Soal kita. Kamu pasti paham dan mengingat dengan baik soal kita. Seperti sebuah terusan, kita awalnya sempat satu. Saya atau kamu yang memulai, tak usah diingat. Itu tidak terlalu penting. Pokoknya kita. Sekarang, cukup berat. Kita ada di antara.

Kita berada di antara. Di antara pilihan. Di antara keputusan. Di antara pergi, lalu pulang. Di antara Barat dan Timur. Di antara harapan dan keinginan. Di antara masa depan dan sekarang. Di antara kenangan. Juga jangan lupa, ini soal di antara kita dan mereka.

Persis bulan Juli, saya tak lagi di sini. Pergi. Dari kita, ada yang pergi. Tidak terlalu jauh. Tapi, terasa jauh karena menyisakan kenangan. Bagaimanapun, saya sendiri tak lupa bahwa di sini, kita pernah bersepakat soal kita, dan untuk kita. Pernah merajut kita. Dan, hampir mendekati pasti, di antara kita, ada masa depan. Itu ada saat-saat berdua.

Kita memang tidak pernah sepakat untuk menjadi aku dan engkau yang tak saling kenal. Jika itu ada, sulit untuk diterima. Toh, hari-hari kita dibangun atas dasar saling kenal. Waktu itu, di sebuah kedai di kota ini, kita lekas bercerita. Cerita soal ada dan ketersembunyian. Dan sekejab semuanya meluap. Kita seperti tak sabar memulai. Kita pun menjadi satu.

Kita juga tak pernah tahu bahwa orang-orang akan menarik garis di antara kita. Kita 'tak tahu, bahwa suatu waktu, akan ada pembatas agar kita tak berlama-lama dan mengencangkan harapan. Semuanya terjadi tanpa kepastian. Dan, kita, lagi-lagi hanya diam. Diam di antara semua yang terjadi. Meski kita adalah pemainnya, kita tetap mau diarahkan.

Bagaimana sekarang? Saya beberapa kali bertanya pada diri saya sendiri soal aku dan kamu yang terlampau menjelma menjadi kita. Sempat "speechless" saat tengah bersama. "Kok bisa, kita disekap di antara?" Jarak memang selalu topik buruk di antara kita. Iya jarak yang membuat kita berada di antara (between).

Dari kita, kamu atau mungkin aku yang akan pergi. Mereka bilang pulang. Ada yang lain mengatakan sesaat. Kamu sendiri mungkin kadang polos mengatakan bukan pergi atau pulang. Katamu, aku tengah lari. Tak tahu ke mana. Ya, lari setelah kita berada di puncak. Ketika kita sudah menjadi mapan.

Sebelum kita menjadi mapan dan dikalungi memori, saya sempat mendengar kamu bilang: "Kita cocok!" Ya kita. Sekali lagi kita. Jangan sampai lupa. Jika aku nantinya pergi, jangan lupa soal kita. Baik juga kalau semua tentang kita. Kita pernah. Kita selalu. Kita seperti. Dan kita bersama.

Saat aku pergi nanti, saya berharap, kita 'tak terlalu lama 'tuk tak saling sapa. Itu tak ada dalam kamus kita. Saya memang memaku harapan demikian agar tak benar-benar terjadi. Akan tetapi, jika keadaan memaksa, aku harus dan mau tak mau pergi. Kita pun ditinggal dalam spasi. Kita ada di antara.

Sewaktu pertama kali aku mendapat keputusan untuk hijrah dari kita, aku sempat berpikir, mungkin ini tak terlalu lama. Aku terbuai dalam imajinasi. Aku tergeletak dalam lamun. Namun, apa daya, aku selalu patuh. Di luar kita ada tempat dan suasana. Keduanya memengaruhi perjalanan kita. Tempat membuat kita tak nyaman dan suasana membuat kita terburu-buru 'tuk mencicipi.

Di sudut kota ini, semua tempat sudah lumrah dimakan ingatan. Aku tak tahu lagi, tempat mana yang belum tersentuh kita. Di bawa pelupuk mentari menutup mata kita pernah melempar senyum. Di bawah teriknya raja siang, kita pernah mengabadikan momen langka - kamu tahu, itu semua tak mudah dilupa ingatan. Jadi, sebaiknya bagaimana? Haruskan aku atau kamu yang pergi? 

Pertanyaan ini, jujur, tak pernah dirangkai impianku selama kita bersama. Saya harap, ingatanmu juga 'tak pernah mengemas pertanyaan yang sama. Kita memang 'tak saling mengumbar rasa, tapi dari raut wajah dan desiran warna suara yang keluar dari mulutmu, aku bisa menebak: "Kita 'tak mungkin menemui di antara."

Besok, tepat pukul 12.00, aku berangkat dari kota yang kita diami bersama. Aku pergi karena mereka. Aku pergi karena desakan. Aku bukan lari. Aku pergi dengan pamit. Aku 'tak mau kepergianku malah memotong lingkaran yang telah lama melilit kita. Aku usahakn. Aku berusaha agar pergiku membawa pulang. Aku usahakan, pergiku tetap merekatkan kita. Meski jarak membuat kita berada di antara, aku yakin kita lebih kuat dari selebar jarak. 

Sekali lagi, tetap mengencangkan kita. Tetap rajut kita. Tetap sapa kita. Tetap mengabari seputar kita dari seberang mana dan kapan pun. Itulah yang aku harapkan untuk keadaan ini. Itulah yang aku harapkan ketika kita tengah berada di antara. Di antara, tak berarti kita lepas. Di antara justru membuat kita semakin menghampiri sentuh. Itu pasti. Kita di antara untuk mempelebar rasa saling percaya.