Setiap kebudayaan, suku bangsa, maupun agama punya kisah penciptaan masing-masing yang berbeda satu sama lain, termasuk menyangkut siapa manusia pertama. 

Di Indonesia yang terdiri atas lebih dari seribu tiga ratus suku bangsa, maka terdapat banyak mitos kisah penciptaan, salah satunya kisah “Batang Garing” yang merupakan cerita rakyat dari Kalimantan Tengah. 

Kisah “Batang Garing” lahir di suku Dayak Ngaju yang tinggal di sepanjang sungai Kapuas, Kahayan, Katingan, Rungan, Manuhing, dan Mentaya di wilayah Kalimantan Tengah. Kisahnya semula disampaikan secara lisan secara turun-temurun, lalu dibukukan dalam kitab Panaturan, kitab pegangan para pemeluk agama Hindu Kaharingan.[1]

Dalam mitos penciptaan versi suku Dayak Ngaju, alam semesta terbagi atas dua alam, yakni alam atas yang dikuasai Ranying Mahatala Langit dan dunia bawah yang dikuasai Bawi Jata Balawang Bulau. 

Walaupun terdapat dua mahadewa, pada hakikatnya adalah satu, sebab Jata tidak lain bayang-bayang dari Ranying Mahatala Langit sendiri. Keduanya berbeda dan memiliki daya hidup serta kekuasaan sendiri-sendiri, tetapi membentuk suatu keutuhan kosmis.[2]

Dalam salah satu versi mitos dikisahkan bahwa pada suatu ketika, kedua mahadewa sepakat melepaskan lawung (ikat kepala) yang terbuat dari emas bertahtakan intan, kemudian dilemparkan sehingga tercipta sebuah Batang Garing (pohon kehidupan). Pohon ini berbuah dan berdaunkan segala macam permata, seperti emas, intan, batu-batu mulia, dan lain-lain.

Jata melepaskan burung Tingang betina dari sangkar emasnya yang kemudian hinggap di pohon kehidupan tersebut dan menikmati segala buahnya. Melihat kejadian ini, Mahatala Langit melepaskan keris emasnya yang bertahtakan permata mulia yang kemudian menjelma menjadi Tingang jantan. Burung itu juga hinggap dan mengenyangkan diri dari buah-buahan dan daun-daunan Batang Garing.

Kedua burung itu lantas bertarung yang mengakibatkan seluruh Batang Garing hancur. Dari kepingannya tercipta pasangan manusia pertama. Juga tercipta dua buah kapal yang dilayari masing-masing manusia itu. 

Akhirnya, sang pria meminta si perempuan jadi istrinya. Dari mereka lahir tiga orang putra, yakni Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja Bunu. 

Maharaja Sangiang menempati alam atas tinggal bersama Ranying Mahatala Langit, dan merupakan asal-usul segala Sangiang (Para Dewa). Putra kedua, Maharaja Sangen mendiami suatu daerah bernama Batu Nindan Tarung, yang menjadi sumber segala kepahlawanan. Sedangkan putra ketiga, Maharaja Bunu menempati Bumi, dan menjadi moyang pertama manusia.

Berbagai Mitos Penciptaan Lain

Tentu kisah Batang Garing bukan satu-satunya mitos penciptaan yang hidup di Nusantara. Suku Minahasa yang tinggal di bagian timur laut Sulawesi, misalnya, memiliki mitos lain.

Menurut mitos mereka, asal mula manusia tercipta dari seonggok batu karang yang lantaran terkena panas matahari menyengat mengeluarkan keringat. Tetes keringat batu itu menjelma jadi wanita cantik bernama Karema. Perempuan ini memohon ada yang menemaninya. 

Batu karang lantas terbelah dua, dan muncul seorang wanita lain. Wanita kedua ini diberi nama Lumimuut. Dari Lumimuut lahir anak laki-laki yang diberi nama Toar. Dari Toar dan Lumimuut, lahir keturunan umat manusia.    

Agama-agama Ibrahim (Yahudi, Islam, dan Kristen) memiliki mitos penciptaan sendiri. Kisahnya mirip satu sama lain dengan variasinya masing-masing. Yang jelas, secara garis besar, Tuhan menciptakan Adam sebagai manusia pertama. Adam lantas memohon pada Tuhan diciptakan seorang teman. 

Tuhan menciptakan perempuan yang dinamai Hawa dari tulang rusuk Adam. Pasangan ini hidup bahagia di surga sampai keduanya tergoda ajakan Iblis, melanggar larangan makan buah dari sebuah pohon. Sebagai bentuk hukuman, mereka diturunkan ke bumi dan melahirkan keturunan manusia.

Bicara siapa manusia pertama, maka kita akan mendapat jawaban berbeda dari masing-masing agama maupun suku bangsa. Bagi agama-agama Ibrahim, manusia pertama adalah Adam. Bagi suku Dayak Ngaju, nenek moyang manusia adalah Maharaja Banu. Sedangkan bagi suku Minahasa, manusia keturunan dari Toar dan Lumimuut.

Berbagai versi mitos penciptaan berada di wilayah keyakinan yang berada di ranah berbeda dengan sains. Ada yang mempertentangkannya, yang tentu saja takkan pernah ketemu kata sepakat. Mereka yang disebut kelompok Kreasonis, yang percaya pada mitos penciptaan versi agama, takkan pernah seiya-sekata dengan kelompok Evolusionis yang mengagungkan Teori Evolusi Darwin.

Ada yang mengambil jalan mencoba mencocokkan mitos penciptaan versi agama, misalnya, dengan sains. Misalnya yang dilakukan Abdus Shobur Syahin lewat buku Abi Adam, Qishshah al-Khaliqah Baina al-Utshurah wa al-Haqiqah (Kairo, 1998). 

Ia menafsirkan ayat-ayat Alquran tentang penciptaan dan sampai pada kesimpulan Adam adalah abu al-insan, ayah para manusia yang telah matang secara fisik dan psikologis. Ia juga menyatakan Adam dan Hawa berayah dan beribu. 

Orangtua mereka bukan dari al-insan, tetapi evolusi dari al-basyar, makhluk lain. Lantaran tafsirnya berbeda dengan keyakinan umum dalam Islam dan seolah mengakomodasi Teori Evolusi, penulisnya dicap kafir dan murtad.[3]

Jalan tengah lain dicontohkan Hamka. Di buku Kisah tentang Nabi dan Rasul--Jilid I, saat mengisahkan cerita Nabi Adam, Hamka menginsafi, “... ada sementara penyelidikan ahli-ahli yang menyatakan bahwa Nabi Adam bukanlah manusia pertama.”[4]

Katanya lagi, “Letak kepercayaan itu tentu saja lain. Dan ini bukan berarti pula bahwa kita tidak menerima penyelidikan-penyelidikan manusia lain. … biarlah orang terus melakukan penyelidikan. Dan karena penyelidikan itu belum habis-habisnya juga, tidak berarti kita membuang kepercayaan agama.”[5]

Agama dan sains mungkin bukan pada tempatnya dipertentangkan, atau mungkin juga dicocok-cocokkan seolah agama perlu legitimasi sains untuk mendukung kebenarannya. Masalah kepercayaan atau keyakinan berada pada titik tolak yang berbeda dengan sains.

Siapa Manusia Pertama menurut Sains?

Maka, setelah memahami bahwa setiap kepercayaan memiliki mitos penciptaan masing-masing dan manusia pertama yang berbeda-beda namanya, apa yang lantas dikatakan sains?

Mengikuti jalan pikiran Yuval Noah Harari di bab pembuka buku Sapiens, sains hingga saat ini menjelaskan alur waktu penciptaan dimulai sekitar 13,5 miliar tahun lalu saat Ledakan Besar melahirkan zat, energi, waktu, dan ruang. 

Kira-kira 300.000 tahun setelahnya, zat dan energi mulai bergabung menjadi struktur-struktur kompleks, disebut atom, yang kemudian berkombinasi menjadi molekul-molekul. Lantas 3,8 miliar tahun lalu, di suatu planet yang disebut Bumi, molekul-molekul tertentu berpadu membentuk struktur-struktur amat besar dan rumit yang disebut organisme.[6]   

Melompat ke masa evolusi manusia, berkat riset genetika molekuler mutakhir, diperoleh jalan cerita sebagai berikut: sekitar 13 juta tahun lalu, paling tidak dua dari sekian banyak keturunan leluhur bersama kera-manusia berpisah secara garis genetik leluhur mereka. 

Sekurangnya satu dari dua spesies menjadi leluhur gorila dan satu lagi leluhur simpanse-manusia. Sekitar 6-8 juta tahun kemudian, leluhur simpanse-manusia berpisah. Sekurangnya satu spesies menjadi leluhur simpanse modern dan setidaknya satu menjadi leluhur hominid (anggota keluarga manusia).[7]

Dari kronologi itu, disimpulkan bahwa kera Afrika memang bukan nenek moyang manusia, melainkan saudara evolusioner dari leluhur bersama yang berevolusi di jalur masing-masing. Jika dianalogikan sebagai keluarga, simpanse, yang berjarak lebih dekat dengan hominid, adalah saudara kandung, sementara gorila adalah sepupu.[8]

Di antara peneliti, sudah cukup ada kesepakatan empat tahap kunci evolusi manusia sebagaimana diterangkan Richard Leakey.

Pertama, asal-usul keluarga manusia sendiri, sekitar tujuh juta tahun lalu, ketika berkembang suatu spesies mirip kera yang bergerak secara bipedal, atau tegak. Kedua, menyebarnya spesies bipedal itu, suatu proses penyebaran kemampuan menyesuaikan diri (adaptive radiation). 

Antara tujuh dan dua juta tahun lalu, banyak spesies kera bipedal bermunculan, masing-masing beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang sedikit berbeda. Di antara mereka, ada yang satu spesies, yang antara tiga dan dua juta tahun lalu, berkembang dengan ukuran otak lebih besar. 

Pembesaran ukuran otak merupakan ciri ketiga, dan menandai muasal genus Homo, cabang silsilah keluarga manusia yang tumbuh melalui Homo erectus dan Homo sapiens (manusia modern). 

Yang keempat, muasal manusia modern--evolusi manusia seperti kita, yang sepenuhnya, dilengkapi dengan bahasa, kesadaran, imajinasi artistik, dan inovasi teknologi yang tidak ditemukan pada spesies lain di alam.[9]

Seluruh penjelasan di atas tak menjawab siapa manusia pertama. Siapa yang pantas menyandang sebutan manusia pertama menurut sains? Apa manusia pertama adalah leluhur bersama kera dan manusia? Atau leluhur yang terpisah dari simpanse dan dari keturunannya lahir manusia? Atau juga, yang layak disebut manusia pertama adalah nenek moyang manusia modern seperti kita dan bukan jenis hominid lain?

Mencari Homo Sapiens Pertama

Bila kita bersikukuh Homo sapiens pertama adalah “manusia pertama”, bisakah kita menunjuk orang pertama dimaksud, sebagaimana manusia pertama dalam kisah-kisah mitos penciptaan dalam agama (mis. Adam) atau mitos kepunyaan banyak suku bangsa (mis. Toar dan Lumimuut dari cerita rakyat Minahasa)?

Lewat buku The Magic of Reality, Richard Dawkins menggelitik kita dengan bertanya, jadi sebenarnya orang pertama itu siapa?

Ia menjawab, tidak pernah ada yang namanya orang pertama--sebab setiap orang haruslah punya orang tua, dan orang tua itu juga pastilah manusia![10] Katanya lagi, persis seperti tidak ada yang namanya kelinci pertama, buaya pertama, atau capung pertama.

Untuk membuktikan pernyataannya, Dawkins mengajak kita melakukan satu percobaan pikiran sederhana. Carilah foto Anda, lalu ambil foto ayah Anda, dan letakkan di atas foto Anda. Kemudian cari foto ayahnya ayah, kakek Anda. Kemudian di atasnya tempatkan foto ayahnya kakek, alias kakek buyut Anda. Bila tak ketemu fotonya, bayangkan terus foto-foto kakek moyang itu menumpuk.

Hasilnya, catat Dawkins, dari percobaan pikiran itu kita akan menumpuk 185 juta lembar foto menjulang setinggi 4.900 meter ke atas untuk sampai ke kakek moyang ke-185 juta kita. Bila ada fotonya, kakek moyang ke-185 juta adalah seekor ikan. Begitu juga nenek moyang ke-185 juta kita, karena agar kita bisa lahir mereka perlu kawin.[11]  

Bila memiliki semua foto sebanyak 185 juta lembar, kita amati wajah-wajah kakek moyang kita tak banyak menemukan perubahan dari segi fisik selama puluhan ribu tahun. Sampai nenek moyang ke-4000 atau seratus ribu tahun silam baru mulai ada perubahan mencolok, barangkali penebalan tengkorak, terutama sekitar alis. Tetapi tetap saja perubahan itu hanya sedikit. Inilah masa Homo sapiens awal.

Saat kita bertemu nenek moyang ke-50.000, maka akan bertemu sosok yang cukup berbeda, yaitu yang kita sebut Homo Erectus. Ingat, karena berlainan spesies, Homo Erectus tak mungkin bisa kawin dengan Homo Sapiens. Jadi, tak pernah ada Homo Erectus tahu-tahu beranak bayi Homo Sapiens. Dari dua spesies hominid itu, berlangsung evolusi selama sejuta tahun.  

Tetapi jika bersikukuh ingin mengetahui siapa nenek dan kakek moyang pertama manusia modern, kita wajib menengok pada DNA dalam tubuh sendiri. DNA kita mencatat informasi genetik dari generasi terdahulu hingga orang pertama yang melahirkan kita. DNA mitokondria pada perempuan diteruskan utuh dari ibu ke ibu yang ujungnya sumber tunggal muasal semua perempuan di bumi. Perempuan ini kerap disebut Hawa Mitokondria.

Tetapi kata Steve Olson, sebutan itu menyesatkan. Karena berimplikasi seolah ia satu-satunya manusia yang hidup kala itu. Padahal pada kenyataannya ada banyak manusia lain hidup sezaman dengannya. Semua mendapat DNA mitokondria dari perempuan lain (mungkin bukan manusia, tetapi hominid berbeda) yang hidup di zaman itu.

Namun, sejak itu hanya DNA mitokondria Hawa yang bertahan, yang lain musnah. Hal senada juga berlaku pada laki-laki. Anak laki-laki diwarisi kromosom Y oleh ayahnya dan seterusnya. Seluruh kromosom Y semua pria di Bumi berasal dari kromosom seorang pria yang hidup di zaman dulu.[12]

Kapan Hawa mitokondria dan Adam kromosom Y ini lahir? Tidak ada yang tahu tanggal pastinya. Tetapi para peneliti umumnya sepakat seluruh manusia modern berasal dari sekelompok kecil manusia, mungkin berjumlah beberapa ratus orang, yang pernah hidup di Afrika bagian timur dua ratus ribu tahun lalu.

Sekitar 100.000 tahun lalu mereka berjalan keluar Afrika ke Timur Tengah. Lebih dari 60.000 tahun lalu, mereka bergerak di sepanjang India, Asia Tenggara, serta ke Australia. Sekitar 40.000 tahun lampau, ada yang keluar dari Afrika menuju Eropa, dan dari Asia Tenggara ke Asia bagian Timur. Terakhir, lebih dari 10.000 tahun lalu mereka bergerak ke Amerika Utara dan Selatan.

Pada awalnya semua orang di dunia adalah pemburu-pengumpul. Sekitar 13.000 tahun lalu usai zaman es terakhir dunia kelihatan sama. Tidak ada manusia yang lebih kaya atau peradabannya jauh lebih maju dari yang lain. Semua tampak seragam. 

Sampai, seperti diterangkan Jared Diamond dalam Gun, Germs, and Steel, sekelompok orang di wilayah Bulan Sabit Subur atau Asia Barat Daya, kawasan yang mencakup Timur Tengah saat ini, yang berhabitat Mediterania sekitar 8500 SM berpaling memproduksi pangan: mendomestikasi tetumbuhan dan hewan liar serta mengonsumsi ternak dan tanaman budidaya yang dihasilkan.[13]

Dulu, ilmuwan percaya pertanian menyebar dari satu titik awal di Timur Tengah ke empat penjuru dunia. Seiring waktu, kini lebih banyak ilmuwan yang percaya Revolusi Pertanian muncul secara mandiri. Harari menerangkan, orang-orang di Amerika Tengah mendomestikasi jagung dan buncis tanpa tahu apa-apa soal budidaya gandum dan ercis di Timur Tengah.[14]

Entah pengetahuan bertani, berladang, dan membiakkan hewan disebar atau terjadi secara mandiri, yang jelas, sejak itu manusia hidup menetap, melahirkan desa, kota, negara, pemerintahan berikut raja-rajanya, presiden-presidennya hingga saat ini. Dari beberapa ratus orang di Afrika Timur 200.000 tahun lalu, Homo Sapiens beranak pinak hingga berjumlah 7,53 miliar[15] saat ini.

Sampai di sini, kita beralih ke pertanyaan berikut, siapa yang jadi manusia terakhir?

Akhir Semesta, Akhir Kita?

Bicara manusia terakhir, bisa dimulai dengan membicarakan nasib akhir alam semesta berikut isinya, tak terkecuali bumi tempat kita tinggal. Menengok pada agama, kita mengenal konsep kiamat sebagai hari akhir. Agama-agama Ibrahim tak menyebut kapan persisnya kiamat terjadi, tetapi memberi berbagai gambaran pertanda kiamat sudah dekat.

Sains pun  tak ketinggalan memberi prediksi bagaimana alam semesta berakhir. Ilmuwan semula percaya alam semesta akan berkembang terus tanpa batas, namun kini lebih banyak yang percaya pada suatu masa, waktunya sekitar 28 miliar tahun lagi, alam semesta akan berakhir. 

Pertentangan terjadi pada bagaimana akan berakhir: apakah akan runtuh setelah mengembang sedemikian menjauh, mengerut, atau pendinginan dan membeku.[16] 

Kita tak bisa membayangkan bagaimana wujud manusia 28 miliar tahun lagi. Tata Surya kita sendiri mati sekitar 9,5 miliar tahun lagi karena Matahari kehabisan energi. Saat itu pun tak jelas apa kita masih tinggal di bumi atau sudah melanglang buana ke planet di galaksi lain.

Pertanyaan yang lebih penting untuk diajukan sebenarnya adalah apa manusia masih ada saat Matahari berubah jadi bintang merah raksasa yang menelan planet di sekitarnya atau saat alam semesta runtuh miliaran tahun lagi?

Bumi telah menyaksikan banyak spesies lahir, berkembang, dan punah. Dinosaurus pernah menguasai daratan sampai sebuah asteroid menubruk bumi 65 juta tahun lalu. Bukan tak mungkin bencana kosmis macam itu akan terjadi lagi dan kita tak mampu bertahan.

Telah banyak juga yang memprediksi bumi tak lagi layak dihuni karena kerusakan lingkungan yang dibuat manusia. Akibatnya, manusia tak bisa bertahan hidup dan akhirnya punah. Saat Perang Dingin masih berkecamuk, Carl Sagan memperkirakan umat manusia akan binasa karena bencana iklim dan perang nuklir.[17]

Penyebab Kepunahan Neandertal

Bila bencana kosmis dirasa terlalu jauh untuk meramalkan nasib akhir manusia dan kerusakan lingkungan serta perang nuklir merupakan hal yang bisa dihindari (bila kita berkomitmen menjaga ekosistem hayati dan perdamaian di Bumi), untuk mengetahui bagaimana nasib akhir Homo sapiens bisa pula dengan menengok saudara terdekat kita, manusia Neandertal.

Sekitar 150.000 tahun lalu, Homo sapiens atau kita, manusia, masih merupakan makhluk pinggiran. Meminjam ungkapan Yuval Noah Harari, kita “hanya sibuk sendiri di sudutnya di Afrika.”[18] Namun, sekitar 70.000 tahun silam, kita menyebar dari Afrika Timur ke semenanjung Arabia, dan dari sana segera berkeliaran di Erasia.

Ketika itu, kita bukan satu-satunya hominid yang masih tinggal di Bumi. Saat mencapai Timur Tengah dan Eropa, manusia berjumpa dengan Neandertal. Dibanding kita, Neandertal lebih berotot, memiliki otak yang lebih besar, dan beradaptasi dengan lebih baik terhadap wilayah beriklim dingin.

Harari mendedahkan dua teori yang terjadi akibat pertemua Homo sapiens dengan Neandertal. Pertama, Teori Kawin Campur. Sapiens dan Neandertal kawin-mawin dan akhirnya meninggalkan keturunan campuran hingga kini. 

Kedua, Teori Penggantian, Homo sapiens yang datang kemudian tak mungkin kawin karena jurang genetik yang membedakan antar spesies ini. Yang terjadi, Homo sapiens menyingkirkan Neandertal, mungkin dengan kekerasan setaraf genosida. Menurut teori ini, Homo sapiens saat ini murni keturunan manusia yang sama yang hidup 150.000-200.000 tahun lalu.

Untuk beberapa lama, Harari menjelaskan, Teori Penggantian lebih umum diterima. Hingga, pada 2010, ketika kita berhasil memetakan DNA Neandertal dan membandingkannya dengan manusia masa kini. Hasilnya didapati, ternyata 1-4 persen DNA khas manusia di Timur Tengah dan Eropa modern merupakan DNA Neandertal. 

Sementara itu, 6 persen DNA orang-orang Malanesia dan Aborigin modern merupakan DNA Denisova, hominid lain yang hidup sezaman dengan kita dan Neandertal.[19]

Kenyataan di atas tak serta-merta menafikan Teori Penggantian. Sekitar 50.000 tahun lalu, kita, Neandertal, dan Denisova berada di titik persimpangan evolusi. Kita dan mereka nyaris, namun belum benar-benar menjadi spesies yang sepenuhnya terpisah. Kita tak melebur dengan mereka, namun segelintir gen Neandertal atau Denisova yang mujur ikut menumpang, meminjam istilah Harari, “Kereta Ekspres Sapiens.”[20]

Selain segelintir Homo sapiens kawin campur dengan hominid lain, kita juga turut bertanggung jawab pada kepunahan mereka. Kita memiliki kemampuan kognitif dan sosial yang lebih di atas Neandertal. Orang-orang Neandertal yang kalah cerdik makin kesulitan mencukupi kebutuhan makannya. Lama-kelamaan mereka punah. Mungkin ada pula kelompok Neandertal yang di masa lalu ditumpas Homo sapiens hingga tak tersisa.   

Dari Era Manusia ke “Homo Deus”

Sampai di sini, kita bertanya, apa Homo sapiens juga akan bernasib seperti Neandertal, punah oleh jenis hominid lain?

Pertanyaan itu bermasalah karena kita belum menemukan ada tanda-tanda kelahiran hominid lain yang bisa mendorong Homo sapiens ke jurang kepunahan. Kita justru tengah berada di masa geologi baru yang disebut, boleh setuju atau tidak, Antroposen atau era manusia, yakni ketika manusia menguasai dan mengubah wujud planet Bumi.[21]

Di bab terakhir buku Sapiens, Harari membahas sedikit masa depan Homo sapiens. Selama jutaan tahun evolusi makhluk hidup berlangsung lambat. Mutasi genetik hominid tidak berlangsung dalam dalam hitungan puluhan tahun. Dari Homo erectus ke Homo sapiens terpisah jarak sejuta tahun.

Akan tetapi, berkat perkembangan teknologi, manusia kini bisa merekayasa makhluk hidup. Seleksi alam telah digantikan desain cerdas. Kini manusia telah merekayasa biologis, rekayasa siborg (cyborg, makhluk yang memadukan bagian organik dan tidak organik), ataupun rekayasa kehidupan anorganik.[22] 

Di buku berikutnya, Harari membicarakan masa depan manusia satu buku penuh. Tesis utamanya, kita telah sampai pada tahap tak lagi terancam oleh bencana kelaparan, wabah penyakit, dan perang. Kini agenda baru kita adalah mengincar imortalitas (hidup abadi), kebahagiaan, dan keilahian. Kata Harari, dari Homo sapiens kita tengah berusaha meningkatkan manusia menjadi dewa-dewa, dari Homo Sapiens ke Homo Deus.[23]

Kabar baiknya, kita takkan punah seperti Neandertal. Dengan kecerdasan buatan dan internet of things yang kian canggih, manusia di masa depan akan lebih terintegrasi dengan mesin. Tubuh fisik hanya cangkang bisa diganti cangkang lain. Kesadaran bisa hadir di cangkang mana saja. Di titik itu, selayaknya dewa, manusia akan hidup abadi. Mungkin sampai alam semesta berakhir.

Catatan:

[1] Lihat Puji Santosa dan Djamari,”Kajian Historis Komparatif Cerita ‘Batang Garing’” dalam Jurnal Ilmiah Kebudayaan SINTESIS, Volume 9, Nomor 2, Oktober 2015 (PDF).

[2] Ibid.

[3] Lihat M. Faisol Fatawi, “Membongkar Sejarah Penciptaan Manusia dalam Alquran” dalam jurnal Tashwirul Afkar, No. 13, 2002.

[4] Lihat M. Saribi, Hamka Berkisah Tentang Nabi dan Rasul--Jilid 1, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984, hal. 1.

[5] Ibid.

[6] Yuval Noah Harari, Sapiens, terj. Damaring Tyas Wulandari Palar, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, 2017, hal. 3. 

[7] Lihat C. Sri Sutyoko Hermawan, “Merangkai Riwayat Asal-usul Manusia” dimuat lembaran budaya “Bentara”, Kompas, Jumat, 6 September 2002.

[8] Ibid.

[9] Richard Leakey, Asal-usul Manusia (The Origin of Humankind), terj. Andya Primanda & Redaksi KPG, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, cet. 2, 2007,  hal. xvii.

[10] Richard Dawkins, The Magic of Reality (Sihir Realitas), terj. Wendy Hirai, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, 2015, hal. 38.

[11] Ibid, hal. 38-40.

[12] Steve Olson, Mapping Human History: Gen, Ras, dan Asal-usul Manusia, terj. Agung Prihantono, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2004, hal. 42-43.

[13] Lihat Jared Diamond, Gun, Germs, and Steel (Bedil, Kuman, dan Baja), terj. Hendarto Setiadi & Damaring Tyas Wulandari Palar, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, 2013, hal. 127.

[14] Lihat Yuval Noah Harari, Sapiens… hal. 94.

[15] Lihat data penduduk dunia menurut World Bank di tautan ini: https://data.worldbank.org/indicator/SP.POP.TOTL (diakses 19 Maret 2019).

[16] Diskusi soal ini antara lain bisa diperiksa di Victoria Woollaston, "How Will Universe End", dimuat Wired, 10 Oktober 2016 di tautan: https://www.wired.co.uk/article/how-will-universe-end (diakses 19 Maret 2019).

[17] Lihat Carl Sagan, “Nuclear War and Climatic Catastrophe: Some Policy Implications”, Foreign Affairs, edisi musim dingin 1983/1984, di tautan: https://www.foreignaffairs.com/articles/1983-12-01/nuclear-war-and-climatic-catastrophe-some-policy-implications (diakses 19 Maret 2019). 

[18] Yuval Noah Harari, Sapiens… hal. 15.

[19] Ibid, hal. 19.

[20] Ibid.

[21] Diskusi tentang Antropsen bisa dibaca di majalah National Geographic Indonesia edisi Maret 2011. Artikel utama “Era Manusia” bisa dibaca di tautan: https://nationalgeographic.grid.id/read/13278381/era-manusia?page=all (diakses 19 Maret 2019).

[22] Yuval Noah Harari, Sapiens…, hal. 480.

[23] Yuval Noah Harari, Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia, terj. Yanto Musthofa, Pustaka Alvabet, Jakarta, 2018, hal. 23.