Ibu Rumah Tangga
1 bulan lalu · 434 view · 4 menit baca · Budaya 33178_91614.jpg
Geotour Indonesia

Tentang Suku Anak Dalam, Orang Rimba Jambi

Suku Kubu atau Suku Anak Dalam (SAD) merupakan suku minoritas dan terasing yang sebagian besarnya masih bermukim di dalam hutan Sumatra yang sulit dijangkau. Suku Anak Dalam ini mayoritas hidup di Provinsi Jambi dan sebagiannya tersebar di Sumatra Selatan dan Sumatra Barat. 

Mereka hidup seminomaden di kawasan Taman Nasional Bukit Duabeals (TNBD), di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), di sepanjang Jalan Lintas Sumatra, dan beberapanya lagi telah menetap di perumahan buatan pemerintah.

Masyarakat Jambi lebih mengenal Suku Anak Dalam dengan “Suku Kubu” atau menyebutnya dengan “Orang Kubu”. 

Namun, saat saya mengunjungi dua permukiman Suku Anak Dalam yang telah menetap di perumahan milik pemerintah untuk menggali seni budaya yang nyaris punah, mereka menyatakan penolakan atas sebutan tersebut. Selain dianggap merendahkan, sebutan tersebut juga bermakna peyorasi atau memiliki nilai rasa lebih rendah/buruk.

Permukiman Desa Sialang, Pamenang, Merangin, Jambi | Dok. Pribadi

Dua permukiman Suku Anak Dalam yang telah menetap di perumahan milik pemerintah yang menjadi fokus riset saya, yakni permukiman Desa Sialang, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin yang dipimpin oleh Tumenggung Ganta dan memiliki 13 kepala keluarga. 

Juga permukiman di Desa Dwikarya Bakti, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Muaro Bungo, Provinsi Jambi. Di Desa ini terdapat dua kelompok, yakni Tumenggung Hari (27 kepala keluarga) dan Tumenggung Badai (9 kepala keluarga).

Permukiman Desa Dwikarya Bhakti, Pelepat, Muaro Bungo, Jambi | Dok. Pribadi

Kepada saya, mereka menamai dirinya dengan sebutan “Orang Rimba”. Mereka tidak marah disebut "Suku Anak Dalam." Sebutan dari pemerintah yang lebih dikenal luas itu mereka anggap memiliki nilai rasa yang lebih baik atau ameliorasi.

Suku Anak Dalam yang sudah menetap di permukiman milik pemerintah—jauh dari hutan—mengaku memiliki nenek moyang sama, yakni berasal dari kawasan hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Mereka hidup secara berkelompok dan dikepalai oleh seorang tumenggung. 

Untuk kemudian kelompok atau tubo dalam Suku Anak Dalam akan saya sebut “rombong” disertai nama tumenggungnya. Dalam satu rombong Suku Anak Dalam, biasanya terdiri atas beberapa kepala keluarga yang sebagian besar masih memiliki pertalian darah.

Semasa hidup di rimba, yang menjadi pemimpin sebagai tumenggung dilihat berdasarkan garis keturunan. Sekarang, pemilihannya dilakukan secara musyawarah bersama. Siapa pun anggota rombong bisa dipilih menjadi tumenggung asalkan memiliki kapasitas yang layak dan bisa memimpin. 

Posisi tumenggung ini tidak digaji oleh anggota rombong maupun pemerintah. Masa kepemimpinannya pun tidak dibatasi dan proses pemilihan tumenggung harus diketahui pemerintah desa untuk kemudian di-SK-kan oleh desa.

Dalam segi struktur sosial, dalam satu rombong Suku Anak Dalam, dahulunya terdapat wakil tumenggung dan penasihat yang jabatannya setara dengan tumenggung. Wakil tumenggung bertugas sebagai penyampai amanat bila tumenggung tidak ada; penasihat bertugas memberikan nasihat kepada tumenggung.

Ada juga kepala adat, depati, mangku, dan menti. Kepala adat bertugas menyelesaikan segala persoalan yang berkaitan secara adat dan menjadi pengawas dari menti hingga tumenggung. 

Depati bertugas menyelesaikan masalah sengketa wilayah kekuasaan, mangku sebagai penyelesaian masalah, serta menti sebagai penyampai pesan.

Selanjutnya beberapa yang cukup penting, namun tidak masuk dalam struktur komunitas adat terpencil Suku Anak Dalam, yakni seorang cenayang dan beberapa dukun beranak atau yang mereka disebut bidan. Tugas bidan membantu para perempuan melahirkan.

Sementara tugas cenayang sebagai penyampai pesan dari para dewa, mengobati orang sakit, dan memimpin Suku Anak Dalam saat melakukan ritual keagamaan. Baik bidan maupun cenayang, mereka melakukan tugasnya dengan sukarela alias gratis atau tidak dibayar.

Kenyataannya, pada rombong Tumenggung Ganta di Sialang yang memiliki anggota tiga belas kepala keluarga misalnya, jabatan struktural yang ada hanyalah tumenggung belaka. 

Bahkan, dalam rombong mereka tidak memiliki cenayang dan bidan sehingga jika ada anggota rombong yang hendak melahirkan, biasanya yang akan dipanggil adalah Pak Mansyur, cenayang sekaligus bidan dari rombong Suku Anak Dalam yang lain.

Berbeda pula dengan permukiman Desa Dwikarya Bakti, Muara Bungo. Di permukiman ini terdapat dua rombong, yakni di bawah kepemimpinan Tumenggung Badai dan Tumenggung Hari. 

Pada rombong Tumenggung Badai, jabatan struktural yang terpenuhi sama dengan rombong Tumenggung Ganta. Sementara pada rombong Tumenggung Hari, mereka memiliki cenayang sekaligus bidan.

Namun, fungsi cenayang pada rombong Hari beberapanya hilang dan punah. Pada Suku Anak Dalam yang masih menganut animisme, cenayang bertugas sebagai pemimpin ritual upacara dan penyampai pesan para dewa. Sebab sebagian besar rombong Hari telah  memeluk agama Islam, maka otomatis ritual yang menghubungkan mereka dengan dewa-dewa sudah tidak lagi dijalankan. 

Faktanya, tidak sedikit juga warga masyarakat yang mendatangi cenayang di rombong Tumenggung Hari—Mak Nur—untuk berobat. Selain dipercaya mampu mengobati berbagai penyakit, Mak Nur juga dipercaya mampu mendatangkan jodoh bagi siapa saja yang menginginkan.

Rombong Tumenggung Ganta sudah memeluk agama Kristen, dan rombong Tumenggung Badai masih menganut animisme. Sebelum berpindah agama, sebagian besar keyakinan mereka adalah animisme. Tumenggung Ganta mengatakan bahwa saudara-saudaranya yang masih menetap di hutan TNBD masih menganut kepercayaan lama. 

Pakaian sehari-hari Suku Anak Dalam semasa di rimba adalah cawat untuk laki-laki dan kain panjang khusus perempuan. Cawat dibuat dari kain yang dililitkan untuk menutupi kemaluan.

Foto: okezone news

Bagi perempuan yang belum menikah, kain panjang dipakai menutupi dada hingga bawah dengkul. Khusus perempuan yang sudah menikah, kain dipakai di bawah payudara hingga dengkul dan bagian atas dibiarkan terbuka. 

Semenjak tinggal di permukiman milik pemerintah, Suku Anak Dalam telah berpakaian laiknya masyarakat biasa. Hilangnya hutan tempat mereka tinggal dahulu membuat mereka harus berinteraksi dan berbaur dengan masyarakat dusun.

Jika dilihat sekilas, ada sebagian Suku Anak Dalam yang sulit dibedakan dengan masyarakat dusun. Dari segi penampilan, mereka sudah berpakaian lengkap dan rajin membersihkan diri. 

Dari segi fisik, tidak semua Suku Anak Dalam berkulit gelap. Ada juga yang kuning langsat, bermata sipit, dan memiliki wajah yang menawan. 

Tak bisa dimungkiri, sebagian besar bisa dengan mudah diketahui bahwa mereka adalah golongan Suku Anak Dalam. Pakaian dan fisik mereka yang agak sedikit kumal biasanya menjadi stereotip yang membuat orang-orang sekitar bisa membedakan suku Kubu dan masyarakat sekitar.