Mahasiswa
6 bulan lalu · 121 view · 3 menit baca · Buku 30716_67289.jpg
Dok. Pribadi

Tentang Mahalnya Buku yang Menjerat Pembaca Rakus

Setiap kali saya mengunjungi bazar, saat itu pula saya mengelus dada. Buku-buku yang dipajang banyak dan sesuai selera. Tapi, harga bikin geleng-geleng kepala. Mahal? Tentu. Padahal buku di depan mata cukup membangkitkan selera baca.

Kemarin, saya mengunjungi salah satu bazar buku yang diadakan perpustakaan daerah. Agar dikatakan orang beriman dan berilmu, mengunjungi bazar buku dirasa sebagai kewajiban yang dituntaskan. Meski ketika di tempat cuma lihat-lihat.  

Saya sebenarnya bukan pembaca yang rakus seperti teman-teman pembaca Qureta. Tapi karena tak ingin dikatakan terbelakang. Begitu, juga agar dikatakan keren ketika story WA sudah penuh dengan buku, persis perpustakaan daerah yang konon dikeluhkan karena buku bacaannya tak kunjung ada pembaruan.

Membaca adalah pengayaan wawasan, kosakata sekaligus membuka cakrawala. Buku seperti vitamin bagi tubuh. Jika tubuh ingin sehat, maka makanlah makanan yang bervitamin. Begitu juga jika ingin pintar, maka banyaklah membaca. Perihal pintar karena membaca, pernah disampaikan Bung Hatta.


Karena buku adalah kebutuhan bagi yang ingin pintar sekaligus candu bagi pembaca rakus. Maka harganya yang bikin geleng-geleng kepala bisa membuat kita harus berpikir matang-matang. "Mahal. Beli buku atau saya simpan dulu?" saya bergumam sambil memegang buku "Bumi Manusia" yang harganya Rp100.000. Setelah pertimbangan matang-matang, saya taruh lagi ke tempatnya. Harga memang tak pernah bohong.

Mungkin kaum revolusioner akan beranggapan, mau pintar saja sulitnya minta ampun; kaum nestapa, jangankan beli buku. Untuk makan sehari-hari saja sudah bikin pening kepala. Tak heran jika buku merupakan barang mewah di negeri yang rakyatnya masih jauh dari kata sejahtera.

Hati dan pikiran saya sempat bergejolak. Berada di antara dua pilihan memang sulit. Untuk membeli, butuh uang banyak. Maka perpustakaan daerah tempat alternatif membaca sepuas-puasnya. Meski akhir-akhir ini jam buka sampai pukul 4. Ya, mungkin karena capeknya karyawan perpus, ditambah dengan beban keluarganya masing-masing.

Meminjam? Keharusan. Meski dibatasi jumlah pinjamannya. Puas? Kurang. Tapi cukup untuk dikatakan pemuas dahaga bagi yang tidak begitu rakus. Meminjam tetap saja tak seenak memiliki sendiri. Terlebih lagi, batas pinjamannya yang mempersempit.

Tetap saja membeli buku merupakan keharusan. Saya kira itu kebaikan. Kata Tan Malaka, kalau boleh, baju dikurangi untuk memiliki buku pribadi.

Paling tidak, ada tiga hal yang didapat ketika memiliki buku sendiri: pertama, sebagai aset intelektualitas. Kedua, tanda bahwa kita peduli pada pengetahuan yang hal ini akan jadi cerminan bagi anak cucu kelak. Ketiga, ketika mau menulis, kita sudah mempunyai referensi sendiri. Otomatis, kita bisa menggarisbawahi materi penting di dalamnya.

Tetapi, mahalnya harga buku bisa saja tiga hal di atas sebatas angan-angan. Ya, ujungnya, cari-cari yang lebih murah. Itupun barang bekas yang pinggirnya dimakan rayap dengan kertas yang sudah menguning karena terkena air hujan. Daripada tidak membaca buku, apa boleh buat? Buku dengan harga murah, meski kadangkala huruf-hurufnya hilang.

Sebenarnya tak penting harganya. Yang penting minatnya. Minat membaca, minat minjam buku sampai-sampai tak sempat mengembalikannya. Apa gunanya membeli buku dengan harga mahal tapi akhirnya hanya jadi pajangan? Sama saja, tak mengerti hakikat membeli buku.


Tapi, untuk mendapatkan kualitas buku bacaan yang baik, serta huruf-hurufnya yang tak hilang karena air hujan, membeli buku baru semacam keharusan. Ya, biar jelas juga apa yang ditangkap isi dari buku tersebut. Bagaimana jadinya jika buku yang judulnya "Madilog" dibaca madilov gara-gara satu huruf terakhir hilang.  Satu huruf hilang, makna berceceran.

Mahal harga buku memang berbanding lurus dengan kualitas buku. Tapi, apakah untuk pintar saja harganya tak bisa disentuh semua kalangan? Jika harganya mahal, jangan harap ada peningkatan pada literasi kita. Jangan harap juga rakyat semakin melek.

Mau beli, mahal. Akibatnya, bukan saja banyak kalangan pelajarnya yang sebatas lihat-lihat ada bazar, buku-buku yang dipajang pun terkesan jadi barang mewah. Tentu, hal ini tidak hanya di bazar, tapi juga di toko-toko buku yang harganya kadang lebih mahal.

Ketika mengunjungi bazar kemarin, saya lihat para pelajar yang berkunjung sekadar masuk-keluar dan lihat-lihat. Saya tak tahu pasti penyebabnya. Tapi, memahami dari beberapa harga buku yang menarik cukup mahal. Jadi, tidak heran, mereka cuma lihat-lihat.

Bagi sebagian dari kita, mungkin ketika lihat harga mahal. Sedangkan di gadget sudah banyak pdf-nya. Maka tak ada pilihan kecuali mengeprinnya. Cukup begidik memang, ketika ada peringatan tentang menggandakan karya tanpa izin. Denda dan hukuman tak main-main. Ternyata untuk pintar, harus dihukum dulu? Atau didenda dulu?


Artikel Terkait