2 tahun lalu · 5984 view · 4 min baca · Hiburan 25524.jpg
Kredit foto: Liputan6

Tentang Mengapa Kartini Mau Dipoligami

Refleksi atas Film “Kartini”

Salah satu ironi yang sering dilontarkan orang setiap menjelang Hari Kartini adalah status Kartini sebagai istri keempat. Bagaimana mungkin seorang tokoh pergerakan perempuan yang namanya menjadi inspirasi gerakan kesetaraan gender dan feminisme di Indonesia rela dipoligami?

Ada beberapa tulisan yang menjelaskan ironi itu. Tapi, jika Anda malas baca buku, silakan tonton film Kartini yang tengah beredar di bioskop-bioskop Indonesia. Film besutan Hanung Bramantyo ini cukup bagus menggambarkan latar belakang hidup Kartini dan membantu kita memahami beberapa puzzle di seputar Kartini.

Jika Anda mengikuti perdebatan tentang Kartini, poligami bukanlah satu-satunya isu kontroversial. Surat-surat Kartini dan sikap kritis Kartini merupakan bahan perdebatan yang terus berlangsung hingga kini. 

Benarkah Kartini seorang perempuan yang kritis? Benarkah Kartini penulis surat-surat yang kemudian diterbitkan menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang itu? Benarkah Kartini seorang wanita mandiri yang menginginkan kesetaraan bagi kaum perempuan?

Beberapa orang meyakini bahwa Kartini tidak menulis surat-surat itu. Kartini adalah perempuan biasa seperti umumnya perempuan Jawa awal abad ke-20. Buku Habis Gelap hanyalah karangan JH Abendanon, Menteri Pendidikan dan Industri Hindia Belanda, orang yang paling bertanggung jawab atas Kebijakan Etis dan orang yang paling punya kepentingan untuk menunjukkan bahwa kebijakan kolonial itu berhasil.

Hanung Bramantyo berusaha menjelaskan kontroversi itu, tanpa harus menyelami perdebatannya. Dalam beberapa hal, saya kira, Hanung cukup berhasil.

Kartini dibuka dengan adegan percakapan ibu-anak di pendopo Bupati Adipati Sosroningrat. Adegan rumah besar sang Bupati beserta halamannya yang luas serta puluhan pelayan yang mengitarinya adalah awal dari penjelasan tentang teka-teki Kartini. 

Sejak awal, penonton diingatkan bahwa Kartini (diperankan dengan baik oleh Dian Sastrowardoyo) bukanlah seorang gadis desa yang lugu, tapi dia adalah seorang princess, Raden Ajeng, anak seorang Bupati, darah biru, yang punya akses terhadap politik, ekonomi, dan pendidikan.


Kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro, adalah Bupati Demak yang sangat tercerahkan, yang menyekolahkan seluruh anak-anaknya ke pendidikan Belanda. Dalam surat-suratnya, Kartini menceritakan kekagumannya pada kakeknya dan memujinya sebagai “Bupati pertama di Jawa yang membuka gerbang bagi peradaban Barat".

Latar belakang Kartini sebagai anak seorang bangsawan Jawa itu penting ditekankan untuk menjelasakan status sosial dia, sekaligus untuk menjelaskan ironi yang mengiringinya. 

Di zaman kolonial, hanya anak-anak kaum bangsawan yang punya akses kepada pendidikan. Anak-anak warga biasa, apalagi perempuan, tidak bersekolah. Kalaupun punya kesempatan belajar, biasanya bersekolah di tempat-tempat informal atau sekolah-sekolah agama (pesantren).

Sebagai anak seorang Bupati, Kartini mendapatkan pendidikan terbaik, bersekolah di sekolah Belanda dengan guru-guru terbaik orang Belanda. Jika Kartini pintar berbahasa Belanda sejak kecil, karena dia tumbuh dalam bahasa itu, selain bahasa ibunya. Dia juga akrab dengan literatur dan buku-buku Belanda karena dia dikelilingi oleh orang-orang yang punya akses pada dunia itu.

Adegan Kartini menerima kiriman buku-buku dari kakaknya yang tengah kuliah di Belanda dan adegan dia membaca jurnal Bijdragen, salah satu jurnal tertua di Belanda, menunjukkan keakraban Kartini dengan dunia literasi.

Perkenalannya dengan JH Abendanon adalah kisah tentang pergaulan kaum elite yang tak mungkin terjadi kalau Kartini seorang anak biasa. Hampir tak terbayangkan ada seorang gadis desa yang lugu punya akses dan berkomunikasi dengan elite Belanda, salah satu menteri terpenting di Hindia Belanda.

Korespondensi Kartini dengan Abendanon, Estell "Stella" Zeehandelaar, dan beberapa tokoh Belanda menunjukkan kelas dan kualitas Kartini. Bahkan untuk ukuran zaman sekarang, hanya anak remaja yang luar biasa dengan status istimewa yang mampu berkorenpondensi dengan tokoh-tokoh penting sekelas menteri.

Anak secerdas dan seliberal Kartini tidak akan muncul tanpa lingkungan yang mendukungnya. Film Hanung memberikan jawaban. 

Selain pendidikan Barat yang diterimanya, ayah Kartini adalah seorang pejabat negara yang cukup progresif. Ia menyekolahkan seluruh anaknya di sekolah Belanda dan mengirimkan salah satu anak laki-lakinya ke negeri kincir angin itu. Meski dibelenggu oleh tradisi Jawa yang kuat, dia berusaha membela Kartini dan membiarkan putrinya itu tumbuh menjadi dirinya sendiri.

Perempuan ningrat Jawa pada era Kartini dipingit pada usia 12. Fakta bahwa Kartini bertahan untuk tidak kawin hingga usia 24 menunjukkan sisi pemberontakannya. Jika bukan karena kasihan kepada ayahnya yang mulai sakit-sakitan, mungkin Kartini tak mau kawin, sampai dia betul-betul mendapatkan laki-laki idamannya.

Cara Hanung menggambarkan perkawinan Kartini cukup unik dan sekali lagi menjadi kunci dari puzzle tentang pemberontakan Kartini dan kesediaannya untuk menikah dengan suami orang.

Dalam film itu digambarkan, Kartini tidak mau menikah dengan Adipati Djojo Adiningrat, Bupati Rembang, kecuali sang bupati yang sudah punya tiga istri itu mau memenuhi tiga syarat yang diajukannya: (1) dia ingin diperlakukan setara dan tak mau mengikuti prosesi perkawinan Jawa yang ribet; (2) dia ingin ibunya diperlakukan setara dengan memberinya tempat di ruang depan; (3) dia ingin dibangunkan sekolah perempuan untuknya.

Di luar dugaan, Adiningrat menyetujui semua syarat yang diajukan Kartini. Bahkan, dia malah tampak gembira menyambutnya. 


Yang tak dijelaskan dalam film ini adalah bahwa suami Kartini bukan sembarang laki-laki. Dokumen-dokumen Belanda menyebutnya sebagai salah seorang Bupati Jawa tercerahkan. Sama seperti ayah Kartini, Adiningrat adalah seorang progresif yang tak kuasa melawan tradisi Jawa secara konfrontatif.

Adiningrat sepertinya adalah tipikal laki-laki yang diidamkan Kartini. Kalau saja belum beristri, rasa-rasanya, Kartini akan menerima sang suami dengan sepenuh hatinya. 

Adiningrat adalah seorang berpendidikan tinggi, lulusan Belanda, dan termasuk Bupati yang disegani di Jawa Tengah. Programnya memajukan rakyat Rembang dipuji pemerintahan kolonial.

Kartini sangat mengagumi ayahnya. Agnes Louise Symmers, penerjemah edisi bahasa Inggris, Habis Gelap, menggambarkan hubungan ayah-anak ini, seperti hubungan kekasih, penuh dengan afeksi dan kasih-sayang. 

Adiningrat memiliki semua karakter yang dimiliki ayah Kartini. Satu-satunya kendala yang menghambat Kartini untuk menerimanya sepenuh hati adalah bahwa dia suami orang.

Artikel Terkait