Dahulu kala, di suatu hari, di dalam rahim, di mana manusia belum terlahir ke dunia, sebelum harapan menghiasi hari-hari dan matahari: "Mati pernah berjanji pada hidup, bahwa suatu saat ia akan datang kembali untuk menjemput."

Dari berbagai tipu muslihat dunia, kemungkinan acak yang absurd, ketidakpastian yang brutal hingga kepalsuan yang asli, kematian adalah satu-satunya yang nyata dan tidak pernah ingkar janji. Sebab, mati adalah satu-satunya yang pasti dalam realitas yang fana, serba dinamis dan tidak pasti. Sehingga, pada akhirnya, adalah ketidakmungkinan untuk melawan kepastian dari mati.

Dan, di antara lautan kendaraan beroda dua, tiga, empat, enam, delapan, sepuluh, enam belas, dua puluh empat, hingga tak beroda yang menyebabkan kemacetan bahkan ketika lampu merah lalu lintas zaman sedang menyala: "Entah mengapa, aku dapat merasakan kematian akan menjemput kita semua, setiap kali roda-roda berputar dan desing mesin itu bersuara."

Secara filosofis, dan secara tidak langsung, menggambarkan bahwa jarak antara kehidupan dengan kematian adalah sama dengan jarak antara pedal gas dengan rem. Sedekat koma, dengan titik. Dekat sekali. Bahkan yang paling dekat dengan kita.

Memberi kita semua suatu kepastian yang tebal bahwa umur kita tipis. Bahwa pada titik tertentu dalam rentang usia yang memberi aku, kau, dia, mereka dan kita semua pembuluh hasrat untuk bernyawa maupun oksigen untuk bernapas akan selesai, usai, alias padam secara tiba-tiba, siap atau tidak.

Semua yang bernyawa pasti akan mati. Namun perihal "kapan", "di mana", dan "bagaimana" kita akan mati, mungkin kita "sedikit" berkontribusi untuk menentukan. Karena, ini adalah sifat dasar dari alam semesta. Sebab, ada beberapa hal yang dapat kita kendalikan. Sisanya, yang begitu banyak, yang tidak dapat sama sekali kita kendalikan. Dan, rasa-rasanya sudah menjadi tupoksi kita semua untuk menghidupi hidup, selama masih hidup dan mencari makna sebelum semuanya terlambat.

Apabila kita terlambat untuk menemukan makna, sebentar saja, maka kita akan cenderung menjadi seorang yang Fatalis bahkan Nihilis. Menjadi sangat berbahaya, saat kita terlanjur masuk ke dalam jurang nirmakna. Mengapa? Tanyakan saja pada orang-orang yang telah mengakhiri hidupnya sendiri, karena terlampau lelah dengan labirin dunia yang membingungkan.

Namun se-tidak berguna, se-suram, se-sampah, se-feses apapun hidup kita, aku rasa kita harus tetap menerima atau lebih baik lagi mencintainya. Se-brutal apapun takdir menonjok muka kita, bunuh diri bukanlah solusi, katanya Nietzsche. Tidak akan menjawab esensi yang berjelaga setelah tanda tanya, katanya Camus. Ya meskipun "Hell is other people", katanya Sartre, tetapi apabila kita membunuh diri kita sendiri sepertinya akan berakhir di "Hell", sebagaimana epilog versi Samawi, Ardhi dan yang lain sebagainnya..

Mungkin membunuh diri sendiri sudah dianggap sebagai aib, yang sangat memalukan. Berbeda narasi dengan membela, mengorbankan atau membunuh diri sendiri demi sesuatu dan seseorang, yang biasanya dilabeli Jihad, Jibakutai, atau Martir yang terhormat. 

Tapi entahlah, lupakan, lagipula agama sepertinya bukanlah obeng untuk membuka motif baut perihal bunuh diri, yang banyaknya disebabkan oleh kurangnya telinga. Dan satu lagi, suka atau tidak suka, sejatinya, benar atau salah tindakan bunuh diri hanya yang melakukannya, yang tahu.

Waktu terus berdetik dan jantung terus berdetak, hingga pertanyaan itu mencuat lagi memenuhi paru-paru kontemplasi: "Kapan", "Di mana", dan "Bagaimana". Satu yang pasti, yang bisa kita pastikan adalah akan tiba waktunya kita semua tersaruk mati, titik. Meski pada hakikatnya, kita pun tidak akan pernah tahu di mana dan bagaimana kita mati nantinya.

Apakah akan mati muda atau mati tua. Mati sekarat di atas ranjang usang atau mati dengan cepat di atas aspal jalan raya. Mati dalam kesunyian malam tanpa ada yang tahu atau mati dalam tamparan usia yang ditandai dengan berbagai sakit dan penyakit. Bahkan, kita tidak pernah tahu dan dapat memastikan apakah akan meninggalkan jejak yang positif, atau malah mati meninggalkan jejak yang negatif.

Dan kehidupan nampaknya adalah panggung yang paling menentukan kematian. Kehidupan di Bumi, adalah kesempatan untuk mempertunjukan karya seni yang sebanyak-sebanyaknya, semaksimal mungkin sebagai persembahan untuk kematian. Tepatnya sebagai bunga bagi hippocampus, yang dimiliki orang-orang. Juga sebagai pil pahit bagi waktu yang gagal membuat beberapa manusia pudar dan terlupakan.

"Segala dedikasi waktu, ilmu dan cinta yang pernah kita berikan, sepertinya adalah hidangan paling baik untuk keabsurdan dan ketidakpastian dunia."

Salah satu yang pasti adalah fakta bahwa ketika kita mati, satu-satunya tempat untuk kita semua tetap hidup adalah di ingatan orang lain. Atau mungkin lebih tepatnya lagi, di hati orang-orang yang mencintai kita. Dan bagaimanapun kita semua nanti mati, aku harap mereka yang masih hidup mengenang sebagaimana kita semua hidup. Itu lebih baik sepertinya. Dan jujur saja, aku tidak mau mereka mengenang dari caraku mati.

Mungkin saja aku mati dalam kecelakaan dengan kepala yang pecah, mati dengan tubuh yang tidak lengkap, atau dinyatakan mati karena hilang diculik oleh mereka yang menaruh dendam padaku. Pada dasarnya, itu semua hanya beberapa jalan menuju kematian. Namun, aku rasa, akan sangat menyebalkan ketika kita diingat dari cara kita mati.

Tetapi pada faktanya, kita tidak dapat membungkam mulut mereka yang masih hidup. Namun, pada praktiknya kita dapat sedikit mengintervensi mulut mereka agar berkata "baik". Bagaimana? Yaitu dengan cara menghidupi kehidupan beserta kematiannnya.

Seperti pepatah klasik dari Hippocrates,
"Hidup itu singkat, namun seni itu abadi."


Kita, sejatinya, harus menjadikan kematian sebagai kawan, bukan lawan. Menjadikan kematian sebagai pengingat bukan beban. Agar kita bekerja untuk keabadian, sembari mencari makna kehidupan yang begitu ambigu, absurd, serba tanpa bentuk dan kacau.

Dan ya, selama kita masih hidup, hidupi-lah hidup itu. Hidup untuk hari ini, bukan hari esok apalagi masa lalu. Namun apabila kita memang ingin terkenang abadi, maka jadilah berbeda. Jadilah autentik. Agar kesan, pesan dan warna yang pernah kita bahasa-kan, tetap hidup bersama ingatan mereka yang masih hidup. Ya, lagipula hanya warna yang "orisinil" yang dapat abadi.

Terakhir, semoga nanti ketika maut datang menjemput, kita dapat menatap matanya tanpa pertanyaan, tanpa ragu, tanpa rasa takut, karena sekuat dan se-pasti apapun ada sesuatu yang tidak akan mampu ia rebut. Apa itu? Memori dan impresi. Namun pertanyaan yang lebih besar ternyata bukan di mana, kapan dan bagaimana kita mati, tetapi, "Siapa yang datang ke pemakaman kita nanti?"

Akhir kata, semoga semua makhluk berbahagia.