…perilaku saling menghargai antara manusia dengan kedua hewan itu, juga sebaliknya.

Dihargai Karena Memenuhi Kebutuhan dan Kemauan

Kucing dan anjing, kedua hewan mamalia ini terindikasi sudah sejak sangat lama familier dengan kehidupan manusia.

Bisa dilihat dari mosaik lukisan kuno ataupun pahatan relief candi peninggalan orang-orang dahulu, yang menggambarkan bagaimana kucing dan anjing hidup bersanding dengan manusia.

Penggambaran bagaimana kedua hewan bergigi dan berkuku tajam tersebut dalam kehidupan sehari-hari manusia, juga mengindikasikan suatu perilaku saling menghargai antara manusia dengan kedua hewan itu, juga sebaliknya.

Rasa saling menghargai, juga menunjukkan bahwa manusia, yang kemauan dan kemampuannya lebih dominan karena tercipta sebagai makhluk yang paling berakal di bumi, mendapatkan apa yang diinginkan juga yang dibutuhkan dari kehadiran kucing ataupun anjing.

Sementara hewan-hewan lain, seperti tikus misalnya, meski hidup berdampingan dengan manusia, maka mereka tak pernah dikisahkan begitu harmonis bersanding dengan manusia.

Malah, mereka, tikus-tikus itu cenderung hanya diburu lalu dimusnahkan, karena mereka itu menjadi hama merugikan dan terbukti sebagai pembawa biang penyakit, yang bahkan pernah menurunkan hingga dua pertiga populasi Eropa pada abad keempat belas, bahkan penyakit akibat kutu yang terbawa pada bulu tikus tersebut pernah menjadi wabah di kawasan Hindia Belanda pada awal abad kedua puluh.

Oleh karenanya tikus itu selalu hidup sembunyi-sembunyi, beraninya keluar malam hari pas para manusia terlelap dalam gelap. Jikalaupun terlihat, maka manusia hanya mampu melihat bayangan hitam, sekelebat.

Sementara kucing dan anjing, lebih mendapat penghargaan dari manusia yang banyak mendapatkan keuntungan atas kehadiran kedua hewan tersebut.



…mereka terindikasi memiliki sifat unik yang membedakannya dengan hewan-hewan lainnya.

Anugerah Berupa Kelebihan dan Kekurangan

Dalam perjalanan sejarahnya, maka kucing dan anjing bisa dipahami memiliki karakter unik yang berbeda. Masing-masing punya kelebihan pun kelemahan.

Bagi anjing, dari sisi kesetiaan terhadap manusia, maka hewan yang suka menjulur-julurkan lidah agar suhu badannya normal ini, lebih terbukti.

Tak hanya setia, anjing juga lebih bisa dilatih untuk membantu kehidupan manusia, seperti berburu, menjaga keamanan lingkungan rumah si manusia yang menjadi tuannya, mendukung kinerja aparat keamanan oleh karenanya ada detasemen K9, membantu peran investigasi karena kemampuannya mencium aroma unik hingga berkilo meter jauhnya, hingga membantu manusia saat melakukan operasi militer, berperang.

Dalam hal agresifitas dan kepatuhan kepada manusia yang dianggap sebagai tuannya, maka anjing memang melebihi kucing.

Sementara kucing, mendapat anugerah sebagai hewan cerdas yang manipulatif. Merupakan karunia tersendiri bagi si kucing yang mampu memikat hati perasaan manusia melalui perubahan binar bola mata yang bisa meluluhlantakkan isi hati manusia, meski kucing tak bisa dilatih kemampuannya sebagaimana si anjing. Bahkan sering kali, kucing itu pemalas.

Dalam hal memenuhi kebutuhan manusia, maka kucing lebih sering sebagai penentram suasana hati, khususnya kucing yang terpelihara di dalam rumah.

Menarik untuk dipelajari ketika si kucing dalam kondisi sebagai hewan liar, bukan peliharaan rumahan, maka mereka terindikasi memiliki sifat unik yang membedakannya dengan hewan-hewan lainnya. Yaitu; perilaku membuang si anak betina yang baru dilahirkan, sementara si anak-anak jantan diajak ikut serta bersama induknya.

Apakah kemudian si anak-anak jantan itu kelak menjadi pejantan bagi si induk? Seperti catatan sejarah perilaku budaya kehidupan bangsa Mesir kuno yang mengijinkan seorang wanita bisa diperlakukan oleh pria yang sama pun berbeda-beda sebagai sang ibu termasuk sebagai sang istri? Masih misteri.

Apapun lah, yang jelas bangsa Mesir kuno termasuk target perbaikan perilaku manusiawi, melalui para utusan-utusanNya, ketika bumi masuk era pencerahan akan makna mengimani suatu Singularitas, KeEsaan, ribuan tahun lalu.



…tak hanya mampu menghipnotis manusia agar selalu mengasihaninya.

Memaknai Kehadiran Si Karismatik dan Si Agresif

Kucing masih punya sikap pamrih. Sementara anjing, tidak. Bahkan, anjing tetap loyal kepada tuannya, ketika dalam kondisi sulit dan tertekan.

Bahkan, kitab suci, surah Kahf, hewan anjing masuk dalam kisah tentang proses keteladanan manusia untuk beriman.

Dalam surah tersebut, dikisahkan si anjing menjaga para tuannya yang tengah lelap atas kehendakNya, selama 300 tahun ditambah 9 tahun, sementara si anjing tetap membentangkan kedua kakinya di mulut gua.

Sementara, kisah tentang kucing, tak ada dalam kitab suci, melainkan riwayat nabi.

Keberadaan kucing peliharaan di dalam rumah, memang selain bisa menghibur si pemilik rumah, juga menebar aura karismatik.

Mungkin karena karunia pada kedua bola mata si kucing, yang tak hanya mampu menghipnotis manusia agar selalu mengasihaninya. Namun, juga memberi peringatan kepada makluk gaib yang tengah singgah pun sekedar melintas. Sehingga rumah pun menjadi relatif aman, dengan cara kucing, yang tak seagresif cara anjing.

Hanya saja, air liur anjing memang terkategori najis, bagi orang muslim. Sehingga wajar apabila keberadaannya kurang bisa diterima, dalam lingkungan yang dominan muslim.

Apa mungkin karena demikian, maka nabi meriwayatkan bahwa kucing tetap punya kelebihan yang bermanfaat bagi manusia, meski tak sepatuh anjing untuk dilatih banyak hal yang menguntungkan (?)

Daripada bolak-balik mencuci badan karena terkena air liur anjing, mending memelihara kucing yang tak hanya lucu menentramkan, namun penuh kharisma dan bisa menjaga keamanan rumah. Apabila lingkungan di dalam pun sekitar rumah aman tanpa najis, maka pintu rizki dan kebaikan pun bakal terbuka lebar bagi penghuninya.

Sementara anjing, lebih low profile, tak keberatan dijadikan sebagai kata makian dalam bentuk langsung yakni; "Anjing!" , maupun diperhalus menjadi "Anjir..." ataupun "Anying...."

Suatu ungkapan makian yang mewakili betapa manusia itu ingin selalu bebas merdeka, tiada sudi tunduk pada manusia setaranya. Tak seperti anjing yang terlalu patuh dan menghamba pada tuannya.