GELAP yang pudar beserta gaduhnya suara malaikat menyulam firman Tuhan, jua terbingkai satu titik nadir terberat dari sebuah resap yang bernama hening.

Lalu bersabda pena di atas titah tuannya, mengisahkan tentang seorang insan yang memeluk hangatnya rasa kejauhan. Melepas sukma di tengah redupnya kelam yang menari dengan lincah di peraduan.

Tibalah sahut menyahut suaru muadzin menyeru kepada hamba menghadap Tuhan, di sisi lain teriakan manusia-manusia mengusik butanya kepagian, meneror dingin hari yang kian nekat meninggalkan bumi.

Fajar mulai lenyap, asapnya mulai memudar, dari kejauhan ku tatap tabir yang menutup terik kala ia mulai tersenyum, bertanda surya sudah berani melawan gelap yang berjaya menguasai malam.

Aku belum jua beranjak dari tempatku bersemayam, duduk di atas panggung lara yang ku anggap sebagai siksa atas takdir yang telah Tuhan gariskan padaku. perihal aku yang tercatat sebagai raga yang telah memesan sunyi hingga ditimpa sepi.

Beratus hari berlalu, beribu masa terlewati, kita sudah mengakhiri hubungan ini sejak pesan terakhir whatsAppmu menyudahi kebersamaan kita yang memang dingin sebelumnya.

Aku memberanikan diri berjalan tanpamu di pagi ini, aku  tak ingin menengok kebelakang lagi sebab enggan dicampakkan oleh kesenyapan.

Lalu ku pesan kopi di warung sebelah sebagai pertanda bahwa aku sudah siap menyelami bilik kehidupan di hari ini. Seperti biasanya ku tenggak kopi dari cangkir secara seksama, dinikmati teguk demi teguknya dengan khidmat, sebagaimana aku menikmati hari-hari tanpa hadir bayangmu di genggamanku.

Begini kiranya menjalani hidup dalam kesunyian. Sunyi sebagai keputusan mutlak dari Sang Pemilik lauhul mahfudz, bahwa aku sudah direkatkan padanya.

Sejujurnya aku benar-benar tak rela jika pagi harus meninggalkanku, sebab surya tak seindah teriknya, ia kehilangan kehangatannya jika naik ke timur bumi.

Hanya kepada pagi ku paksa diri mengadukan tentang kefanaanku yang sunyi nan sepi, yang dengan senang hati disambut hangat oleh pagi bersama harapan di sampingnya.

Lalu tatkala surya mulai naik di ufuknya, aku memberanikan diri bernegoisasi kepada masa, “tolong jangan dulu beranjak dari porosnya, aku masih membutuhkanmu untuk menyampaikan rasa sepi dan sunyi yang ku pendam dalam-dalam di jagat lelahku” gumam batinku.

***

ENTAH perasaan apa yang menganggu batinku, aku hanyut dalam nikmat yang penuh keterbatasan. Tak ada dawai dan harmoni yang dapat ku mainkan sesudahnya.

Aku bisu dibungkam sepi, apa ini hanya ceremonial batin semata?  atau pekikan diri yang mengguncang sebab tak sudi ditinggal ramai? Entahlah!

aku telah ditebas oleh cambuk kesepian, suatu siksa perasaan yang terjadi selepas kau angkat kaki dari sukma batinku. Semakin hari semakin mencekam sesak jantungku, semakin lama semakin memutus urat-uratnya.

aku masih menyusuri pinggiran jalan Adinegoro ‒ ketika surya sudah tak malu lagi menampakkan semerbaknya di hadapanku ‒ sembari menunduk kehilangan arah pun tanpa tujuan pula, hanya berjalan dan berjalan sampai batas mana lelah kaki melangkah

Ku seberangi jalan ini sambil menengok kiri dan kanan memastikan tak ada laju yang akan melindas kesepianku di terik surya yang makin berteriak ramai.

Belum genap seribu bulan, sayup-sayup terdengar dari kejauhan, suatu kabar bahwa kau akan menikah dengan seorang yang katanya benar pilihan hatimu.

Aku sungguh sebak dengan kabar itu, yang ku ingin kita mampu menghentikan hujan bersam-sama, memetik bulan atas dasar kekaguman, dan menikmati dialog dini hari semalam suntuk.

Ah, cita ku terlalu mengada-ada! Sudahlah tak perlu risau, biarlah dipecundangi oleh sepi, dan tertawakan oleh sunyi dari pada mengemis asmara bagai si fakir cinta yang dikencingi oleh olok-olok sebuah angan.

Harusnya tak ada lagi air mata yang disesali, jika itu memang benar pilihan hatimu harusnya aku lega, tak perlu menyeka air mata. Biarlah kesunyian ini menemani lengkapnya sepi yang selalu menemani hari-hariku belakangan ini.

Biar saja orang-orang gaduh di luaran sana, aku tetap setia dengan sepi yang ku pinjam dari kesunyian suara Tuhan.

Entah bagaimana aku menjadi nyaman dengan gaduhnya kesunyian ini, ibarat luka yang dinikmati tiap sayatannya. Aku seperti hamba yang bersyukur penuh atas semua hal ini.

Apakah ini jawaban dari panjangnya doa-doaku kepada Sang Pencipta? memohon agar diberikan suatu kebaikan atas sepi yang ku alami, begini rupanya pemberian Tuhan.

Tetap saja aku harus menikmati setiap amar Tuhan, bukan membangkang atas sepi yang terjadi hari ini.

***

TATKALA jingga melengkapi senja yang sedikit malu menunjukkan pesonanya, di sudut kota lainnya sorai anak-anak bermain bola dengan sesak riuhnya, pertanda surya akan melepas sukma dan melampiaskan amarahnya kepada semesta.

Ku pastikan detik itu aku telah berada pada bilik ratapan yang menemani malam panjangku sembari menunggu gelap yang jatuh di buaian semesta. Lalu dituliskan atasnya larik-larik tentang gaduhnya sunyi di tengah sepi. Kabur memang memahaminya, begitulah kaburnya jiwaku yang hidup bersama kesepian.

Sepi tak semenakutkan akalku, lama-lama aku terbiasa dengannya, terbiasa dengan gelap, terbiasa dengan senyap, hingga terbiasa tanpamu seseorang yang ku sebut kekasih (dulunya).

Malam yang panjang menantangku untuk kembali berdialog dengan bayang wajahmu, aku agak tertantang rupanya, tapi ku sudahi saja, aku sudah muak dengan perasaan ini, biarlah aku ditidurkan bersama sepi sahaja.

Untuk apa memaksa ramai, bila yang diajak ramai akan memadu asmara lalu menjalin kasih dengan pilihan hatinya, lantas apa yang tersisa dariku? melainkan sepi yang tak berujung.

Untuk apa menjajah diri jika gaduhnya sepi adalah anugerah yang terasa syahdu untuk dinikmati dengan khusyuk dan penuh gelora.

Tak perlu lagi merasa dikubur atas sepi yang menjadi-jadi padahal makamnya sepi adalah diri sendiri, nisannya adalah semangat sedang tanahnya adalah kecewa.

Aku tetaplah aku! dan akan terus hidup dengan sepi pada sunyi yang menggaduh, sampai aku lelah, sampai jadi debu.