Mari memulai perjalanan dalam tulisan ini melalui sebuah kisah menarik dari seorang Amerika bernama Jack London. Ia menulis sebuah teks menarik berjudul To Build A Fire.

Teks itu bercerita tentang seekor anjing yang hidup di sebuah hutan. Karena hidup di sana, otomatis segala sumber makanan juga diperoleh dari hutan itu.

Suatu ketika, api lebat membakar hutan yang ditinggali oleh si anjing. Tentu saja si anjing itu memilih untuk menjauh dari hutan dan kembali saat kondisi sudah membaik.

Api kemudian padam, yang tersisa hanya tanaman dan hewan yang hangus terbakar. Si anjing kembali dan makan segala yang ada dari sisa-sisa kebakaran. Si anjing memang merasa kenyang, namun, selang beberapa hari, anjing itu meninggal karena keracunan.

Di lain waktu, dengan kisah yang hampir serupa, hidup seekor anjing di hutan. Hutan mengalami kebakaran dan si anjing otomatis akan menjauh dari tempat itu. Lalu, si anjing kembali saat api mereda dan memakan apa yang tersisa dari hutan. Si anjing pun kehilangan nyawa beberapa hari setelahnya.

Nah, bagaimana jika fenomena itu dialami oleh manusia? Saat hutan terbakar, manusia menjauh, lalu kembali dan keracunan akibat memakan makanan di sana.

Namun, sebelum nyawanya melayang, ia menulis sebuah buku tentang peristiwa yang melanda dirinya, baik tentang api, makanan, racun, dan segala hal yang ia ketahui dari pengalaman buruk itu.

Buku itu akhirnya jatuh ke tangan generasi setelahnya. Dengan membaca buku itu, akhirnya manusia-manusia selanjutnya dapat belajar supaya tidak termakan oleh keburukan yang sama.

Begitu juga dengan manusia-manusia yang hidup di masa mendatang. Ketika melihat angin dan gesekan yang terjadi di antara pepohonan, ia terpikir akan sesuatu dan mencoba menggesek beberapa ranting kecil. Apa yang terjadi, eureka! Ditemukanlah api untuk pertama kalinya

Kisah ini dicatat, dan dibaca oleh generasi mendatang. Begitu seterusnya hingga listrik, dan beragam perangkat, serta kecerdasan intuitif manusia makin berkembang.

Mirip dengan hukum kontradiksi dari Hegel, bukan? Hegel adalah seorang filosof kebanggaan Jerman. Dalam teorinya, ia berusaha mengungkap rasionalitas tiap-tiap zaman dalam sejarah peradaban manusia.

Baginya, sejarah selalu bergerak maju menuju kesadaran dan kebebasan yang lebih sempurna. Misal, sebelum manusia mengetahui bahaya sumber makanan yang diperoleh melalui hutan yang terbakar itu, manusia tidak mengetahui sama sekali akan implikasi sesudahnya.

Manusia akhirnya belajar. Lalu, manusia membutuhkan makanan yang sekiranya lebih lezat, layak konsumsi, terlebih bernutrisi, maka manusia mencari jalan dan menemukan api. Begitu seterusnya hingga listrik, lampu, dan beragam teknologi seperti sekarang telah lahir.

Semua hadir dalam kesadaran dan kehendak bebas. Secara lengkap, kita akan mengenal tesis, antitesis, dan sintesis jika ingin menguraikan secara lebih mendalam tentang gagasan filosof tersebut.

Yang hendak penulis katakan adalah, membaca sebuah teks dalam bentuk apa pun, secara fungsional membuat kita lebih tahu diri, lingkungan, dan pengalaman orang-orang di masa lampau serta dunia yang ditempatinya. Maka kita akan berpengetahuan banyak.

Syukur-syukur jika kita berniat untuk menulis dalam perspektif yang berbeda. Tentu akan lebih baik untuk dijadikan bahan untuk masa mendatang. Entah novel, filsafat, sejarah, sains, dan beragam jenis teks lainnya adalah pengetahuan yang sungguh bermakna.

Tidak peduli setua apa pun, sebuah teks tidak akan hangus termakan zaman. Kecuali memang teks itu benar-benar dianggap berbahaya dan sengaja dihanguskan oleh otoritas tertentu yang dianggap mengancam eksistensinya.

"Ah zaman sudah maju ini, untuk apa membaca buku lama, tidak penting", "ah teknologi sudah canggih, untuk apa membaca buku, mending baca di Google saja".

Tidak ada yang salah dari cara pandang itu. Kita memang sudah terbiasa dengan budaya konsumtif dan pragmatis, bukan?

Namun, yang menarik adalah, bahwa, manusia adalah makhluk sejarah. Ia tidak mungkin lepas dari peristiwa sejarah, karena ia adalah bagian di dalamnya. Bahkan ada yang menyebut juga bahwa manusialah yang telah menciptakan sejarah.

Maka, membaca masa lalu adalah merefleksikan ulang apa-apa yang dialami dan menubuh dalam fase zaman tertentu. Membaca teks berarti mencoba memahami sistem logika dan segala yang melingkupi sejarah di mana tulisan-tulisan itu lahir.

Tidak ada sejarah yang benar atau salah. Semua tergantung dari logika setiap zaman. Bahasa anak-anak muda pada era Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) tentu berbeda dengan zaman kita.

Kita boleh tertawa dengan diksi-diksi jadul (menurut versi zaman sekarang) pada masa itu. Lalu, bagaimana jika mereka menuju lorong waktu dan sampai di era kita? Apakah mereka juga tidak akan tertawa dengan bahasa, apalagi fashion kita?

Bagaimana dengan kita anak era 90-an membaca tulisan-tulisan orang yang telah berumur empat puluh tahun atau lebih? Bukannya kita telah mendapat banyak pelajaran berharga dari orang yang berpengalaman lebih tua. Kesadaran kita harusnya menjadi lebih dewasa karena hal itu.

Terakhir dan sebagai kesimpulan, membaca banyak karya bukan hanya tentang aku yang menjadi lebih pintar, dan menjadikan itu sebagai senjata untuk menghakimi segala. Membaca adalah tentang menerima dan menghargai, baik sebuah karya, budaya, logika, sejarah, kepercayaan, dan segala keberagaman yang ada.