Kemanusiaan bukan sekadar jual beli kepedulian, melainkan etika dalam setiap insan. Begitu pula kesehatan manusia bukan sekadar bisnis semata.

Satu sisi dari sepenggal pengalaman pandemi ini, kita belajar menjadi rendah hati bahwa setiap perang menentukan riwayat dan hikayat setiap generasi. Bahwa sakit dan mati selalu diperlukan dalam pertarungan, membentuk dan menghapus perseteruan.

Di atas piramida kurban manusia, di dalam sensasi ranting angka kematian, kita kembali ke titik nadir. Bahwa setiap insan yang jatuh dan tersungkur kenyataan hanya perlu diperhatikan. Dalam situasi dan kondisi yang layak, ia hanya perlu diperhatikan bukan dikasihani. Sebab ia tidak begitu lemah di atas kepongahan dunia, juga ia tidak begitu rendah atas empati-empati kini yang kerap menjadi komoditas.

Terkait dengan itu, sebelum kita merabah lebih jauh tentang satu semester pandemi Covid-19 dalam sisi yang lain, langkah nyata paling rasional yakni cuci tangan, mulai membiasakan hidup bersih dengan asupan makanan bergizi untuk membantu raga. Namun, jangan pernah lupa juga untuk menyirami taman jiwa agar ia tumbuh subur dengan harapan dari dalam.

Reaksi Awal Kemunculan Covid-19; Antara Cerita Konspirasi dan Kritisme Masyarakat

Di tengah teror serangan pandemi sejak awal Maret yang nyaris membunuh harapan itu tidak mematikan daya kritis sebagian orang, tak terkecuali mahasiswa yang mempunyai sedikit informasi pengetahuan.

Mereka lalu kemudian mengampanyekan diri di beberapa media sosial sekadar memberi kabar gembira kepada orang-orang yang tersayang. Membuat mereka merasa sedikit tenang bahwa keadaan baik-baik saja di perantauan. Dalam keadaan tersebut, juga memberikan kesempatan banyak orang sekadar mewarnai kembali kehidupan akademisi dalam ruang-ruang dialektika baru.

Kendatipun demikian, informasi mulai melimpah, pertarungan pun terbuka. Dan semenjak itu, setiap orang lebih leluasa belajar dan berpendapat. Teknologi dan informasi yang dikontrol penguasa wacana sebaliknya digunakan mendeteksi arah kebijakan nasional dan sistematika kekuatan global membajak pandemi Covid-19.

Hal ini kemudian memicu percakapan publik berlahan menggelitik dan juga merangsang daya kritis masyarakat. Mula-mula dengan meletakkan kecurigaan terhadap desain politik global dalam upaya pendistribusian kepentingan ekonomi dan politik sebagai strategi dalam mengamankan kekuasaannya.

Adapun yang bertolak dari cerita konspirasi-konspirasi yang beredar. Tentu tak ada yang salah, sebab di dalam dunia tak adil dan timpang tindih ini, jangan sekali-kali mengabaikan, apalagi meniadakan cerita konspirasi. Dari cerita itu, bermula prasangka yang wajar agar tetap waras, terus berpikir dan berpihak. Karena tanpa ada sikap curiga, maka tak ada perjalanan menuju pengetahuan dan penemuan.

Di tengah peradaban manusia sekarang, kejahatan dan kebaikan bisa bertukar tempat. Konspirasi adalah pengantar cerita untuk menyusun cerita besar atau wiracarita tentang sejarah panjang sebuah kejadian sebelum akhirnya hadir sebagai bencana.

Karena melalui cerita konspirasi, kita mulai mengetahui dan merasakan bahwa peristiwa dunia selalu membentuk riwayat hidup dan mati kita, jauh atau dekat, cepat atau lambat.

Hemat saya, di dalam situasi pandemi Covid-19, cerita konspirasi terbelah ke dalam dua arus kepentingan. Bagi arus pertama, konspirasi adalah bualan politik dari mereka yang sedang bertarung atau kalah dalam pertarungan.

Ini paham konspirasi menurut yang menang atau berkuasa. Bahwa sebuah kejadian bersejarah pandemi Covid-19 terjadi begitu saja, tidak terencana dan akan berakhir dengan sendirinya.

Toh, tujuannya sangat jelas, kan? Agar supaya kita tidak bertanya tidak paham kronologi, plot, aktor utama, pemeran pembantu, dan aktor antagonisnya. Terpenting, niat jahat tidak terungkap dan konsekuensi tidak dibahas tuntas atau dikondisikan menjadi urusan negara atau masyarakat terdampak semata.

Arus kedua, sebaliknya membincangkan konspirasi untuk mendapatkan titik terang dari sebuah peristiwa yang telah menimbulkan kepanikan dan mengubah sejarah.

Sebuah percobaan analisis sekonyol apa pun untuk tidak tersesat dalam satu narasi tunggal cerita resmi dari buku teks orang-orang berkuasa atau merebut kuasa.

Paham ini menjadi senjata pengetahuan, bagi mereka yang menolak jadi penonton menolak menjadi tumbal sejarah pertarungan kekuasaan. Suatu pilihan sulit panggilan akal sehat berhadapan langsung dengan totalnya produksi, distribusi dan kontrol informasi oleh tentakel media kekuatan globalis.

Mengenali dua arus pikiran di atas, pilihan harus diambil secepatnya sebelum terlambat dan mati dalam ketidaktahuan. Menariknya bahwa masyarakat kini menjadi orang-orang terkucilkan dan terdampak tentu menolak dibohongi dan dipermainkan.

Akan tetapi cerita konspirasi harus diberi konteks geopolitik dunia. Meskipun dari sana tanpa kesimpulan pasti tapi pertanyaan baru dirumuskan lagi dan pengetahuan mendapat tempat dalam kebijakan dan diskusi publik belakang ini. Komplikasi kepentingan adidaya dalam struktur dan sistem internasional hari ini mengingatkan kita pentingnya pegangan sejarah yang kuat.

Dari situ kita makin paham penyakit dan kesehatan tubuh mulai dihadirkan sebagai isu dunia, seperti dalam dua abad terakhir berganti dari supremasi ras selama masa kolonial. Ideologi selama perang dingin dan agama dua puluh terakhir sebelum Covid-19 tiba membunuh ribuan jiwa manusia dan 3,5 juta kasus.

Kendati demikian, dalam konteks geoplitik pengalaman 10 tahun terakhir, pelan tapi pasti, mendorong pembacaan yang berbeda terhadap pandemi kali ini. Karena kita tidak mau mengulangi lagi keterlambatan kita memahami muslihat Global War on Terrorism yang telah membunuh jutaan manusia, meninggalkan luka dan dendam di antara sesama umat beragama.

Dan membuat sebagian penduduk Timur Tengah meninggalkan rumah, tanah kelahirannya, tanpa kepastian kapan kembali dan berdamai dengan masa lalu berdarah. Dari ingatan yang telat tiba itu, kita akhirnya menjejaki kematian akibat pandemi Covid-19 sebagai persoalan kemanusiaan dalam kekejaman geopolitik.

Dilema Kebijakan Negara; Antara Tuntutan Internal dan Desakan Eksternal

Sebagai salah satu negara yang mengikat diri dalam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), sudah barang tentu dinamika perpolitikan Indonesia tidak terlepas dari konstelasi politik dunia. Akan tetapi wajah politik kita seiring pergantian pemimpin selalu pucat dan kalang kabut. Hal itu juga yang menjadikannya gugup dan gagap dalam menangani persoalan hari ini. Kenapa tidak?

Di arus hulu kerap bertabrakan kepentingan, sedang di hilir tersendat kanal-kanal kebijakan. Tuntutan dan desakan sipil terus beredar di berbagai platform media sosial. Dari yang berharap tekanan tersebut tidak membuat daya kejut berlebihan yang menjadikan warga kebingungan, juga agar tidak terbawah arus kepentingan atas desain politik dan pencitraan.

Peristiwa melanda belahan dunia hari ini menjadi momok bagi keberlangsungan hidup manusia, namun efek dari corona sebagian dari homo sapien seolah tak berdaya dengan ulahnya sendiri. Mengapa demikian, sebab di sisi lain manusia dilarang keluar rumah, namun sebagai homo economics justru akan terus mencari jalannya untuk memenuhi sandang, papan, dan pangan.

Negara kemudian hadir sebagai sekuritas untuk menjalankan fungsinya agar pandemi tidak menyebar hingga mengancam keberlangsungan hidup manusia tentu dengan segala otoritasnya. Namun di saat yang sama naluri biologis manusia memberontak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Pada konteks demikian, negara diperhadapkan dengan agenda HAM, akankah negara terus menjadi security dalam hal pandemi sementara di sisi yang lain warga negara butuh makan, minum dan lainnya.

Peristiwa ini justru membuat nalar tergelitik untuk keluar dari situasi darurat non alami, namun lagi-lagi situasi ini dibajak para rentenir agar mendapatkan keuntungan dari kondisi pandemi. Hal ini bukan hal baru dikarenakan setiap peristiwa dunia tentu akan membawa dampak pada tatanan keberlangsungan hidup manusia selanjutnya.

Parahnya adalah kelompok rentenir ini kemudian mengatasnamakan demokrasi menguasai partai dan akhirnya memengaruhi aturan main dalam negara demokrasi (hukum).

Di saat yang sama negara tersandera modal untuk melaksanakan kewajibannya, di sisi yang lain harus mendapatkan dukungan modal dari kaum oligarki namun di satu sisi juga harus taat atas agenda internasional. Celakanya, ini terus dieksploitasi oleh para penikmat pandemi untuk terus langgeng di tengah musibah yang melanda.

Untuk itu warga negara kemudian dibenturkan dengan negara melalui berbagai produk hukum yang membatasi rakyat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, namun di sisi yang lain para oligarki sedang asyik bersenggama dengan kondisi ini.

Untuk itu sebagai warga negara maka kita semua harus kritis menghadapi ulah para oligarki yang sedang manuver untuk terus melanggengkan agendanya melalui produk politik. Dari situlah manakala kita lengah, maka demokrasi kita hanya akan melahirkan oligarki sipil melalui partai politik.

Penutup

Dari cerita dan sejarah, juga tuntutan dan kebijakan selalu berjalan ke dalam dua sisi yang berbeda. Tarik-menarik antara keduanya yang membentuk citra panjang satu semester pandemi ini.

Semuanya memiliki kehendak untuk memperbaiki, tapi harus diperhitungkan dengan baik. Di sinilah orang merindukan kehadiran pemerintah dengan kalkulasi kebijakannya. Agar pemerintah mampu menjalankan fungsi negara yang katanya melindungi segenap bangsa Indonesia.

Mirisnya, ada yang kemudian memaknai tindakan masyarakat hari ini sendiri sebagai bentuk perlawanan. Ini tentang komunikasi publik yang baik, yang tidak produktif dan mampu berkolaborasi. Yang kemudian bagaimana ia bisa menjelma menjadi program, proses, metode, maupun gerakan.

Pekerjaan yang kemudian harus terus dibenahi adalah tentang kalkulasi itu sendiri. Maksud kalkulasi adalah tentang penjabaran cara yang tepat dalam upaya memperbaiki keadaan, memprioritaskan hasil akhir, dan disesuaikannya taktik demi tercapainya hasil optimal. Kalkulasi menuntut agar semua proses yang akan diatur harus digambarkan.