Aulia Rahman Siregar dulu membohongi aku soal ajakan liburan ke puncak, Bogor. Bukan rekreasi yang kudapat, aku malah dijebak ikut LK1 HMI Komisariat PERBANAS, yang kini sudah bubar. Kejadian itu terjadi pada 2012, saat aku semester 2 di Fakultas Hukum, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI).

Setengah tahun usai LK1, aku tak aktif. Aku sama seperti mahasiswa lain penerima beasiswa: rajin kuliah, tenggelam dalam tugas-tugas, takut nilai jatuh, dan begitu patuh pada norma kampus. 

Di tahun 2013, aku dilantik jadi Sekretaris Umum HMI Komisariat Al Azhar, Gorbiyan Khurmaini sebagai Ketua Umum. Menurut Aulia, dipilihnya dia jadi ketum karena waktu itu punya motor, secara ekonomi lebih baik, dan aku sebaliknya.

HMI UAI bangun lagi. Komisariatnya masih baru. Orang-orangnya masih polos. Hati putih bersih. 

Agenda pengurus waktu itu lebih banyak untuk merekatkan hubungan emosional. Selain LK1, sering futsal bareng, ngopi, touring ke pantai di Banten, menghadiri bukber dari KAHMI, atau ikut seminar yang dapat makan enak hingga amplop akomodasi.

Di tengah kepengurusan, aku merilis tulisan di blogspot berjudul 7 Alasan HMI UAI Perlu Direformasi. Isinya mengenai kritik keras atas ketua Gorbi, walau kekurangan kepengurusannya juga bagian dari kekuranganku karena kita berdua berada dalam satu masa bakti. Entah mengapa, waktu itu aku bernafsu jadi oposisi dadakan yang tangguh.

Saat tak ada yang mau nyalon, aku menggantikan Gorbi sebagai Ketum HMI UAI. Menjadi pimpinan tertinggi di kampus memaksaku keluar ‘rumah’, membangun pergerakan lintas komisariat. Aku jadi kenal banyak pemimpin kampus di wilayah Jakarta Selatan (Jaksel). Bahkan kita waktu itu bikin gerakan Mosi Tidak Percaya ke Ketum cabang Azis Fadirubun, walau gagal meraup mayoritas suara dari tiap komisariat.

Di masa aku menjabat, beberapa teman akrabku dapat dari kampus lain, seperti Sunhaji dan Fizi dari UNINDRA, Rajiv dari LIPIA, Agung dari IISIP, hingga Bang Andrean dari UNAS. Saat ke rumah Bang Andrean, dia selalu menyindir HMI Al Azhar sebagai penghianat di Konfercab, walau dia tak menyalahkan aku karena memang pelakunya bukan aku, tapi orang lain.

Waktu itu aku cukup sering datang ke acara seminar, diskusi, LK1 komisariat lain bersama Fizi dan Rajiv. Saat itu aku tak tahu kalau Rajiv sudah menikah, bahkan telah memiliki seorang anak. Aku baru tahu setelah 2 tahun berteman dengannya, dikasih tahu Andrean. Saat cerita ini kutulis (15/8/2019), Andrean dikabarkan sedang sakit parah dan badannya mengurus. Aku belum sempat menjenguknya.

Di suatu waktu, kami kader-kader di Jaksel ingin mendemo kampus LIPIA sebab seorang kader mendapat sanksi gara-gara menyebar selebaran berisi kritik. Dalam konsolidasi itu, aku berkenalan dengan Syahrul Rizal. Dia diajak ketum KOHATI Jaksel, Nur Ummiati, ke Jalan Ampera.

Waktu itu mukanya angker, rambutnya panjang, ikal, tampangnya seperti anak desa jarang mandi. Aku dingin, biasa saja. Dia sepertinya lebih banyak memperhatikan tingkahku layaknya kisanak membaca ilmu kanuragan musuh. Aku tetap cuek, karena dia juga tak banyak omong. Tapi, dia terus memperhatikan jaket robekku yang tertempeli emblem lambang organisasi silat, PSHT.

Rupanya lambang perguruan silat ini dia kenali, karena dia berasal dari IKSPI, organisasi pencak yang di banyak daerah sering bentrok dengan perkumpulan silatku, Terate. Namun sejak merantau ke Jakarta pada 2011, sentimen permusuhan antarpesilat di Jawa tak lagi kubawa. Aku melepasnya, mencoba membuka diri dan menyerap sebanyak-banyaknya kebenaran hidup, dari mana pun datangnya.

Pascakonsolidasi yang gagal, tak jadi demo karena si kader tiba-tiba berubah pikiran dan meminta tak usah ada pergerakan melawan kampus. Aku bersama Rizal menjadi sahabat yang makin dekat. Di beberapa hal, kita memiliki persamaan dalam jalan juang. Dalam kejadian gempa di Aceh dan bencana di Bima, kami turun ke jalan menggalang dana untuk masyarakat yang butuh.

Di momen lain, entah sudah berapa kali demonstrasi yang kami ikuti maupun adakan sendiri. Saat aku mengelola training di Lebak, Bogor, hingga Kab. Bandung, dia selalu menemaniku. Dia senang ikut berkumpul, melihat proses kader dari seluruh Indonesia antusias menempa diri. Mungkin kebiasaan berkunjung itu yang membikinnya tertarik naik jenjang training, LK-2, SC.

Di Konfercab, aku satu-satunya ketua yang mengusung Aulia Rahman Siregar melawan Ari Shafari Mau, dan kalah. 1 suara lawan 13 suara, sangat telak. 

Usai turun dari Ketum HMI Al Azhar, Ari yang mantan Ketum HMI Hukum UNAS itu merangkulku. Dia mengajak melupakan Konfercab, memulai lembaran baru, dan menawarkanku posisi Ketua Bidang Hukum dan HAM di HMI Cabang Jakarta Selatan.

Beberapa janji Ari seperti mempunyai sekretariat di wilayah yang dekat dengan Jaksel gagal dipenuhi. Amanat Konfercab lain, seperti pembentukan BPL, berjalan tak tuntas. Waktu itu Hafizi jadi penerima mandat pembentukan BPL. Dia pula yang menjadi ketua pelaksana Senior Course (SC), diadakan tepat saat bulan puasa di GIC, Depok.

Desember 2016, tanpa banyak koar, aku ke Surakarta (Solo) ikut SC. Ketika ketua BPL Solo bertanya untuk apa aku ikut SC, tegas kujawab, "Aku ingin menggulingkan BPL Jaksel dan membangun yang baru."

Waktu itu status Hafizi bukan Ketua BPL Jaksel, tapi pelaksana tugas pembentukan BPL. Itu juga karena dia Instruktur yang lebih dulu ada. Meskipun ada yang lebih duluan, seperti Master Hola, namun ia duduk di Korwil, bukan Jaksel.

Saat aku mengelola LK-2 Cilegon, Master Hola berkunjung. Dalam perbincangan, dia membujukku untuk mengambil alih BPL Jaksel. Padahal saat SC yang di bulan puasa, aku bersama Rizal, Holik, Andre, dll. membikin gerakan PEMBUBARAN SC JAKSEL! Ulah kita ini merepotkan pengurus cabang dan Tim Master. Kupikir, usai insiden itu, Master Hola akan membenciku. Ternyata tidak.

Di mana keberadaan Hafizi saat SC berlangsung? Dia menghilang tepat menjelang pembukaan padahal dia ketua pelaksana, dan kekonyolan itu pula yang membuat Ketum Ari marah-marah. Akhirnya kami kasihan, dan SC kami biarkan berjalan walau ‘tak terlalu jelas’. Gerakan pembubaran yang kami gelorakan mundur teratur, bubar pelan-pelan.

Rizal waktu itu bilang, "Tum, ini ada banyak orang inbox aku di FB. Menanyakan gerakan pembubaran SC. Beberapa peserta cemas, khawatir, kalau SC-nya bubar, bagaimana nasib mereka yang sudah datang jauh-jauh dari luar kota."

Sebenarnya kami bukan arogan. Ada banyak alasan gerakan saat itu. Salah satunya, aturan yang jadi peserta SC harus yang LK-2-nya minimal 6 bulan yang lalu. Aturan semacam itu tak ada di pedoman perkaderan dan nyata-nyata dilanggar panitia. Buktinya, beberapa peserta dari luar ada yang baru LK-2, mendaftar dan diterima sebagai peserta.

Dan beberapa teman kami tak bisa ikut sebab merasa LK-2 nya kurang dari setengah tahun. Tidak konsistennya aturan panitia membuat kami menyimpulkan itu semua untuk menjegal teman kami, kader kami. Padahal kelompok kami sedang giat-giatnya ingin ikut training.

Di Cilegon, aku sama sekali tak berpikir mengambil alih jabatan yang kosong. Disebut penggulingan Fizi, juga tidak pas. Dikatakan kudeta tugas, juga bukan karena Fizi sendiri masih menghilang dan tak bertanggung jawab. Master Hola waktu itu menjanjikan anggaran bulanan untukku pribadi kalau aku mau memimpin BPL Jaksel, uang untuk ngopi.

Master Hola menyarankan aku jangan dulu cari kerja selama jadi ketua, supaya periodeku berjalan maksimal. Saat itu aku baru saja lulus S-1, sarjana pengangguran. Akhirnya aku mau ambil peran ketua walau tetap melamar kerja di luar. BPL kubentuk ulang, bantuan dana yang dijanjikan tiap bulan tidak terwujud. Hanya pemanis bujukan.

Untuk menghindari rangkap, jabatan Ketua Bidang Hukum dan HAM kulepas, mengundurkan diri, kusampaikan ke Ketum Ari dan ke grup pengurus cabang. Aku fokus menyusun kabinet, Zulham dari FISIP UNAS ku rangkul jadi sekretaris umum. Zulham itu master jebolan SC Jaksel, training yang ingin kami bubarkan. Bahkan waktu itu Holik sudah sedia toa, aku menyiapkan bensin untuk membikin kerusuhan di forum.

Masa-masa kacau segera kami lupakan. BPL Jaksel dengan fondasi kuat kami coba bangun. Dari SC yang penuh drama itu, setidaknya lahir beberapa Instruktur di Jaksel yang akhirnya membantu periodeku, Zulham, Qodim, Zaki, Najwa, Irna, Adit. Bendumnya waktu itu M. Ramadhan atau Dowa, dia lulusan SC HMI Serang. Konon saat Hafizi menghilang, dialah sosok panitia yang jadi ujung tombak.

Mantap jadi Instruktur, segala tetek bengek struktural mulai kutinggalkan. Menjabat ketua tidak menjinakkanku, tapi kugunakan untuk sekeras-kerasnya menentang segala pengaruh buruk bagi perkaderan. Saat aku menjabat, senior suatu komisariat yang biasanya jadi pemateri LK1, kucoreti semua karena beberapa belum LK-2 atau SC. Garis demarkasi kubikin jadi jelas di Jaksel.

Tiap kegiatan dan momen berakhir dengan konfrontasi. Genderang perang melawan siapa pun, paling banyak terhadap senior, kutabuh sekeras-kerasnya. Telepon, chat, tekanan, intervensi ‘dari atas’, tak ada yang kugubris. Bahkan mantan ketum cabang yang beberapa kali kandidat ketum PB HMI, gemar memaki-maki aku tiap waktu, kublokir nomornya, orangnya mencak-mencak.

Pada LK1 di Jaksel, selalu kutekankan ke ketum komisariat, "Kamu mau ikut BPL atau tidak? Kalau ikut, semua Masternya harus yang sudah SC dan kalau belum, kucoret! Kalau tak mau ikut, kelola sendiri LK1-mu dan jangan pernah minta bantuan BPL. Apa pun yang terjadi di sana, aku tak akan menengok, aku tak sudi membantu kesuksesan LK1 yang dikelola senior komisariat yang cuma lulusan LK2."

Tak semua menyukai sikapku. Beberapa membenci BPL, beberapa mengelola sendiri LK1-nya tanpa koordinasi dengan BPL. Tapi yang kusalut, ada ketum komisariat yang berani ikut BPL, memotong senior komisariat sendiri dan akhirnya bertengkar dengan abang abangnya. Mereka yang hidup dengan tradisi lama, bagiku, hanya korban adat dan gagap atas aturan main baru yang diterapkan BPL di Jaksel.

Berkat karakterku yang melawan segala hal yang menurutku tak cocok, Rajiv, Nur Rangkuti, Latifah, Andre mengusulkan kenapa tidak bikin akun sosial media yang mengusung ide-ide perlawanan. Dalam diskusi kecil di Ampera, mereka sepakat memakai akun instagramku untuk kampanye antipenindasan intelektual. Alasannya? Karena saat itu followerku paling banyak, jadi tinggal mengganti nama saja.

Usai ganti nama akun, admin dikelola bersama dan password diganti agar masing-masing orang bisa masuk, jadi administrator. Sejak saat itu, lahirlah instagram ‘Mualimin Melawan’. 

Untuk memoderasi konten dan menghindari maraknya pengaduan melalui UU ITE, teman-teman selalu memberi masukan. Kami saling mengkritik, membenarkan, dan memproduksi quote perlawanan.

Keterangan: Sebenarnya episode ceritanya masih banyak. Untuk sementara sampai di sini dulu. Besok-besok lanjutannya ku-publish.