Manusia adalah makhluk yang sempurna baik secara fisik dan akal, yang diberkahi akal dan nurani yang berkembang. Dalam dunia pembelajaran metode pembelajaran selalu berkembang seiring perkembangan zaman, sehingga untuk guru harus menguasai beberapa model pembelajaran agar para murid ikut mengukuti perkembangan itu sendiri, dan juga agar siswa mampu merasakan pengalaman secara langsung.

Siswa juga perlu yang namanya kemajuan dalam proses belajar mengajar dalam konteks ini pembelajaran PKn yang dinilai kuno karena faktor guru yang sudah tua, belajar bukan hanya proses menghafal dan bukan pula mengingat tetapi belajara adalah suatu proses yang di tandai dengan adanya perubahan pada diri siswa, perubahan pada sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukan hasilnya melalui pengetahuanya, sikap dan tingkah laku.

Dalam hal ini perlu adanya pengajaran yang baru sebagai proses perkembangan zaman dan tuntutan eksistensi Pendidikan kewarganegaraan dalam tujuan baiknya yaitu membentuk good and smart citizenship, yaitu membentuk warganegara yang baik yang ikut dalam setiap proses kehidupan berbangsa dan bernegara dan juga sebagai perwujudan penanaman nilai-nilai kebangsaan.

Dalam teori belajar humanistik ini proses belajar dan pengajar harus berawal dan berakhir  pada manusia itu sendiri, karena tidak dipungkiri dari pembelajaran PKn di sekolah bersifat ortodolistik dalam arti pembelajaran gaya lama, seperti hafalan, cognitive oriented, dan juga faktor guru atau SDM yang sudah udzur dari segi umur yang mana menghambat dalam proses pembelajaran.

Teori humanistik yang menekankan proses belajar itu harus sampai lagi ke manusia itu sangat cocok karena teori yang di kenal dengan sebutan memanusiakan manusia ini akan membantu guru untuk menggali potensi para siswanya, sehingga cocok dalam penerapan di pembelajaran kewarganegaraan yang dalam pembelajaranya banyak di pengaruhi ideologi bangsa Indonesia yaitu pancasila.

Dalam teori Behavioristik pembelajaran hanya berpusat pada guru berbeda dengan teori humanistik yang mengeksplor kemampuan siswa secara optimal, sehingga dalam teori pembelajaran behavioristik peserta didik hanya mendapatkan  pembelajaran berdasarkan pembelajaran berdasarkan apa yang di berikan guru, sehingga para siswa terbatas dalam berkreasi, sesuai dengan perkembanganya.

Behavioristik yang menekankan tingkah laku manusia sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon, tentu sangat bertentangan dengan humanistik yang memanusiakan manusia. Peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar menurut Roger, adalah sebagai fasilitator yang berperan aktif dalam kelas sehingga efektif dalam pembelajaran PKn dikelas dan juga guru mengetahui potensi siswanya.

Aplikasi dari teori ini siswa di harapkan menjadi manusia yang bebas, bebas dalam hal ini adalah bebas mengeksplor kemampuanya, menjadi manusia yang berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur dirinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengatur dan mengganggu hak-hak orang lain.

Teori behavioristik yang menekankan tingkah laku yang merupakan proses dari pengalaman, tentu tidak cocok dalam pengajaran PKn.

Behavioristik ini tidak membebaskan siswanya untuk berkreasi secara kemampuanya, tentu jika yang di tekankan adalah tingkah laku maka tidak ada kesadaran dari diri siswa jika terus di beri penekanan seperti ini, dan siswa merasa terbebani, karena guru yang seharusnya sebagai fasilitator malah menekan siswa agar mengerti materi yang di ajarkan oleh gurunya.

Humanistik dan Behavioristik masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang sempurna di dunia ini meskipun itu sebuah teori.

Di lain pihak teori humanistik yang intinya memanusiakan manusia, sedangkan behavioristik yang menekankan prilaku manusia. Sehingga humanistik dan behavioristik saling bertentangan. Tapi inti baiknya masing-masing teori memiliki saling mendukung satu sama lainya.

Humanistik lebih kepada sisi perkembangan kepribadian pendekatan ini melihat kejadian, yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Oleh karena iti perlunya siswa dan pengajar yang saling bekerja sama dan satu sama lain, saling mendukung. Tentunya tidak terlepasa dari guru sebagai fasilitator

Metode pengajaran yang baik tentu akan mudah dalam proses menransferkan ilmu yang di miliki guru, guru PKn yang sudah kuno dalam pengajaranya maupun usia dari pendidik harus di segarkan lagi. Suatu saat kita akan menghadapi remaja yang akan lebih kritis lagi dan hai lni membutuhkan kemampun intelektual yang memadai.

Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dapat mengambil teori ini sebagai langkah menyelamatkan pembelajaran PKn yang gaya pengajaranya sudah di anggap kuno.

Dengan teori humanistik yang memberikan kebebasan bagi pendidik dan peserta didik maka gaya pengajaran pun akan menjadi sepeti baru dan gaya pengajaran yang tidak menggunakan atau bisa dikatakan sedikit menggunakan gaya menghafal bagi peseta didiknya.

Pendidik dan peserta didik akan menghadapi masa dimana pembelajaran yang dapat mengeksplor kemampuan siswanya secara maksimal, tentu bukan dengan bebas yang kebablasan dalam mengeksplor tapi dengan kebebasan yang bertanggung jawab, agar siswa menjadi mandiri secara intelektual dan kepribadian karena pendidikan kewarganegaraan sarat akan nilai moral yang samgkut pautnya dengan akar historisitas bangsa ini.