas. Dia adalah komplotan para perusuh dan para penjahat,” lanjut pemilik warung.

“Coba pejabat kita seperti si Topeng Hitam, berbuat baik dan mengayomi rakyatnya tanpa pamrih dan tak ingin masyhur, alangkah sejahteranya kita,” kata beberapa orang di meja sebelah.

Dialog singkat di atas cukup kiranya kita jadikan gambaran kondisi para politisi kita dewasa ini. Para politisi kita mirip dengan si Topeng Emas. Nyaris tidak ada yang seperti si Topeng Hitam. Mereka suka bertopengkan emas, demi menutupi bobrok dan bau busuknya. Alih-alih berjuang demi rakyat, pada hakikatnya ia berjuang demi kepentingan perut dan syahwat politiknya.

Tak banyak politisi kita yang bekerja untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Karena bagi mereka kepentingan diri dan kelompoknya jauh lebih penting daripada kepentingan rakyat. Rakyat hanya dijadikan topeng emas untuk menutupi ketamakan dan keserakahannya.

Politisi kita lebih ingin dikenal baik, peduli dan santun, daripada berbuat baik, bersikap peduli dan bersopan-santun itu sendiri. Mereka terjangkiti penyakit ‘pencitraan yang akut’. Mereka rela melakukan apa pun demi elektabilitas dan kemasyhuran, termasuk mengibuli rakyatnya sendiri. Elektabilitas dan kemasyhuran menjadi nomer wahid bagi mereka.

Menurut saya, tugas politisi kita itu adalah mencitrakan dirinya dengan sebaik-baik pencitraan, terlebih mendekati pemilu. Tidak percaya? Coba perhatikan gelagat mereka hari ini. Hari ini mereka doyan mengunjungi rakyat kecil, rakyat pinggiran nan melarat supaya dianggap merakyat. Mereka lantang menyuarakan kepentingan-kepentingan rakyat, seraya mengutuk ketidakadilan dan keserakahan, supaya dianggap pembela rakyat.

Mereka santer mengunjungi pondok pesantren. Dari pesantren yang satu menuju pesantren yang lain, lengkap dengan sarung, baju koko dan serinu janji, supaya dianggap dekat dengan ulama dan peduli terhadap kepentingan-kepentingan kaum santri, terlebih di tahun-tahun mendekati pemilu.

Semua itu mereka lakukan hanya demi meraup suara sebanyak-banyaknya. Hanya demi memuluskan syahwat politik dan meraih kursi kekuasaan. Bagi mereka, omong kosong dengan kepentingan rakyat. Habis manis sepah dibuang.

Politisi kita seperti si Topeng Emas. Mereka tidak pernah menampakkan wajah aslinya. Mereka sudah cukup lihai mengelabui rakyatnya. Mereka sudah cukup lihai membohongi rakyatnya, hingga seakan kebohongan itu nampak bagai suatu kebenaran. Dan mereka sudah cukup lihai menyembunyikan wajah aslinya di balik topeng emas yang selama ini mereka gunakan.

Hanya satu yang bisa kita lakukan hari ini, sebagai rakyat kecil, yaitu berharap. Berharap politisi kita meniru si Topeng Emas yang suka menolong dan peduli akan nasib rakyat kecil yang tertindas tanpa harus dipublish  ke media, tanpa harus diumumkan melalui baliho-baliho yang bergelantungan di pinggir jalan.

Juga berharap politisi kita berhenti berbuat jahat, menindas dan mencuri uang rakyat, sebagaimana dilakukan oleh si Topeng Emas. Dan jika ingin berbuat jahat dan berlaku tidak adil, lakukanlah tanpa harus berpura-pura menjadi orang baik di hadapan orang banyak.

Ini sekedar harapan yang kita tidak tahu kepada siapakah harapan ini hendak kita gantungkan. Sedangkan politisi kita masih  sibuk berkampanye, sibuk memasang baliho, sibuk mencari dukungan suara guna kepentingan politiknya di pemilu 2019 mendatang.

Sudah lah, terserah kalian mau berbuat apa, wahai politisi, yang terpenting Anda jangan pencitraan terus. Sumpah, saya muak.