Saya begitu terperanjat tatkala beberapa orang ramai-ramai meninggalkan (left) grup WhatsApp (WA) komunitas saya. Saya mencoba scroll ke atas, melihat apa gerangan yang menjadikan teman-teman tersebut meninggalkan grup. Siapa pun memang berhak keluar dari grup yang ia ikuti. Tak terkecuali teman-teman saya itu. Tapi rasa penasaran membuat saya menemukan suatu hal yang menarik.

Ternyata sebab terjadinya hal tersebut bermula dari percakapan seorang teman dengan aroma bercanda menyebut kata “kutang”.  Entah yang menjadi alasan keluar teman-teman saya  tersebut karena ini atau tidak, yang jelas ini merupakan hal yang menarik jika menjadi penyebabnya. Terlebih yang keluar saat itu adalah teman-teman wanita saya.

Baper (bawa perasaan), sebuah istilah yang sering digunakan saat ini untuk menggambarkan seseorang yang sedikit senstif karena suatu hal. Entahlah, gambaran saya tentang baper ini bisa jadi benar atau bisa jadi salah. Yang jelas, penyebutan “kutang” di chat grup itu menjadikan seseorang tak sengaja keluar “baperisme”-nya (sufiks yang saya buat untuk menggambarkan bahwa baper juga sudah menjadi sebuah ideologi yang mungkin terlalu lebay).

Pertama, sebagai seorang laki-laki saya memaklumi tindakan yang diambil oleh teman wanita saya itu ketika membaca kata “kutang” dalam grup. Dan jelas saya tidak akan bisa merasakan hal yang tengah dirasakan oleh teman wanita saya itu.

Tentunya, saya salah jika menghakimi teman wanita saya itu dengan sebutan “gitu aja baper” atau “nggak bisa diajak bercanda dan sebutan lain yang bermacam-macam. Atau saya akan menyalahkan orang yang berkata demikian kepada teman wanita saya itu.

Kedua, sebagai seorang laki-laki saya juga tidak bisa menyalahkan setiap orang untuk berbagi chat dalam sebuah grup karena hak semua pengguna grup adalah sama. Dan kewajiban mereka pun sama. Bagaimanapun semua pengguna grup harus bisa memahami dan menghargai karakter masing-masing saat melakukan percakapan dalam grup.

Jika saya boleh melakukan pemetaan (mapping) terhadap karakteristik pengguna grup, maka saya membaginya menjadi beberapa golongan. Golongan pertama adalah golongan serius atau golongan perfeksionis. Golongan pertama ini biasanya ikut nimbrung di grup jika pembahasannya diskusi atau hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang serius.

Saat pembahasan serius, golongan pertama ini tidak akan melewatkannya sedikit pun. Tapi saat grup membahas hal-hal yang sama sekali tidak jelas, maka dia akan siap membisukan grupnya walaupun pesan di grup tersebut sudah mencapai ratusan atau ribuan.

Golongan kedua adalah golongan informan. Golongan ini biasanya hanya muncul saat dia punya pesan broadcast ataupun hal-hal penting yang harus/perlu dibagikan. Saat tidak ada hal-hal yang perlu dibagikan, maka dia akan bersiap-siap menghilang atau hanya menjadi pembaca gelap jika teman grup yang lain mengirim pesan (notice-nya hanya terbaca tapi tidak ada tanggapan).

Golongan selanjutnya adalah golongan slengean. Yakni golongan yang memiliki kebiasaan bikin ribut dengan candaan dan tawa. Apa pun pesan yang ada di grup, semuanya dijadikan bahan candaan. Tak peduli si pengirim pesan itu sedang serius atau sedang bercanda.

Golongan ini akan sangat bermanfaat jika ia bisa memecahkan keheningan dalam grup. Tapi akan menjengkelkan saat kita sedang seriusnya membutuhkan informasi dari grup yang malah dibalas dengan candaan.

Yang aneh dalam dinamika golongan di WA ini adalah golongan sastrawi. Biasanya ia selalu mendayu-dayu saat menulis pesan di grup. Pesan serius ataupun bercanda bawaannya selalu mendayu-dayu. Setiap saat mengirim quote atau kata mutiara bahkan puisi-puisinya tak akan ketinggalan untuk dibagikan dalam grup.

Golongan yang terakhir dalam dinamika kehidupan di grup WA adalah golongan apatis. Golongan ini setiap saat selalu pasang kuda-kuda untuk membisukan grup. Tak peduli sebanyak apa pun pesan yang menumpuk. Kalaupun ia membaca pesan, ia akan membacanya dengan screening. Apalagi jika pesan tersebut pesan yang panjang.

Golongan-golongan di atas adalah sebagian golongan yang berhasil saya petakan. Bisa jadi ada golongan lain selain golongan-golongan yang saya sebutkan. Namun, intinya adalah setiap golongan harus memberikan respect terhadap golongan yang lain. Bergabung dalam suatu komunitas dalam grup WA berarti harus siap dengan watak dan sifat penghuninya yang heterogen.

Ketiga, seharusnya siapa pun bisa lebih objektif dalam menyikapi setiap kata yang tertulis di pesan grup. Contohnya kutang. Teman wanita saya tersebut mungkin menjadi agak sensitif  dan baper saat membaca kata ini karena ia hanya mengaitkannya dengan satu makna. Kalau istilah kerennya yaitu “Interpretasi Monodimensional” (meminjam istilah Beny Susetyo).

Padahal kalau di daerah saya di Jawa Timur, kutang juga merupakan sebutan untuk kaos singlet (kaos tanpa lengan) pria yang biasanya berwarna putih. Dan hal ini ternyata memang sesuai dengan KBBI. Arti kutang yang pertama memang pakaian dalam untuk wanita. Tapi  jangan dilupakan arti kutang yang lain. Yaitu kaos singlet tanpa lengan untuk pria.

Sebagai seorang intelektual apalagi seorang yang secara khusus mendalami Ilmu Hadis, seharusnya kita lebih bijak menyikapi pemahaman kita tentang suatu hal. Tak terkecuali sebuah kata. Dengan kata-kata yang memang memiliki makna tunggal pun kita tidak boleh serta merta memberikan pandangan brutal. Apalagi dengan kata-kata yang bersayap yang bisa ditafsirkan dengan makna yang bermacam-macam.

Saya mencoba mengklarifikasikan kepada teman-teman yang lain mengenai hal ini (walaupun saya tidak bisa memaksakan pendapat saya). Dan ternyata benar. Pemahaman saya terhadap “kutang” ternyata sesuai dengan yang diinginkan teman saya saat mengirimkan pesan tersebut ke grup WA.

Kejadian kecil semacam ini memang lumrah terjadi. Apalagi dengan hal-hal yang bersinggungan dengan SARA. Maka tidak kaget saat terjadi tawuran, terjadi gaduh antarkampung, antarsuku atau antaragama akibat baperisme terhadap hal-hal yang remeh-temeh seperti ini.

Maka dari itu, jika kita membaca, jadilah pembaca yang cerdas. Jadilah pembaca yang objektif dan bijak. Jangan sampai baper terhadap suatu hal yang kecil dan sebenarnya tak pernah terkirakan berimbas kepada suatu kerusakan yang besar yaitu perpecahan. Bukankah kita sangat hafal sebuah pepatah, bahkan di luar kepala, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”?