Peneliti
2 tahun lalu · 1875 view · 3 menit baca · Filsafat 77041.jpg
sumber gambar: https://triyugowinarko.wordpress.com

Tentang Mereka yang Mati Muda

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu. Begitulah sepenggal kata-kata Gie. Suatu kata-kata yang seperti mewakili kegelisahan manusia kebanyakan. Lagi-lagi tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Hidup itu absurd. Begitu kata Sang absurdis, Albert Camus. Ada banyak pertanyaan dimana manusia tidak menemukan jawaban. Yang akhirnya menyisakan semacam derita dalam diri. Manusia benar-benar rapuh. Ia dilempar dalam fatalisme-fatalisme hidup yang tak pasti. Yang akhirnya terus berkabung dalam penderitaan.

Mengapa kita hidup? Mengapa mesti ada kesedihan? Mengapa mesti ada keputusaasaan, mengapa mesti harus ada yang menderita? Mengapa dan mengapa?

Manusia tidak bisa benar-benar lari berlepas diri dari tema-tema tentang ini. Absurd, derita, keputus asaan. Beberapa bahkan meyakini, bahwa hanya kematianlah satu-satunya yang mampu membebaskan manusia dari lingkaran absurditas hidup ini. Meski itu juga terdengar absurd?

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah berumur tua. Rasa-rasanya memang begitu, kata Gie.

Perjuangan eksistensialis manusia, adalah perjuangan melawan absurditas hidup ini. Seperti yang diyakini Chamus, meski penderitaan itu nyata sedang kebahgiaan itu absurd, tapi manusia tidak boleh tunduk untuk menyerah.

Suatu pesan seolah menyiratkan, bahwa, manusia harus lebih kuat dari absurditas hidup itu sendiri. Sama ketika Gie ingin menjadi pohon oak yang ingin tetap tegar menatang badai. Atau ketika Chairil ingin hidup seribu tahun lagi. Suatu khendak bebas yang kuat untuk menolak takluk dan menolak tunduk pada kenyataan hidup yang tak berpihak.

Menantang hidup memang tidak mudah. Menolak menyerah, menolak patuh, menolak tunduk. Ada banyak irisan rasa sakit yang tersisa. Rasa sakit dari pengembaraan dalam keterasingan. Berdamai atas penindasan eksistensial, dan berdamai dengan segala kenyataan adalah cara terbaik manusia kebanyakan lari dari rasa sakit itu.

Namun, ia berbeda untuk orang-orang yang memahami bahwa hidup adalah bentuk pengejawantahan akan prinsip dan sikap. Demi untuk bisa menjadi apa-apa. Mereka-mereka yang memahami bahwa hidup tanpa sikap, tanpa prinsip adalah hidup yang tak berarti apa-apa. Hidup tanpa arti adalah hidup yang tak layak dijalani.

Tak terkecuali pada diri Chamus, Gie ataupun Chairil. Dalam diri dan karyanya kita melihat perjuangan itu. perjuangan khendak manusia mencari kebebasan dan keadilan. Perjuangan manusia untuk mengada secara bebas. Perjuangan untuk keluar dari bayang-bayang apapun dan siapa pun.

Meskipun akhirnya kita tahu, bahwa, hidup tak selamanya bisa dimenangkan. Hidup tak kurang sejenis bentuk penundaan atas kekalahan, kata Chairil. Ada banyak hal ketika khendak tak bisa melawan banyak hal. Ada banyak hal ketika manusia tidak bisa memenangkan banyak hal. Kematian contohnya.

Seperti juga yang terjadi pada Chairil. Penyair yang didera penyakit diusianya yang muda ini, juga tak berbeda jauh dari Chamus ataupun Gie. Seorang penyair dengan khendak hidup yang panjang, namun akhirnya berpulang di usia yang muda.

Ia adalah Si Binatang Jalang. Yang (merasa) terbuang dari kumpulannya. Terbuang dari kumpulan manusia-mnusia pada umumnya. Atau sama ketika Chamus melabeli penokohannya sebagai orang-orang aneh. Sejenis manusia-manusia yang berbeda dari manusia kebanyakan.

Binatang jalang ataupun orang-orang aneh. Suatu absurditas cara pandang, namun berhasil menggugah banyak orang. Puisi-puisi Chairil ataupun novel Chamus, seperti mempertautkan banyak orang dalam hubungan lingkar absurditas yang menggugah. Seperti ketika Chairil berkata, “Nasib adalah kesunyian masing-masing’’.

Chamus, Gie, ataupun Chairil, perjalanannya mengajarkan kita satu hal. Bahwa hidup dan mati bukan perkara umur. Mati yang terhormat bukan mati diusia uzur. Bukan pula mati di tempat khusus. Bagi mereka, mati yang memalukan adalah mati tanpa sumbangsih. Mati tanpa karya!

Karya adalah simbol dari khendak bebas. Mati tanpa karya adalah mati tanpa khendak bebas. Mati tanpa khendak bebas adalah mati dalam keadaan tertindas. “Sekali berarti, sudah itu mati,” kata Chairil.

Betapa banyak orang yang hidup tapi sejatinya mati sebelum berarti. Makan, tidur, kerja, yang pada akhirnya mati, hilang tanpa jejak. Mereka-mereka yang terlmbat memahami hidup sebagai perjuangan manusia mengayungkan pedang ke dunia terang. Perjuangan untuk menjadi manusia bebas, menjadi manusia otentik seutuhnya.

Bukan tentang cara mati seseorang untuk menggambarkan kualitas kemanusiaan seseorang. Melainkan cara ia hidup, cara ia merefleksikan perjuangan hidup. Cara mati tidak menggambarkan apa-apa. Cara hiduplah yang menggambarkan apa-apa. Seperti pada chamus, Chairil ataupun Gie.

Chamus, kematiannya tak jauh-jauh seabsurd karyanya. Ia berpulang dalam suatu kecelakaan mobil di usia yang masih tergolong muda.  Sedangkan Gie, ia meninggal jauh di atas bukit, saat dirinya menyendiri mengusir sepi, ia akhirnya benar-benar menyepi untuk selamanya. Sedangkan Chairil, ia diperhadapkan kenyataan ketika tubuhnya benar-benar takluk tak berdaya melawan penyakit yang menderanya di usia muda.

Chamus, Chairil, Gie, bukan hanya bahwa mereka-mereka adalah orang-orang yang hidup dalam suasana konflik politik, perang, dan tragedi politik dari generasi yang berbeda. Tapi juga adalah mereka-mereka yang mati diusia muda. Namun hampir-hampir hidup dalam ingatan panjang manusia.

Mereka-mereka yang telah memperpanjang usianya dengan karya, tidak akan mati-mati. Mereka yang hidup berkalang prinsip adalah pemenang. Tubuh bisa menjadi tanah, tapi pikiran, idealisme, dan sumbangsih kemanusiaan itu abadi.

Artikel Terkait