Akhir Desember, hujan sedang ramai-ramainya menyerbu bumi. Kuharap, air hujan bisa ikut menghilangkan semua jejak kenangan dan cerita pahit yang menyakitkan. Semua tentang namamu nan masih mengusik ketenangan hidupku.

Pagi ini, hujan amat deras. Ingin rasanya aku mengambil huruf per huruf namamu dari hatiku dan meletakkan di bawah tariannya. Agar 'kau' ikut menari dan lebur ditelan bumi.

Tapi, kenyataannya berbeda. Alih-alih ingin menghilangkan namamu, kenangan lebih dahulu menyerbuku dengan ganas. Kini, aku tumbang di atas ranjang bersama bayanganmu.

Hujan, mengapa kau begitu kejam? Suara titik-titikmu ke tanah terasa begitu memilukan. Aku tersayat-sayat oleh nama yang ingin kuenyahkan sendiri. Aku tertusuk oleh duri mawar yang tak kupegang hati-hati.

Bahkan, hujan saja masih pilih kasih. Hujan masih saja berpihak kepadamu. Sedangkan aku tak dibela siapa-siapa. Apakah ini semua adil?

Atau, aku harus memintamu sendiri untuk memunguti namamu dari hatiku? Apakah kau bersedia mengambil sendiri namamu?

Kurasa kau tak peduli lagi. Namamu hanya sekadar namamu; namamu bukan lagi dirimu. Dahulu, namamu dan kau adalah utuh; sekarang tak lebih dari dua entitas berbeda.

Aku hanya bisa memeluk namamu, bukan dirimu lagi seperti dahulu. Aku hanya bisa menyandarkan kepenatan hidupku pada namamu, bukan lagi pundakmu. Aku hanya bisa tertawa bersama namamu, bukan lagi di hadapanmu.

Alangkah lucunya hidup ini. Ketika kita tak lagi bersama seseorang itu, tapi namanya masih tetap tinggal menemani kita. Dan, jika kita bertemu orang baru, apakah akan seperti ini lagi?

Tak habis pikir, kenapa menghilangkan nama seseorang lebih rumit daripada memutuskan untuk meninggalkannya? Atau, mungkin lebih baik suatu saat aku ingin bersama seseorang tanpa mengenal namanya. Mungkin itu lebih mudah ketika berujung 'pisah'.

Wahai pembaca, adakah nama yang ingin kau hilangkan dari hatimu sepertiku?

Sebuah nama dari orang lain bisa lebih intim dengan hati sendiri. Mengapa demikian? Aku malu sekali, karena hatiku pun tak berpihak kepadaku sendiri.

Aku merasa semua telah berkhianat kepadaku. Kamu, hujan, dan hatiku sendiri. Kalian telah berkonspirasi dan menusukku dari belakang. Itu sebabnya aku kehilangan selera mencintai lagi.

Kau yang pernah demikian kucintai, ternyata bisa seperti itu pula mencintai perempuan lain. Tiada yang kau tinggalkan untukku selain luka, kecewa, dan sebuah nama.

Ya, apa pun yang terjadi, aku harus menyembuhkan sisi hatiku yang lain. Meskipun dia masih memihakmu, aku harus menyadarkannya untuk kembali kepada diriku sendiri.

"Kau adalah makhluk bernyawa yang bisa berkehendak sesuka hatimu."

Bukan juga salahmu jika akhirnya aku memilih sendiri. Ternyata, aku hanya kelelahan akibat ekspektasiku terlampau tinggi. Sama seperti kelelahan karena perjalanan jauh. Jadi, kau tak harus meminta maaf kepadaku.

Aku juga bingung ketika kau (mungkin) meminta maaf kepadaku. Di bagian mana yang harus kumaafkan? Karena aku sebenarnya tidak "gila" permintaan maaf dari siapa pun, termasuk darimu.

Kita berubah menjadi canggung. Bertegur sapa adalah klise saja. Mungkin, kau telah dipenuhi dengan "nama-nama" di hidupmu, sementara aku masih seperti ini.

Kita lebih rumit dari perhitungan eksakta. Tidak ada rumus-rumus untuk pergi tanpa menghadirkan bekas luka. Tidak ada trik-trik khusus untuk menyederhanakan kerumitan hubungan percintaan. Yang paling penting adalah tidak ada kepastian!

Namun, ada yang pasti dari kisah ini. Tinggalnya namamu di hatiku adalah sebuah kepastian dan ingin kulenyapkan. Nama yang terpisah dari pemiliknya adalah kengerian sesungguhnya. Bukankah begitu?

Huft, menuliskanmu di sini adalah keberanian luar biasa. Karena mengenyahkanmu memang butuh persaksian orang lain. Sedewasa apa pun, persoalan cinta tetap tak bisa kutebak maunya bagaimana.

Betul sekali, aku bukan yang dahulu lagi. Aku, perempuan paling keras kepala yang memperjuangkan apa yang kumau sampai dapat. Perjuanganku saat ini: menghilangkan namamu dari hatiku.

Setidaknya, kehadiranmu dalam hidupku pernah memberikan warna tersendiri. Kita pernah saling mengisi buku kehidupan masing-masing. Kau menulis dalam bukuku; aku menulis dalam bukumu.

Tak mengapa, aku penuh kedewasaan melepaskan "tubuhmu". Biar saja namamu yang abadi bersamaku. Meskipun terkadang membuatku ketakutan, lama-lama mungkin akan terbiasa dengan keadaan ini.

Memang benar, nama akan lebih abadi dibandingkan "tubuh". Seseorang tidak akan pernah selamanya bisa memeluk tubuh orang lain, tapi sanggup mendekap namanya tanpa dilepaskan sedetik pun. Bahkan, orang yang sudah meninggal tetap abadi dalam sebuah nama.

Baiklah, biarkan namamu abadi bersamaku. Kau boleh pergi ke mana saja dengan nama-nama yang kau suka. Aku tetap melanjutkan hidupku dengan penuh kebahagiaan.

Terkadang memang ada hal-hal di dunia ini yang tak bisa dipaksakan. Ya, termasuk memaksakan untuk mengenyahkan namamu. Biarkanlah saja mengalir apa adanya. Lagi pula, apalah arti sebuah nama?

Biarkan namamu yang menemaniku ke mana-mana, kau tak perlu. Desember memang sebentar lagi akan berakhir, tapi ternyata namamu tak kunjung berakhir bersamanya.