Amurwabhumi, anakku, bersama surat ini ibu titipkan sejuta doa kepada bintang-gemintang dan awan-gemawan, agar kelak kau terjaga di sepanjang perjalananmu. Sebab kita tidak tahu sampai kapan usia membuat kita terus bersama.

Maka dari itu, jika kelak kau sudah bisa mengeja, bahkan membaca, ketahuilah, sayangku, engkau adalah cinta pertama ibu. Engkau adalah salah satu alasan yang membuat ibu lepas dari ketakutan-ketakutan yang bersarang di kepala. Engkau adalah sumber kekuatan ibu.

Amurwabhumi, anakku, rantau itu seperti hari libur yang menyenangkan sekaligus memilukan. Kita hanya cukup punya hati yang lapang untuk melewati hari-hari baik dengan tabah. 

Dan sebagaimana kukisahkan padamu malam-malam lalu, sayangku, jarak hanyalah kabut tipis di dalam dada. Dan rindu adalah air mata yang enggan pulang tepat waktu. Ingatlah, Nak, yang telah digariskan adalah takdir dan yang dapat kita ubah hanyalah tangan nasib.

Amurwabhumi, anakku, terkadang rantau menjadi dunia yang sempit tatkala sepi dan rindu bercengkerama di hatimu yang lapang. Sekarang engkau sedang berteman dengan dingin dan kesunyian, tapi pernahkah engkau berpikir bahwa rantau adalah gambaran pesakitan? Tidak, katamu. Dan sekarang kita hanyalah sepasang mimpi yang pelan-pelan beringsut dari kelam malam.

*

Sungguh, ibu ingin sekali menghabiskan waktu setiap hari denganmu. Namun itu mustahil karena ibu harus pergi ke sekolah, menghadapi dunia baru yang tak pernah ibu bayangkan sebelumnya. Ibu hanya mewujudkan keinginan ayahmu untuk mengabdikan diri kepada negara. 

Sejak dalam kandungan, kau mungkin tahu bahwa cita-cita ibumu tak lain dan tak bukan hanya ingin menjadi perekam hal-hal kecil untuk ibu susun ke dalam huruf-huruf, lalu kelak akan ibu ceritakan ke dunia yang besar.

Hingga saat ini, di satu sisi, hati ibu masih menentang, sebab ini salah satu jurang pemisah bagi ibu, kau, dan ayahmu. Namun orang lain di tubuh ibu memaksa ibu melihat ke luar jendela yang begitu terjal bahwa hidup tak semudah yang kita inginkan. 

Baiklah, ibu akan menjalani hari-hari berat berpisah denganmu. Salah satu hal yang sedikit menghibur adalah mendapat izin untuk pulang menyusuimu. Kau memang teramat kecil untuk ibu tinggalkan, Sayangku.

Merantau berdua denganmu yang kala itu masih berusia lima bulan tentu saja bukanlah hal yang buruk. Meski cibiran banyak orang membuat ibumu yang malang ini terkadang meradang. 

Ibu tidak tahu terbuat dari apa hati mereka yang mengolok-olok kita akan bernasib sial karena tak ada nenekmu yang akan membantu mengasuhmu. Ayahmu pun harus bekerja di tempat yang jauh dan ibumu harus juga ke sekolah, yang jaraknya teramat jauh dari rumah ayahmu.

Sementara dua nenekmu sudah menua, masih ada yang harus mereka jaga dan mereka rawat. Sungguh ibu tidak tega memaksa salah satu dari nenekmu untuk ikut merantau bersama kita. Ibu merasa kuat menjalani hidup berdua saja denganmu. 

Meski ibu hampir tak punya waktu untuk tidur siang, sepulang sekolah ibu akan menjagamu hingga kau terlelap. Sungguh merantau berdua denganmu bukanlah hal buruk, meski sebagian mereka menganggap pengasuhanmu di tangan keluarga adalah hal terbaik. Ini sungguh subjektif, Sayangku.

Amurwabhumi, anakku, ibu tak bisa memaksa keadaan. Maafkan ibu yang tak bisa membawa serta nenekmu untuk mengasuhmu. Ini memang salah satu dari sekian banyak kelucuan dalam hidup. Mereka mengira kita tak bisa bahagia dengan cara yang berbeda. Padahal ibu asuhmu orang baik, kau harus bersyukur atas itu. 

Di negeri yang dinginnya sampai empat belas derajat ini, kau punya keluarga baru yang rasa sayangnya tak lebih sedikit daripada perasaan ibumu. Ada Bang Ansana dan Kak Elva yang setiap hari mengunjungimu dan mengajakmu bermain, juga Tante Nita yang seminggu sekali pasti datang membawa kemenakannya yang begitu kau sukai.

Baca Juga: Cuaca dan Ibu

Lalu, kita tidak punya alasan untuk untuk tidak bahagia sebab ibu sudah merasa tenang ketika meninggalkanmu ke sekolah. Biarkan saja orang-orang mencibir, kita harus mendoakan mereka supaya tetap menjadi orang baik dan kau tak perlu balik mencibir ataupun menghujat balik. Ini salah satu alasan kau harus menjadi anak yang kuat, Sayangku, bahwa mereka sungguh peduli terhadap kita. 

Sungguh ibu tidak ingin membicarakan kelebihanmu kepada dunia sebab yang ibu inginkan hanya satu: kau bisa tumbuh menjadi lelaki yang kuat, yang kelak bisa mengayomi adik-adikmu atau orang lain di sekelilingmu.

Ibu mohon agar kau tidak rewel ketika ibu sekolah. Jagalah perasaan ibu asuhmu sebagaimana kau berusaha menjaga perasaan ibumu. Ibu senang kau mengeluarkan airmata tatkala ibu hendak ke sekolah, namun terkadang ibu harus menahan iba ketika kau lebih memilih bermain bersama ibu asuhmu. 

Kau sering mengadu pada ibu lewat tatapan dan tangismu, terkadang kau akan diam jika ibu memelukmu erat, namun kau lebih sering menerima pelukan ibu asuhmu tatkala ibu tak berada di rumah. Tidak apa-apa, sayangku. Ibu selalu bersyukur masih ada orang baik di tanah rantau yang begitu peduli pada kita.

Tiba-tiba saja ibu teringat perkataan Tante Nita, “Belum sebenar-benarnya merantau bila belum punya keluarga angkat.” Dan kau tak perlu cemas, Sayangku. Emak Ida – ibu asuhmu – begitu tulus menjaga dan merawatmu saat ibu tak bisa menyentuhmu. Ibu sangat bahagia dan tak lagi merasakan kesepian yang lindap. 

Kelak, jika kita sudah pulang dari tanah rantau, Emak Ida pernah berpesan bahwa pintu rumahnya akan selalu terbuka untuk kita. Bukankah ini sebuah hal yang menggembirakan? Negeri ini sudah menjadi rumah kedua bagi kita, yang kelak pasti akan kita rindukan.

Tiba-tiba saja ibu bingung berkata-kata sebab tak ada kata yang ingin ibu sampaikan kecuali sebuah harapan yang telah ibu bangun bertahun-tahun. Tumbuhlah menjadi anak yang kuat dan hormati ibu asuhmu sebagaimana kau menghormati ibu. 

Bersyukurlah, bersyukurlah, dan bersyukurlah atas apa pun nikmat Tuhan! Sebab salah satu sumber kebahagiaan terbesar adalah bersyukur. Ibu menyayangimu.