Siapa, sih, yang nggak tahu sosok Jerome Polin Sijabat (biasa dipanggil Jerome) dan Maudy Ayunda? Merekalah dua sosok yang dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai duo jenius. Kecerdasannya di bidang ilmu pengetahuan menjadi salah satu kelebihan dari diri mereka masing-masing.

Prestasi yang sama ditorehkan oleh Jerome dan Maudy Ayunda yaitu masuk ke dalam Forbes 30 Under 30 Asia 2021. Forbes 30 Under 30 Asia 2021 adalah deretan nama pemuda berprestasi berusia 30 tahun ke bawah mulai dari kalangan pekerja seni, pengusaha, hingga pemimpin. 

Pada tanggal 6 Desember 2021, akun Youtube Nihongo Mantappu milik Jerome mengunggah video spesial kolaborasi antara Jerome dengan Maudy Ayunda. Kedua sosok yang terkenal jenius ini dipertemukan dalam satu frame dan membahas banyak hal. 

Mari kita kulik lebih lanjut mengenai hal-hal yang dibahas oleh Jerome dan Maudy Ayunda, khususnya mengenai bidang pendidikan.

Apa yang Kira-kira Harus Dikoreksi dari Pendidikan Indonesia?

Berbicara mengenai integritas, tingkat integritas di Indonesia memang bisa dibilang belum cukup tinggi. Sementara itu, di Jepang, integritasnya sudah cukup tinggi. Dijelaskan oleh Jerome, orang-orang di Jepang sangat berintegritas. Contoh kecilnya saja mengenai kebiasaan memilah sampah. 

Di Jepang, memilah sampah sudah menjadi kebiasaan yang tentunya sangat bagus. Di Indonesia memang sudah ada pelajaran bahwa kita tidak boleh membuang sampah sembarangan. Sayangnya, pada praktiknya kebiasaan baik itu belum sepenuhnya dilakukan.

Maudy Ayunda pun menanggapi bahwa hal-hal yang demikian adalah masalah collective action. Jika satu orang sudah punya niat sendiri dan dia merasa orang lain tidak melakukan niat baik yang sama, maka dia akan berpikir, "buat apa?". Hal seperti itu harus ada yang memulai, misalnya adalah mulai dari kita sendiri.

Lebih lanjut, Maudy Ayunda membahas mengenai pendidikan di Indonesia. Di Indonesia masih kurang budaya "cinta belajar". Budaya yang benar-benar melihat bahwa belajar dan finding a knowledge adalah hal yang begitu penting dan bisa menyenangkan. 

Jika melihat di Finlandia, anak-anak mudanya men-checkout dua buku dari perpustakaan, itu data dari perpustakaan saja, belum dari membeli sendiri. Di sana, tanpa disuruh, sudah muncul rasa ingin tahu dan kebiasaan bertanya. Jika budaya cinta belajar dibangun di Indonesia, maka pendidikan pun akan maju.

Tentang Menyontek dan Nilai

Cerita dari Jerome, ketika di Jepang, saat ujian, tidak ada yang berani menyontek dan gurunya pun disiplin. Di Indonesia, orang yang tidak memberi jawaban saat ujian justru di-bully. Padahal, meminta jawaban saat ujian saja sudah salah, tetapi beberapa orang malah menyalahkan pihak yang tidak memberi sontekan.

Maudy Ayunda pun menanggapi, semua itu berkaitan dengan integritas dan sistem yaitu orangtua dan guru yang cukup disiplin. Lanjut Jerome, jika di Indonesia, ketika ada yang hendak menyontek,  biasanya guru akan biasa saja sehingga siswa tidak takut untuk menyontek.

Pendapat Maudy Ayunda, yang penting adalah pada saat kita melihat bahwa proses belajar itu kepemilikannya ada di kita, that this is us and me against me. Belajar sejatinya memang perihal kita sendiri, bukan orang lain.

Lanjut Jerome, sebenarnya ujian adalah salah satu cara untuk menguji apakah kita benar-benar mengerti suatu materi pelajaran. Ketika kita menyepelekan ujian, maka kita akan melewatkan opportunity atau kesempatan untuk mengetahui kemampuan kita sendiri. 

Berbicara mengenai nilai, nilai itu memang penting, tetapi nilai bukan hanya mengevaluasi kemampuan kita. Di Indonesia sendiri, sistem pendidikan masih berorientasi pada nilai. Contohnya, nilai di SMA yang diperlukan untuk masuk ke perguruan tinggi sehingga siswa akan lebih mengejar nilai itu dan mungkin akan mengesampingkan value-nya. 

Pendidikan Adalah Akarnya Kemajuan Sebuah Negara

Dijelaskan oleh Jerome, apa, sih, kuncinya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas? Jika sebuah negara ingin maju, harus ada pembangunan. Jika ingin ada pembangunan, maka harus ada SDM yang berkualitas. Bagaimana cara agar SDM berkualitas? Tentu saja pendidikan haruslah bagus. Pendidikanlah akarnya.

Jerome dan Maudy Ayunda sendiri sangat ingin berkontribusi pada pendidikan di Indonesia. Mereka ingin memajukan pendidikan di Indonesia, entah dengan terjun ke pemerintahan melalui menjadi menteri pendidikan, maupun menjadi guru dan membangun sekolah untuk anak-anak Indonesia.

Metode Belajar yang Paling Efektif?

Pendapat Jerome, jika belajar matematika, haruslah banyak latihan. Jerome menyebut bahwa dirinya tidaklah jenius, ia bisa dengan cepat mengerjakan persoalan matematika karena sebelumnya sudah banyak menghabiskan waktu untuk berlatih dan lebih memahami ilmu dalam matematika.

Sementara untuk ilmu hafalan, mau tidak mau memang harus dihafal. Menulis ulang adalah metode belajar dari Jerome untuk belajar ilmu hafalan. Dengan metode ini akan lebih mudah dalam memahami dan menghafal suatu materi sehingga pada saat ujian tidak akan kesulitan.

Maudy Ayunda pun sepakat dengan pendapat Jerome mengenai metode belajar tersebut. Namun, secara general, saat SMA ia hanya mempelajari hal-hal yang tidak dimengerti karena keterbatasan waktu yang dimilikinya. Ia hanya akan fokus pada materi-materi yang kurang ia mengerti.

Sementara untuk ilmu hafalan, Maudy Ayunda menggunakan metode cue card dan menjelaskan ke orang lain mengenai materi yang baru dipelajari. Ketika sudah bisa menjelaskan suatu materi dengan baik, artinya kita sudah memahami materi itu. Metode ini sangat membantu dalam memahami dan menghafal. 

Itulah beberapa hal mengenai pendidikan yang dibahas oleh Jerome dan Maudy Ayunda dalam video Youtubenya. Pertemuan mereka sangat menarik dan berkualitas untuk ditonton. Semoga, Jerome dan Maudy Ayunda bisa terus menginspirasi pemuda Indonesia, khususnya di bidang pendidikan. 

Salam Pendidikan!