Bangunan yang berdiri di simpang jalan di seberang Katedral St. Bartholomeus dan Masjid Jami’ Al Hidayah itu adalah toko buku terlaris di kota ini. Hari ini terlihat lebih ramai dari biasanya karena akan diadakan meet and greet bersama seorang penulis kondang. Mas Penulis itu sedang launching buku barunya. Saya dan Dhiani sudah datang satu jam lebih awal agar dapat spot yang nyaman.

“Aku sudah beli buku Mas ini,” kata Dhiani semangat. “Nanti mau minta tanda tangan.”

Tiga puluh menit kemudian, MC mengumumkan acara akan dimulai. Mas Penulis sudah duduk manis. Menyapa kami melalui lambaian tangan dan senyuman. Dengan demikian sudah cukup membuat kasak-kusuk gemas di antara remaja putri. Saya lirik Dhiani meremas bukunya erat sekali.

Saya tidak menyimak dengan baik saat MC dan Mas Penulis membahas tema buku itu. Baru ketika Mas Penulis yang berambut ombak hitam itu menjelaskan riset yang menyebut UNESCO gendang telinga saya mulai menangkap getarannya.

“Tahun 2012 minat membaca di Indonesia hanya 1:1000. Ini mengerikan!” kata Mas Penulis.

Dengan tajam ia tambahkan: “Tahun 2014 anak-anak hanya membaca 27 halaman buku. Tahun lalu, tingkat literasi kita di urutan 60 dari 61.”

Para audiens terdiam. Tidak siap. Beberapa orang merenung. Diam-diam merasa bersalah karena seolah turut menyukseskan statistik mengerikan itu. Dhiani menunjukkan hasil browsing-nya. Mengamini apa yang Mas Penulis itu sampaikan.

Mau tidak mau saya mengikuti uraian statistik itu. Mas Penulis benar. Adalah fakta bahwa tingkat literasi kita masih mengecewakan. Hanya 1 dari 1000 orang yang membaca buku. Hanya 27 halaman dari mungkin buku setebal 300 halaman yang dibaca seorang anak setiap tahun. Membaca buku seolah menjadi hobi yang “langka” di Indonesia. Dengan tingkat melek huruf di atas 90%, seperti sebuah anomali jika minat terhadap buku timpang sedemikian besar.

Kecanggihan, kelenturan, dan kecepatan internet mengalihkan minat membaca buku fisik menuju ke platform yang lebih ringkas semacam artikel blog atau lini masa media sosial. Belum lagi harga buku yang bisa digunakan untuk makan 3 kali sehari. Itupun jika isinya langsung in-line dengan problem sehari-hari.

Hal yang (sayangnya) tak selalu demikian. Membaca buku adalah investasi yang tidak langsung terlihat hasilnya. Beda jika dibandingkan dengan gadget atau sepeda motor yang serta merta terlihat.

Namun yang merisaukan saya hanya satu: “Apakah kita harus khawatir dengan statistik itu?”

Saya percaya buku adalah modal pembangunan manusia. Berliterasi adalah sarana untuk mengenal dunia yang serba luas dan dalam. Menjadikan orang memiliki rujukan dan argumen yang lebih berbobot ketika bertemu persilangan pendapat. Berliterasi menjadikan Albert Einstein sedemikian cerdas. Tengoklah koleksi buku founding fathers Sukarno dan Hatta. Niscaya kita malu karena yang kita koleksi dengan antusias masih sebatas Like di Instagram.

Tak ada yang salah diri statistik yang menampar itu, kecuali satu hal. Bahwa periset belum memperhitungkan pembacaan pada “naskah” yang tak tertulis. “Naskah” yang ada di alam semesta.

Sebelum babak sejarah dimulai dengan ditemukan praktik budaya tulis, manusia prasejarah telah lebih dulu hidup di bumi. Mereka beradaptasi dan berkembang sejak era Zaman Batu, Zaman Logam, bergeser ke masa Perunggu, lalu di Zaman Besi. Selama hidup di dunia yang tak mengenal budaya tulis, mereka membangun value dirinya melalui apa yang alam berikan. Baik itu kebutuhan biologis, sosiologis, maupun spiritual.

Manusia Zaman Batu tidak memiliki tutorial book membuat perimbas untuk food gathering. Alam dan naluri lebih dulu menuntun mereka. Alam dan naluri inilah “naskah” yang tak tertulis. Sesuatu yang terhampar di semesta dan manusia dipersilakan menggalinya.

Yang hidup di zaman batu belum tentu kalah pamor dengan manusia milenial. Alam dan naluri mengajarkan mereka mengenal teknik berhubungan seksual lebih dulu sebelum Kamasutra dibaca jutaan orang. Di Arab, sebelum buku aeronautika terbit seorang nabi telah melesat melewati langit menuju Sidratul Muntaha.

Manusia adalah makhluk yang kompleks. Organisme yang sifat dan kepribadiannya kapan saja bisa berubah. Sebagai aktor di dalam sebuah peradaban, pembangunan manusia tidak selesai hanya pada statistik berliterasi. Tidak cukup dengan seberapa banyak halaman-halaman buku yang dilahap atau seberapa banyak koleksi di rak.

Pembangunan di sini adalah bagaimana menjadikan manusia yang lebih baik. Menjadi manusia yang memanusiakan. Memiliki value yang tidak stagnan. Buku-buku hanyalah jembatan penghubung satu value dengan value yang lain. Jembatan itu tak hanya satu. Orang yang banyak membaca buku, pada saat yang sama harus “membaca” naskah yang alam semesta berikan.

Orang mengerti antropologi tak akan cukup dengan membaca karangan Koentjaraningrat saja. Menjadi muslim yang kaffah tidak tuntas hanya dengan bermodal membaca terjemahan Alquran.

Ibaratnya manusia adalah tanah kering. Buku adalah hujan, sementara alam adalah metode bercocok tanam dan komposnya. Tunas yang tumbuh adalah value. Dalam hal ini semua elemen berperan. Bukan lagi petani, ahli botani, atau pabrik pupuk yang mendominasi kala berbicara pertanian.

Statistik hanyalah alarm. Ia bukanlah neraca yang menimbang apakah kegiatan menghabiskan berlembar-lembar halaman buku sebanding dengan value yang tertanam, tumbuh, dan melembaga dalam diri manusia. Karena bagaimanapun, orang yang membaca banyak buku belum tentu membuat ia lebih “manusia” dari yang tidak membaca.

Sementara, 1000 orang yang karena berbagai alasan lebih mendesak dalam hidupnya sampai tidak sempat membaca buku pun bukan berarti mereka tidak intelek. Masing-masing punya value sendiri.

Lama saya merenung sampai tersadar bahwa meet and greet itu telah masuk wefie session. Dhiani malah sudah masuk antrean untuk dapat tanda tangan.

“Mumpung di sini, nggak beli buku sekalian?” tanyanya ketika kembali.

Saya menggeleng. “Saya baca kamu saja.”